Kontroversi di Balik Film Fitna

Standar

Kontroversi di balik Film Fitna

images1.jpg Banyaknya pemberitaan tentang film pendek yang berjudul “FITNA”, yang katanya berisi adegan adegan yang melecehkan umat islam dan al qur’an, mau tidak mau membuat saya penasaran untuk mengetahui isi film berdurasi 16 menit itu. Kabarnya film ini telah beredar luas di internet. Nah, berbekal informasi itu saya berniat tuk pergi ke warnet mencari video film itu. Tapi ketika saya membuka situs yang berkaitan dengan download video film fitna, videonya sudah tidak dapat di download lagi alias di blockir.

Akhirnya saya mencari artikel tentang fitna dengan harapan mengetahui ringkasan isi film itu. Nah, saat mencari menggunakan search engine akhirnya muncul beberapa judul artikel lengkap dengan sumbernya.

Film yang berdurasi sekitar 17 menit itu secara umum menggambarkan penyerangan teroris yang terjadi di New York dan Madrid yang kemudian dihubungkan dengan ayat Al-Quran

Dan dibawah ini adalah hasil pencarian dari search engine di google.

Rangkaian adegan film dibuka dengan gambar pesawat yang menghantam menara kembar WTC pada 11 September 2001 silam dengan latar suara seseorang dari ujung telepon yang melaporkan keadaan bahaya.

Adegan selanjutnya adalah cuplikan gambar korban tewas dalam peristiwa pemboman kereta bawah tanah di Madrid pada tahun 2004.

Wilders menampilkan potongan ayat sebuah surat dalam Al-Quran yang kemudian diterjemahkan sebagai dasar keyakinan bagi orang Islam untuk melakukan ‘teror terhadap musuh Allah’. Pemaparan ini menjadi bagian film dari menit kedua hingga menit kesepuluh.

Dalam Film Fitna juga dimunculkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW dengan surban berbentuk bom di kepala, bersumber dari kartun Jyllands-Posten. Setelah beberapa detik disugestikan bahwa bom itu meledak. ( Hidayatullah.com }

Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki moon ikut mengutuk terhadap beredarnya film tersebut. “ Saya mengutuk keras penayangan film Geert Wilder yang sangat ofensif anti-islam.” Kata Ban. Menurutnya kebebasan bukalah untuk menyerang dan menumbuhkan kebencian.

Protes keras juga datang dari OKI, “ film itu adalah perlakuan diskriminasi yang disengaja terhadap kaum muslim untuk menimbulkan kebencian dan usaha penistaan agama yang semata-mata bertujuan memprovokasi permusuhan” kata Sekjen OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu.

Sebuah jajak pendapat dipublikasikan Nipo Polling Institute menunjukkan hampir sepertiga warga Belanda telah menonton film itu secara menyeluruh atau sebagian saja. Mereka mengetahui takut akan ada tindakan balas dendam setelah tayangan film itu. ( Tempo, Minggu 30 Maret 2008 )

Tapi berbeda dengan Wilders. Pembuat film ini justru dengan enteng mengatakan, “Banyak orang mungkin tidak tahu bahwa (terorisme, red) berasal dari Al-Quran. Bahwa Al-Quran mengandung ayat-ayat yang menggunakan istilah torhibu (terorisme). Untungnya masa kini tidak ada lagi orang-orang yang mencari kebenaran di Alkitab atau Taurat untuk membenarkan tindakan yang sangat keji. Tapi ini masih terjadi dengan Al-Quran dan Islam. Dan saya mau menunjukkan: ini bukan buku yang sekedar tebal saja, tapi semuanya berasal dari buku yang mengerikan itu,” kutipnya.

Selain memuat fragmen serangan teroris di Amerika Serikat, Madrid dan London. Fitna juga memuat fragmen-fragmen wawancara dengan mendiang sineas Belanda Theo van Gogh. Fragmen-fragmen tersebut ditayangkan silih berganti dengan terjemahan ayat-ayat Quran.

Fitna juga menayangkan halaman depan pelbagai koran mengenai ancaman terhadap Ayaan Hirsi Ali dan mengutip khotbah imam-imam ortodoks. Wilders juga menunjukkan bahwa jumlah orang Msulim di Belanda meningkat dari 54 menjadi 944 ribu seratus tahun terakhir. Film Fitna ini diiringi musik klasik dan suara-suara fragmen.

Akhir film menunjukkan Quran yang halamannya dipegang oleh tangan seseorang. Kemudian terdengar suara kertas yang disobek. Dalam teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dijelaskan bahwa suara itu tadi adalah halaman buku telepon yang disobek. Fitna diakhiri dengan pernyataan tertulis. Di situ Wilders mengatakan bukan dialah yang harus menyobek ayat-ayat Quran yang penuh kebencian, namun orang Muslim sendirilah yang harus melakukannya. Menurut pemimpin PVV ini Islam ingin berkuasa dan hendak memusnahkan budaya barat. Tahun 1945 Nazi dikalahkan, tahun 1989 komunisme di Eropa ditaklukkan dan kini, demikian Wilders, saatnya mengalahkan ideologi Islam.

