KETENTUAN SELEMBAR KERTAS

Standar

KETENTUAN SELEMBAR KERTAS

Sebuah kalender duduk kecil berdiri membisu diatas meja belajarku, disampingnya, buku-buku pelajaran membentuk barisan memanjang rapi. Mata kecilku menangkap sebuah angka yang terlingkar dalam tinta merah, sembilan belas diantara rentetan angka-angka tertanggal, tepat dibawahnya beberapa rangkai kata membentuk sebuah kalimat yang berbunyi “pengambilan nilai ujian” tanggal 19 juni 2006 dan itu berarti…..

Oh my God!” aku terperanjat kaget, dengan cepat tangan kananku menjangkau handphone yang tak terlampau jauh dari tempat dudukku. Layar itu memberi kepastian atas angka-angka yang ia tampilkan, 18 Juni 2006. Hari dimana sebuah ketentuan akan mengantarkanku pada sebuah keberhasilan atau malah sebaliknya, kegagalan. Besok, ya, besok aku akan mengetahuinya, apakah aku akan lulus yang berarti aku telah selesai menempuh pendidikan SMA atau malah sebaliknya sehingga aku harus belajar bersama adik kelas tahun depan dengan materi yang sama dan guru yang membosankan! satu tahun lagi.

“Tidak. aku pasti lulus!”

—– —–

“Perasaan baru kemarin ujian selesai”

Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menghambat laju jantungku yang tiba-tiba berdetak kencang, terdengar jelas. Aku berusaha tenang, namun angka itu seolah menerorku, aku benar-benar gelisah, pikiranku tak karuan. Aku sangat takut, tidak hanya pada hasil ujian tetapi juga pada orang tuaku. Aku tak mampu membayangkan bagaimana nasibku nanti jika ternyata aku tidak lulus. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana marahnya orang tuaku nanti jika ternyata, anak satu-satunya ini, gagal dalam pendidikannya. Masih membekas kuat dalam ingatan kejadian 5 tahun silam ketika kulihat angka-angka merah menghiasi nilai raporku, yang menyebabkan aku harus tertinggal dari teman-temanku. Aku tidak naik kelas, karena aku……karena aku….

Karena aku, aku memang bodoh, aku adalah anak terbelakang dari keluarga terpandang, karena kejadian itu, aku harus dibawa ke rumah sakit, memar-memar diseluruh tubuhku oleh tangan ayaku, sang “Hittler” yang terhormat, masih kuingat pula perkataan keras kala itu.

“Dasar anak bodoh!. memalukan!”

“kau benar-benar telah membuat ayah malu karena kebodohanmu”

“apa kata teman-teman ayah nanti, jika melihat anak seorang pengusaha sukses, menjadi pembicara dimana-mana, memiliki anak yang bodoh dengan nilai rapor yang merah semua dan tinggal kelas”

“Kamu adalah anak laki-laki, kamu harus tegas, jangan

gagap bicaranya, kamu adalah

calon pemimpin perusahaan, jika baru disini saja sudah

gagal, mau jadi apa kau kelak”

“ayah tidak ingin melihat lagi kamu mendapat nilai merah dalam ujianmu, jika ayah masih mengetahui kamu mendapat nilai merah lagi, lebih baik kamu ayah bawa ke SLB. sekolah yang memang cocok buat kamu. Ingat itu!”

Untaian “kata mutiara” yang tak pernah hilang dari memori kecilku. Sekarang jika aku gagal lagi….

“Aku pasrahkan pada-Mu ya Robb”

***

Tibalah saat itu, dimana aku mengetahui nasibku disekolah ini, semakin dekat waktunya, semakin aku tak dapat menahan perasaan takut yang telah menggelayuti pikiranku sejak kemarin, keringat dinginku tak jua berhenti mengalir, satu jam lagi.

Ku lihat wajah-wajah disekitarku, mereka adalah teman-temanku yang juga sedang menunggu pengumuman kelulusan, wajah mereka tak jauh beda denganku. Hanya saja, mungkin mereka tidak akan mendapatkan “tamparan” yang memilukan dari orang tua mereka jika tidak lulus.

Semua terlihat tak sabar untuk menerima hasil ujian nasional, ada yang mondar-mandir di depan pintu kelas, ada yang sebentar-sebentar duduk kemudian berdiri. Namun ada juga yang cuek dengan keputusan yang akan mereka terima.

Ku lihat jam tangan yang melingkar kuat ditangan kiriku, kurang beberapa menit lagi. Perasaan semakin tak karuan, aku jadi tak dapat diam, kakiku berjalan mondar-mandir. Hingga akhirnya ….

