Padamu buku kecilku Kutorehkan kisahku Pada tiap lembar yang tergores cerita Malam ini kembali ku baca Dalam sujud sunyiku Impuls-impuls syarafku berpacu Menembus dinding-dinding waktu Membuka catatan sejarah pilu Tempo dulu
Padamu buku kecilku Kutorehkan kisahku Pada tiap lembar yang tergores cerita Malam ini kembali ku baca Dalam sujud sunyiku Impuls-impuls syarafku berpacu Menembus dinding-dinding waktu Membuka catatan sejarah pilu Tempo dulu
………………………….. Seratus tahun dihadapan, memulai langkahnya manusia mulai hilang moral kemudian pudarkan cinta, setelah itu akalpun ikut lenyap Seratus tahun kedepan manusia kembali purba peradapan tak lagi mengenal mulia angkara murka semakin mengganas mereka kembali menjadi binatang buas buram antara lawan atau kawan Seratus tahun menjelang meski terselubung dalam misteri, Saussure ajarkan tanda-tanda manusia binasa oleh alam ataukah alam binasakan manusia? tunggu suratan takdir dari-Nya 20 Januari 2010
MEREKA BERKATA TENTANG NEGERIKU kata orang, negeriku dulu tanah subur menyimpan takjub membentuk panorama hayati surga khayali para penyair maknawi objek anugrah penari-penari kanvas memunculkan romansa cinta sepasang pipit tua memadu cinta
Ia Bersandar Dalam Tengadah Wajah-wajah sayu itu… duduk tengadah di gerbang-gerbang utama terdiam ringkih dalam balutan usia yang mulai menua mereka…. mempertahankan setiap aliran nafas dengan bergantung pada tangan-tangan derma saat tangan-tangan itu terus bersambut di atas tangan-tangan mereka maka tarikan nafas itupun sejenak mampu bertahan dengan kehendak-Nya namun, saat kosong dalam tengadahnya ia pun [...]
SAAT MATA TAK MAMPU BERSAKSI mata itu tak mampu lagi bersaksi sandarkan hakim dunia, namun palu menyuap menjadi pengadil hilang nurani “siapa penyelubung keadilanku?” maka, tergeletak layu tubuh itu peroleh putusan menyesakkan: tak rela
KEMARAU JIWA Kering Daun-daun layu Gugur gapai bumi Bunga tak lagi tersenyum Gersang