TEROBSESI PADA BULAN

Standar

TEROBSESI PADA BULAN

Sahabat, ini hanyalah sekedar coretan sang hati, yang ingin melukiskan betapa ia begitu bahagia melihat sang bulan dan suasana malam. Izinkan ia melukiskannya lewat kata-kata tak bermakna ini, mesti tak akan seelok objek aslinya.

Maafkan…..

1.

Ia hadir membawa damai tuk sang malam. Menyebarkan benih-benih kesejukan lewat pancaran an nur yang diamanahkan kepadanya. Langit malam pun menjadi tampak indah oleh kehadirannya, dan semakin semarak dengan gugusan bintang yang dengan ikhlas berkerlip sepanjang masa. Duhai malam, hadirkan selalu bulan dalam malamku, ia adalah penawar bagi jiwa yang terluka.

Bulan, kata itu begitu cantik, mesti berada dalam fase apapun, ia tetap tampak elok dan menawan, tak heran jika jagad raya sepakat memberinya gelar sang dewi malam, karena ia memang pantas menyandang gelar dewi bagi alam raya.

Aku tak perlu gundah dan takut ketika badai kehidupan menghantamku, karena ku punya penawar yang dihadirkan oleh sang Pencipta. Aku akan menunggu malam, tuk mendapatkan penawar tersebut. Karena tibanya sang malam membawa sang bulan tuk berpijar. Kehadiran bulan mampu memberikan penawar bagi luka ini, mesti hanya sedikit. Nah, ketika malam tiba, kaki ini akan melangkah pelan keluar tuk menyaksikan sebuah kreasi luar biasa alam semesta. Menyimpan berjuta rahasia dan ilmu pengetahuan. Kemudian kumasukkan pikirku dan bersanding dalam kehidupan di sana. Ku rasakan sebuah kedamaian, ketenangan yang semakin malam semakin tampak syahdu. Alam pun seolah ikut berdzikir, mengikuti alunan dzikir sang bulan.

Wahai dikau, yang diberi nama bulan, namamu seindah pancaran cahyamu. Dan tahukah kau? Namamu telah tercatat dalam hatiku. Aku benar-benar kagum terhadap Dzat yang begitu pandai mencipta makhluk laiknya dirimu dan sahabat-sahabatmu. Cahayamu seolah mengalirkan energi kesejukan dan kedamaian pada sang malam. Malam yang tibanya mencekam, akan tampak lebih indah saat sinarmu, kau pancarkan, melebur dalam keheningan.

Ya, saya sering membayangkan diriku berada di atas sana, bersanding dengan sang bulan dan bintang. Hidup damai dan tentram. Melupakan sejenak rasa penat akibat kesibukan dunia yang melelahkan. Menjauh dari kebohongan, kebencian, kekerasan, iri dengki dan pengkhianatan, yang keseluruhannya ku jumpai di dunia ini, namun tak ada di angkasa sana.

Tahukah kau, bulan di sepertiga malam tampak lebih syahdu dan lembut. Cahayannya melebur bersama keheningan dan nyanyian alam. Damai sekali. Ia mencipta sebuah makna tentang rasa damai.

Saat jiwa keruh dan bernoda, kemudian menimbulkan luka dan nestapa. Ingin rasanya mata ini senantiasa terjaga pada sepertiga malam, sekedar menyaksikan bulan berdzikir, menyenandungkan lagu kedamaian. Sejenak memandang ke atas, melihat bulan dan bintang, serta langit yang lebih indah dengan awan yang menghampar. Kubiarkan kesejukan itu masuk ke dalam jiwaku, melalui pori-pori dan menyiram sang hati.

Sejenak mata memejam, merasakan aliran itu di jiwa. Kesempurnaan datang di kala ku basuh tubuhku dengan air wudhu dan melanjutkannya dengan untaian rekaat malam. Oh…subhanallah……begitu syahdunya…..

2.
Sepenggal kisah catatan harianku,

Rabu, 26 Sept 2007

Ramadhan telah memasuki pertengahan. Ini adalah malam ke 14 di bulan ini. Ada yang berbeda dengan malam kali ini.