Para guru keluar dari kantor menuju kelas, seluruh siswa langsung mengikuti ke ruang kelas mereka masing-masing. Sebelum membagikan hasil ujian, wali kelas ku memberikan sepatah dua patah kata sebelum membagikan hasil nilai ujian nasional. Yang isinya kurang lebih, menghimbau kepada seluruh siswa agar apapun hasil yang mereka peroleh, mereka harus tetap tenang, ikhlas menerima keputusan,

“ Ingat kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Masih ada hari esok yang harus kalian jalani dan butuh perjuangan yang lebih besar” kata-kata itu sedikit melonggarkan hatiku. Namun ketika ingat wajah ayahku, hatiku kembali ciut.

Setelah selesai memberikan sambutan, masing-masing siswa dipanggil namanya dan menerima sebuah amplop putih yang didalamnya berisi sebuah pernyataan yang menentukan lulus tidaknya kami. Satu-persatu siswa memperoleh amplop penentuan tersebut, namaku pun dipanggil. Dengan langkah yang berat aku maju ke depan dan menerima amplop tersebut. Ada yang berbeda dari wajah guruku ketika menyerahkan amplop itu kepadaku.

Ah, semoga saja bukan pertanda buruk, teman-temanku, telah membuka isi amplop tersebut. Setelah membacanya mereka tampak gembira, mereka meloncat kegirangan saling berpelukan. Perasaan bahagia yang meluap-luap sebagai akibat dari perasaan yang terpendam selama ini.

Aku belum berani membukanya, tanganku benar-benar tak bersahabat. Mereka enggan untuk membuka amplop putih yang dibagian muka tertulis namaku itu. Namun, setelah kutenangkan hati dan pikiranku, perlahan jari-jemariku bereaksi, perlahan tapi pasti, ku buka amplop itu, di dalamnya tampak olehku selembar kertas yang dilipat. Kembali aku menarik nafas. Mencoba menenangkan hati ini. Tapi tetap saja keringat dingin masih mengucur deras, membasahi tubuhku. Kumantapkan hati dan kuambil lipatan itu dari biliknya, kemudian kubaca, dan ……….

Entah mengapa tiba-tiba saja seperti ada yang mencabik-cabik jantungku, wajahku semakin pucat, tanganku gemetar sehingga kertas yang tadinya kupegang erat, lepas begitu saja dari genggamanku sehingga jatuh ke lantai, wajah ayahku tiba-tiba saja muncul dengan senyum garangnya, kepalaku begitu berat, tubuhku terasa lemas, tiba-tiba semua terasa sepi, samar-samar dan akhirnya gelap.

17 Februar 2007

untuk keempat sahabatku yang belum mendapatkan keberuntungan,

semoga kalian tetap diberikan ketabahan dan keikhlasan serta kelapangan hati untuk menerima hasil yang telah digariskan oleh sang Kholiq

kegagalan merupakan gerbang pintu menuju kesuksesan. Dan selalu ada hikmah dibalik cobaan dan musibah.

4 thoughts on “KETENTUAN SELEMBAR KERTAS

  1. Sebuah tulisan mengenai ketulusan emosi untuk berbagi bagi sahabat yang belum beruntung……sangat konstruktif……

    >>berikan yang terbaik buat sahabat. karena mereka kita ada, bersama merekalah kita merasa membutuhkan dan dibutuhkan

  2. kadang ketika kita gagal, kita bukan takut pada kegagalannya, tapi takut pada pandangan orang akan kegagalan kita itu.
    padahal, belum tentu kita gagal sepenuhnya, bisa jadi dalam kegagalan itu kita justru mendapatkan sebuah keberhasilan yang tidak kita kira sebelumnya.
    semoga teman mas tabah menghadapi semua ini…🙂

    >>Amin….):
    JIka dipikir-pikir benar juga ya, kita sering kali malu jika kegagalan kita diketahui oleh orang lain

  3. banyak orang menganggap kegagalan akhir dari segalanya, padahal sebetulnya kegagalan memberi informasi bahwa cara atau metode yang kita lakukan kurang benar, jadi kegagalan adalah jalan menuju sukses🙂
    hanya sahabatlah yg mengerti hati sahabatnya

    >>kesuksesan yang bermakna selalu diawali oleh pemaknaan akan kegagalan.

  4. sahabat tak seharusnya kita iri dan marah padanya karena mereka selalu ada untuk kita.salam kenal yaa….

    >>Salam kenal juga.
    terima kasih telah menyempatkan tuk bersilaturahmi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s