Beranda > Syair > Ia Bersandar Dalam Tengadah

Ia Bersandar Dalam Tengadah

Ia Bersandar Dalam Tengadah

Wajah-wajah sayu itu…

duduk tengadah di gerbang-gerbang utama

terdiam ringkih dalam balutan usia yang mulai menua

mereka….

mempertahankan setiap aliran nafas

dengan bergantung pada tangan-tangan derma

saat tangan-tangan itu terus bersambut

di atas tangan-tangan mereka

maka tarikan nafas itupun sejenak mampu bertahan

dengan kehendak-Nya

namun, saat kosong dalam tengadahnya

ia pun tak berdaya atas segalanya

pasrah…..

10 Agustus 2008

Categories: Syair Tag:, , , ,
  1. Agustus 19, 2008 pukul 8:07 am | #1

    tetapi hidup terus berjalan…..

    >>Dan biarkan ia terus berjalan, mengikuti aliran air sungai.

  2. Agustus 19, 2008 pukul 8:57 am | #2

    semoga kehidupan ini lebih bermanfaat….

    >>Amin..ya Robbal ‘alamin.

  3. Agustus 19, 2008 pukul 4:29 pm | #3

    antum sering merangkai kata akhi Muslim…

    teruskan ya!

    Tapi jangan lupa menuntut ilmu juga, ngaji kepada para asatidz yang berilmu. semoga kita diberikan hidayah-Nya selalu.

    >>Insyaallah Akh, do’anya agar diri ini senantiasa dilapangkan oleh Allah tuk semangat menuntut ilmu.

  4. Agustus 20, 2008 pukul 5:16 am | #4

    subhanallah !!!
    umur boleh terus lanjut tapi semangat tetep berkobar !!

    >>So, keep your spirit guys!!!
    bukan begitu?

  5. Agustus 20, 2008 pukul 8:56 am | #5

    hidup yang sekali ini harus bermanfaat.

    >>Yup, setuju. hidup ini kudu diisi dengan sesuatu yang bermanfaat

  6. Agustus 20, 2008 pukul 11:34 am | #6

    Ketika umat manusia berbondong-bondong mencari cinta ILLAHI..sesungguhnya di jiwa-jiwa yang menahan lapar , ditangan-tangan yang mengadah..cinta ALLAH hadir dan bersemayam.

    >>Sungguh beruntung mereka yang didalam hati mereka, cinta Allah senantiasa hadir dan bersemayam.
    semoga kita salah satunya.

  7. Agustus 20, 2008 pukul 12:33 pm | #7

    Subhanallah

    dalam

    >>Apanya yang dalem mas Achoey?he..he…
    biasa saja kok mas. malah coretan sampean yang saya kira benar-benar dalam dan berisi.

  8. Agustus 21, 2008 pukul 2:39 am | #8

    assalam…

    kenapa aku gak bisa bikin puisi yang bagus yah??
    :)

    >>jangan bilang tidak bisa mas, cukup katakan “belum bisa”. karena untuk bisa itu masih terbuka lebar, jika kita terus berusaha dan sabar.
    tapi saya yakin kok sebenarnya mas Yakhanu bisa. hanya mungkin belum mau mencoba saja.

  9. Agustus 22, 2008 pukul 8:24 am | #9

    semoga kita adalah tangan-tangan yang berada di atasnya. amiin

    >>Amin, Insyaallah. dan kita ikhlas karenaNya.

  10. Agustus 22, 2008 pukul 8:41 am | #10

    pasrah..?
    hidup penuh perjuangan
    rencanakanlah hari ini untuk esok
    janganlah bersembunyi dalam bayangan
    tampillah dengan gagah berani dan jangan kapok
    salam.

  11. Agustus 22, 2008 pukul 10:14 am | #11

    kadang apa yang kita anggap penting ternyata hanya hal-hal kecil

    kadang kita kekanak-kanakan
    saat mengatakan kita orang2 dewasa

  12. Agustus 22, 2008 pukul 1:35 pm | #12

    Salam
    Baiknya seorang muslim mencintai kematian layaknya orang kafir mencintai kehidupan *Oh bisakah? *

  13. Agustus 23, 2008 pukul 10:38 am | #13

    Nice poetry!

    Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat pr pengembara.
    Hidup ini adalah perjuangan.
    Tiada masa tuk berpangku tangan.

  14. Agustus 25, 2008 pukul 7:00 pm | #14

    yakinlah
    ketidak berdayaanmu adalah
    cara berdekatan dengan penciptamu
    karena pasti
    tengadahmu
    adalah keterpaksaan yang engkaupun tak harapkan

    >>Subhanallah….
    tiada ku bisa berkata-kata yang begitu menyejukkan seperti yang bapak ungkapkan.
    semoga Allah mengampuni dosa-dosa ini.

  1. Belum ada trackback.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.