Adalah bulan, ia bersinar sangat terang. Tanpa lampu merkuri sekalipun, keadaan kampung tampak terang. Langit bak hamparan samudra yang indah mesti tanpa ornament sang bintang dan awan. Ya, ia ibarat mutiara yang memancarkan kedamaian dalam kehidupan di bumi ini. Indah sekali, ketika mata memandang, bersama hembusan syahdu angin petang. Yang tersentuh adalah jiwa, jiwa yang tenang, tentram, damai dan apa lagi? Dan oleh malam aku di tuntun untuk mengucap subhanallah…

Hanya dengan mengingat Allahlah hati terasa tenang. Ini adalah kalam Allah, dan benar saja, melalui bulan yang bersinar indah dan langit dan angin dan malam, mengajakku tuk berdzikir, bersenandung dan memuji keagungan Sang Pemilik Keindahan.

Dan akhirnya, ku tuai ketentraman jiwa, kepasrahan dan tentu saja kedamaian…..

3.
Puisi tentang Bulan.

Yang datang di Malam Hari
(At Thariq)

yang datang di malam hari
telah tercipta untuk panorama semesta
menyeka luka lembaran dusta
dan mengangkat I’tikaf jiwa-jiwa ternoda
saat sorot mata teduh tertuju
pada yang datang di malam hari
di langit yang tersenyum malu
turun setetes hidayah penawar luka.

Boyolali, 6 Juli 2007

16 thoughts on “TEROBSESI PADA BULAN

  1. Indah sekali…
    Jadi inget bulan di kampung dulu. Berlatar pekat malam berdampingan beberapa bintang, dia tampak begitu menawan.
    Sedang di sini, kadang langit malam memerah. Melihat bulan mengapung di lautan merah, membuat perasaan malah jadi tertekan…😦

    >>Oh, indahnya bulan…

  2. bulan mah nama temen saya…
    perempuan, pake kacamata, adiknya bunga, rumah di bandung, di sarijadi😆

    >>Cantik gak? Sholehah gak? udah punya calon blom?he..he..

  3. bulan mengingatkan aku pada seseorang yang dulu pernah menghiasi hidupku..
    tapi sayang nya kini dia tlah pergi..

    >>di ikhlaskan mas, masih ada bulan-bulan yang lain yang menunggu tuk di hiasi.

  4. sonialis

    Bulan dan bumi itu satu pasang. seperti aku dan istriku. bulan selalu mempengaruhi bumi. pun sebaliknya. bulan menjauh bumi mendekat. Bumi tak pernah menuntut bulan selalu di dekatnya. Bulan pun tak pernah mendesak bumi harus gantian mengitarinya….. Hehehehehe…

    >>ehm..bolehlah filosofinya. pada intinya bulan dan bumi tu sehati, bukan begitu mas soni. he..he..

  5. Ikuti Kompetisi Matematika Nasional 2008 antar SLTA tingkat Nasional. Sebuah ajang yang membudayakan kompetisi antar siswa SLTA pada tingkat nasional bidang ilmu matematika, dan mengenalkan peran IT pada guru dan siswa SLTA.

    Jadwal Kegiatan
    Pendaftaran: 1 Juli – 5 Agustus 2008 Pelaksanaan 12 – 14 Agustus 2008

    Tempat Kegiatan
    Grha STMIK AMIKOM Yogyakarta,
    Jl. Ringroad Utara Condong Catur, Yogyakarta.

    Pendaftaran
    Biaya Pendaftaran: Rp. 50.000,- / tim
    Tempat Pendaftaran: via Online http://kmn.amikom.ac.id
    Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer Bank Mandiri cab. Gejayan Yogyakarta
    No. Rek. 137-00-0540110-0 a.n. Armadyah Amborowati

    Penghargaan (Award)

    * Juara 1 : 10 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 2 : 8 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 3 : 6 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 1 : 4 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 2 : 2 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta

  6. mas, bulan cantik ya?? bukannya permukaan bulan itu gak rata..:mrgreen:

    >>tergantung mas, dari sudut pandang mana kita melihatnya.
    klo diliat dari dekat ya gak rata, tapi klo liatnya dari balik jendela? gak jelas, he..he..

  7. Salam
    ah klo lagi mati lampu saya keluar sejenak untuk menjamah sang bulan🙂

    >>”Ambilkan bulan Bu…….”
    agar sahabat nenyok bisa menjamah bulan.
    jauh kali mas
    he..he…

  8. Ah Bulan….. selalu saja membuat kita termenung dan merenung. Coba kalau tidak ada bulan tentu akan membuat syair dan surat “cinta” terasa hambar…🙂

    >>he..he…yang lagi jatuh cinta. bicaranya gak jauh-jauh dari cinta.
    gimana mas, sukses dengan cerita cintanya?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s