Beranda > Syair > Kemarau Jiwa

Kemarau Jiwa

KEMARAU JIWA

Kering

Daun-daun layu

Gugur gapai bumi

Bunga tak lagi tersenyum

Gersang

Jiwa-jiwa luluh lantak

Lantas terkoyak

Nafas tersendat

Sesak

Sept, 2007

BELENGGU

Tiba-tiba ia muncul

Menggugat takdir

Mengumpat hidup

“oh, jiwa yang tersesat”

kau terperangkap”

kau terjerat

namun aku yang meratap

atas kehinaan yang mereka timpakan

atas luka yang mereka goreskan

benarkah tinta telah mencari makna?

Dan kaupun menjawab

Sehingga timbul luka lebih dalam

Kau menyerah?

Baiklah, aku pasrah.

Maret, 2008

Salah Siapa?

Hanya dalam wacana

Sinyal-sinyal cendikia mampu mengukir

Tajam

Menggeliat disetiap sudut kota

Menjelma pada reklame-reklame tua

Adalah isyarat yang mengharu-biru

Saat rupa menjelma menjadi raja

Sedang jiwa, nafas zaman

Tak jua merengkuh tahta

Terlupakan?

Lepas dalam wacana

Wanita-wanita yang pudar dari pesona

Terseret dilembah nista

Tanpa gundah gulana

Menggadaikan religiusitas

Meruntuhkan peradapan

Salah siapa?

28 Nopember 2007

  1. Juni 14, 2008 pukul 6:54 am | #1

    aku suka gambar paling bawah, pesen 2 (dua), he..he.., jangan pake lama.

    >>Minumnya apa mas?he..he..

  2. Juni 14, 2008 pukul 11:20 am | #2

    bukan salah siapa siapa :D

    >> yang pasti bukan salah mas zoel kok. he..he..untuk mengetahui siapa yang salah, butuh perenungan dan yang tak kalah pasti butuh Instrospeksi diri. (bingung?)

  3. Juni 15, 2008 pukul 3:13 am | #3

    Aku diam di sudut kota itu, sunyi , menunggu seseorang lewat dan melemparkan kata-kata ke tanganku untuk kupegang, tapi tidak ada yg lewat, ah begitu sunyi di sudut kota ini. Tanganku meraba lagi, kosong, masih…

    He…he…he….

    Puisinnya ok baget… Ayo terus menulis puisi…

    Salam hangat dari pinggiran

    >>masih kau tunggu dengan penantian, lama, sampai kakii terasa kesemutan, tak jua muncul penawar luka…
    AKHIRNYA DATANG JUGA!!,
    Sang pembawa kabar gembira, atas sakit yang kau rasakan.

    nich Obat balsem…penawar kesemutan, encok, dan pegelinu. MAu..?
    kasih dah…..
    he..he..

    salam silaturahmi dari……pojok!!!

  4. Juni 16, 2008 pukul 7:18 am | #4

    puisinya keren banget..
    itu pasti tentang sepatu baru ya???

    whahaha… :lol:
    udah mulai ga connect

    >>cepetan di connectkan,
    sbelom aliran syarafnya benar-benar putus.
    he..he…

  5. Juni 16, 2008 pukul 12:32 pm | #5

    Salam
    maafkan, sungguh ku tak punya kuasa, hingga hanya ujar dan kata yang ku bisa :)

    >>meskipun hanya lewat setangkai ujar dan kata, namun tersimpan keistimewaan yang besar yang mampu melesatkan seorang hamba ke tanah Firdaushy (jalinan silaturahmi yang senantiasa terpaut).Insyaallah

  6. Juni 16, 2008 pukul 1:34 pm | #6

    Puisi2 yang puya ruh
    amat kuat :)

  7. Juni 16, 2008 pukul 9:30 pm | #7

    salahnya pak polisi
    *ditimpuk wajan

    >>ditimpuk wajan? (bingung)

  8. Juni 17, 2008 pukul 5:41 am | #8

    menjelma pada reklame??
    hmmm..
    apa nih yah??
    :D

    >>Background: critical for vision, mission and situation in our university
    #intelektualitas (sebuah visi tuk mencerdaskan manusia) yang tak jua mampu direalisasikan sehingga hanya tampak pada sebuah wacana belaka (dlm reklame).

  9. Juni 17, 2008 pukul 9:09 am | #9

    aku ga pinter bikin puisi… jadi ngiri deh ma mas ahsin…
    aku juga ga pinter memaknai puisi, jadi ngiri juga ma yang pada bisa memaknai…
    dasar aku tukang ngiri… :(
    maaf, ya, aku tukang ngiri…

    >>gak apa-apa, asal ngirinya mampu menjadi pelecut semangat tuk berusaha dan yakin bahwa semua memiliki kesempatan yang sama untuk bisa melakukan apa yang orang lain bisa.

  10. Juni 18, 2008 pukul 11:09 am | #10

    Apik tenan mas puisinya …. kapan2 saya di ajarin ya?
    Terima kasih sudah mampir …

    >>terimakasih juga atas kunjungan baliknya
    salam kenal

  11. Juni 19, 2008 pukul 1:19 am | #11

    Hmm .. tiga judul karya sastra diatas jika dijadikan satu kalimat malah seru tuh. Kemarau jiwa membelenggu, salah siapa ?

    Saya jadi ingat karya sastra yang disebut dengan Gurindam .. dan yang paling terkenal itu Gurindam Dua belas … mungkin ini bisa disebut Gurindam Tiga hehehe :mrgreen:
    *ngasal banget ya*

    Sepertinya koleksi sastra mu banyak ya ? ada rencana dibukukan .. karyamu kalo saya lihat contoh diatas, lebih banyak memilih kalimat-kalimat yang pendek. Sepertinya dirimu ga ingin bertele-tele dan langsung masuk pada esensi yang ingin disampaikan.
    *sok sastrawan mode : OFF*

    >>waduh, jadi malu nich, dikritisi oleh pakar sastra, he..he..
    saya rasa puisinya biasa-biasa saja. mana ada yang mau nerbitkan.
    tapi jika sampean punya kenalan penerbit yang merasa iba n kasihan melihat saya, sehingga mau menerbitkannya. kayaknya boleh juga. he..he…

  12. Juni 19, 2008 pukul 1:57 am | #12

    Air..
    aku mau air
    aku mau hujan
    aku mau kesejukan
    aku mau embun
    berikan aku embun
    agar ada secercah sinar
    yang mengalir dari jiwa

    >>mau air tawar atau air…..?he..he..
    Insyaallah Allah akan membagikan air itu pada setiap hamba yang bertakwa

  13. Juni 19, 2008 pukul 3:02 am | #13

    Dan bumipun kering … dan sang musafir pun mati kehausan … dan kita shalat minta hujan yah, jangan lupa :)

    >>insyaallah, tapi minta hujannya gak usah banyak-banyak ya…
    takut solo banjir lagi. he..he…

  14. Juni 19, 2008 pukul 3:30 am | #14

    sesungguhnya ku hadir..
    karna inginku mencari makna
    kata tiada
    hingga kapan masanya tiba ???

    puisinya bagus banget kang !!!!

    >>Insyaallah, makna itu akan hadir menyapa anda
    sabar ya mas……
    terima kasih atas kunjungannya

  15. Juni 19, 2008 pukul 8:22 am | #15

    minta ijin mo ngelink postingan ini…
    boleh ya?
    (“boleh,” kata mas ahsin :) )

    >> (^_^)silahkan…. mudah ditebakkah?

  1. Juni 20, 2008 pukul 7:16 am | #1
  2. November 4, 2009 pukul 9:51 am | #2
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.