Ayat-Ayat Cinta: 10 Hari untuk 1,7 Juta Penonton

Standar

Ayat-Ayat Cinta: 10 Hari untuk 1,7 Juta Penonton 

ayat.jpgfedi-nuril.jpgAkhirnya pertanyaan seputar apakah film ayat-ayat cinta akan sukses, terjawab sudah. Sejak diputar di bioskop 28 Februari silam, kabarnya film ini mampu menarik perhatian jutaan penonton di seluruh Indonesia. Hanya dalam kurun waktu 10 hari, film ini telah memperoleh jumlah penonton sebanyak 1,7 juta penonton. Sungguh pencapaian yang fantastis, belum ada film Indonesia sebelumnya yang mampu meraih hal serupa. Apalagi untuk film romantisme Islami. Film ini mampu mematahkan dominasi film-film bergender horor yang sempat booming dalam tiga tahun terakhir. Terlepas dari pro dan kontra serta kecewa dan tidak kecewa. Film ayat-ayat cinta telah membawa nuansa baru bagi dunia perfilman Indonesia. Film romantisme yang bernuansa islami dengan cerita cinta yang menggugah, ternyata diminati oleh masyarakat Indonesia, dan mendapat tempat tersendiri dihati masyarakat. Tak seperti kisah cinta anak muda sebelumnya yang hanya menjual nafsu dan romantisme kacangan, ayat-ayat cinta datang dengan cerita cinta yang penuh makna dan mengandung nasihat yang begitu indah sehingga mampu membuat kita termotivasi tuk memiliki akhlak seperti si Fahri serta memperoleh pernikahan yang barokah sesuai nilai-nilai Islam. Jika biasanya film-film bioskop dipadati oleh kawula muda pencinta film. Maka film AAC mampu menyedot para pemirsa dari berbagai kalangan, tak hanya kaum muda tapi juga orang tua, termasuk ibu-ibu pengajian dan pejabat tinggi, yang sebenarnya tidak terlalu suka menonton film di bioskop.

Jika membandingkan film ini dengan novel adaptasinya tentu saja tidaklah akan sepenuhnya sama. Ada bagian tertentu yang dihilangkan, demikian pula film ini tak terlepas dari penambahan-panambahan yag cukup unik dan membawa nuansa baru bagi film ini. Walau pada akhirnya para penggemar novel AAC banyak yang kecewa lantaran film ini hanya mengedepankan sisi romantismenya saja. Sedangkan ajaran agama yang begitu banyak di dapat di novel tidak banyak kita jumpai dalam filmnya. Hal ini memang sedikit mengecewakan. Sehingga terkesan film ini tidak sungguh-sungguh dengan tujuan awal pembuatannya, mungkinkah mereka hanya mencari keuntungan materi semata?. Hal ini diperparah lagi dengan pengambilan latarnya yang tidak sesuai dengan yang ada pada novel. Seperti yang pernah saya bahas dalam artikel sebelumnya. Tentulah tidak mudah menggambarkan nuansa Mesir didaerah yang memang bukan daerah Mesir. Jika saudara sering menonton film-film India zaman dahulu, maka akan saudara dapati kemiripan tempat itu dengan yang ada pada Ayat-ayat cinta.. Selain itu dalam percakapan antar tokohnya pun terlalu sedikit dalam penggunaan bahasa arabnya. Sehingga kesan film ini bercerita di negeri Mesir, terasa kurang kuat.

Tetapi  ada bagian yang menarik disini, yaitu pada bagian yang mengulas seputar kehidupan poligami si Fahri. Dalam film ini diceritakan bagaimana Fahri berusaha mengakrabkan Aisya dengan Maria, tentunya tetap dengan langkah-langkah yang sesuatu dengan ajaran agama. Dijelaskan pula sikap Fahri dalam menerapkan prinsip keadilan terhadap kedua istrinya. Tentu saja hal ini tidak mudah, sempat terjadi ketegangan antara Fahri dengan Aisya karena kecemburuan Aisya. Sampai pada detik-detik terakhir kematian maria saat melaksanakan sholat bersama Fahri dan Aisya. Bagian ini tidak akan kita jumpai dalam novel AACnya Habiburrahman El Syirazy. Seperti yang saya sampaikan diawal bahwa film ini memang tidak sama persis dengan novel adaptasinya.

Meski film Ayat-ayat meraih kesuksesan, ternyata masih ada satu hal yang membuat para aktor, sutradara dan pemilik rumah produksi berkali-kali mesti menarik nafas dalam-dalam.. Apa kira? Ya, lagi-lagi ulah para pembajak. Jika sebelumnya novel AAC yang mengalami pembajakan, kini giliran filmnya yang harus mengalami nasib sama. Sebelum diputar serentak di bioskop di seluruh Indonesia. Ternyata film ini telah bisa dinikmati oleh masyarakat lewat internet yang dapat di download secara gratis. Hal ini tentu membuat berang para seniman yang terlibat dalam penggarapan film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini. Karena jerih payah mereka seolah tidak dihargai, demikian kata salah seorang artis yang terlibat dalam film tersebut.

Yach, setiap langkah pastilah mengundang bermacam-macam ujian dan cobaan. Namun disinilah manisnya sebuah usaha. Yup, semoga dengan suksesnya film AAC ini bisa mempengaruhi para sineas muda Indonesia untuk ikut serta membuat jenis film yang serupa. Yaitu film yang mampu memberikan pencerahan dan kesan mendalam dihati masyarakat dan mampu mengubah perilaku mereka sehingga masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang besar dengan akhlak yang besar pula. Amin

  

One thought on “Ayat-Ayat Cinta: 10 Hari untuk 1,7 Juta Penonton

  1. ini salah satu resensi ayat-ayat cinta yang lumayan menyejukkan.
    iya, semoga dengan larisnya film ini di pasaran, film maker di Indonesia beralih dari genre horror yang gak jelas itu dan membuat film-film sejenis ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s