Reaksi Wilders

Geert Widers, pemimpin partai untuk Kebebasan, PVV, menyebut film Fitna buatannya itu ‘film yang necis’. Kendati demikian ia dapat memahami orang-orang Muslim yang tidak menyambutnya dengan hangat, tapi Wilders menegaskan semua itu sejalan dengan fakta. Film Fitna menurutnya sama sekali tidak melanggar undang-undang. Menurutnya pembuat film ini tidak akan pernah bisa dinyatakan bertanggungjawab atas pecahnya kerusuhan atau boikot. Kendati demikian Wilders berharap kerusuhan tidak akan pecah. Wilders selanjutnya mengatakan filmnya ini tidak dimaksudkan memicu kerusuhan. Menurut pemimpin PVV fragmen-fragmen film itu terutama dimaksudkan menunjukkan bahwa Al-quran dan Islam mengandung bahaya. Wilders berharap Fitna dapat memancing diskusi mengenai sisi negatif Islam di Belanda dan di luar negeri. Ia secara eksplisit mengundang kalangan Muslim turut serta dalam diskusi tersebut.

Fitna

Meski belum ada orang yang nonton film Fitna, namun Geert Wilders sudah menyatakan bahwa filmnya akan membuktikan al Qur’an adalah buku fasis. Dalam wawancara dengan koran pagi Belanda, de Volkskrant, ia menyatakan yang menjadi masalah adalah Islam, bukan orang Muslim. Namun ia juga memperingatkan dunia barat bahwa Fitna bertujuan menyadarkan dunia barat yang menurutnya sedang menyerahkan kebebasannya kepada Islam tanpa membela diri.

Lalu apa gerangan yang terjadi dengan Wilders, mengapa ia begitu marah terhadap Islam? Acap kali hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan historis. Misalnya kedatangan warga Muslim asal Maroko dan Turki mengubah masyarakat Belanda menjadi masyarakat multikultural. Perubahan yang bisa menjengkelkan orang Belanda juga yang dikenal sebagai toleran.

Asimilasi

Terutama sejak kejadian 11 September 2001, integrasi minoritas Muslim menjadi topik emosional di Belanda. Geert Wilders dengan partainya, Partij voor de Vrijheid (Partai untuk Kebebasan) menjadi juru bicara mereka yang paling ekstrim dalam masalah integrasi ini. Mereka beranggapan, budaya Islam menjurus pada kekerasan dan bertentangan dengan demokrasi. Wilders berpendapat, migrasi Muslim harus disetop. Menurutnya, Muslim yang sudah berada di Belanda harus meninggalkan sebagian budaya mereka dan berasimilasi dengan budaya Belanda.

Geert Wilders menarik pengikut yang jumlahnya kecil saja, namun terus bertambah. Pada pemilu 2006 ia mendapat 6% suara, dan dengan hasil ini menduduki sembilan dari ke 150 kursi de Tweede Kamer, parlemen Belanda. Sebenarnya bukan jumlah ini yang menarik perhatian umum, namun penampilannya yang provokatif yang terus-terusan masuk media massa Belanda.

Kebebasan Pendapat

Jelas pemerintah Belanda mengkhawatirkan dampak filmnya Geert Wilders. Pemerintah masih ingat apa yang terjadi dalam dunia Islam setelah publikasi karikatur anti Muslim di koran Denmark. Menteri luar negeri Belanda, Maxime Verhagen, berupaya menjelaskan bahwa isi film Geert Wilders, bukan pendapat pemerintah, namun Wilders berhak membikin film ini berdasarkan kebebasan berpendapat. Tentu saja ini akan berubah kalau hakim memutuskan sesuatu yang lain.

Orang Belanda bangga dengan kebebasan demokratis mereka, mereka menyelesaikan perselisihan lewat argumentasi dan tidak saling pukul. Sikap bangga ini bisa diungkapkan dalam satu kutipan filsuf aliran pencerahan Prancis Voltaire: “Apa yang Anda katakan saya tolak, namun hak Anda untuk mengutarakannya akan saya bela sampai mati.”

Wlilders berhasil memicu diskusi di Belanda, tidak ada hari tanpa berita tentang anggota parlemen ini atau dari mereka yang mengomentari pendapatnya. Banyak orang Belanda menentang pendapatnya. Mereka berpendapat Geert Wilders memojokkan orang Muslim dan dengan demikian mempersulit integrasi mereka. Namun ada juga yang tidak setuju dengan Wilders, tapi toh menganggap ia menyumbang banyak dalam diskusi antara orang Belanda dengan pendatang Muslim, dan dengan demikian bisa menyelesaikan perbedaan pendapat mereka.

Film khayalan

Sampai sekarang warga Muslim belum banyak yang ikut diskusi ini. Namun film yang masih harus ditayangkan karya Wilders ini mendorong mereka untuk mencari jawaban yang bisa dilontarkan kalau film ini benar-benar keluar. Organisasi Maroko di Belanda sudah mengumumkan akan membuka pintu mesjid-mesjid Maroko pada hari film ini ditayangkan. Pemimpin mereka Mohammad Rabbae menyatakan: “Kalau film itu keluar kami harus tenang, kalau kami marah atau sampai menggunakan kekerasan maka kami melakukan persis apa yang dituduhkan tuan Wilders pada kami”.

( Source : Radio Netherlands Worldwide )

Di http://www.ranesi.nl.com

 

One thought on “Kontroversi di Balik Film Fitna

  1. sepertinya keberadaan film tsb juga bisa memicu orang2 sana untuk mengenal lebih dekat tentang islam. dan ucapan muhammad rabbae benar. jangan sampai terbawa esmosi yg bakal merusak citra islam itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s