BENING

Standar

Bening-bening itu membersamainya di senja yang memancarkan kemilau cinta. Sujud syukur ia dalam dekapan cinta yang teramat ia rindukan. “Suamiku,” ucapnya lirih dalam isak tangis yang tertumpah di dada lelaki yang teramat ia rindui,”aku sangat mencintaimu.”

          Lelaki bertubuh jakung itu semakin erat mendekapkan kedua tangannya dalam dekapan hangat penuh rindu sang istri tercinta. “Aku juga sangat mencintaimu sayang.” Airmata mulai menggenangi matanya.

          “Suamiku, kau pasti teramat lelah. Aku akan memanaskan air untukmu.” Kata sang istri mesra melepaskan pelukan hangat kekasihnya.

          “Tidak begitu. Rasa lelahku telah kau hilangkan dengan hangat cinta dan kerinduanmu. Temani saja aku disini, duduk memandangi kemilau senja itu.”

          Sang istri tersipu malu. Mereka berjalan menuju kursi tua berwarna coklat yang mulai usang di pelataran samping rumah. Sang istri menyandarkan kepalanya yang terasa pening karena tangis yang terlalu banyak tertumpah. Sang suami memeluk mesra penuh cinta, ia genggam erat jemari istrinya.

          “Bagaimana pekerjaanmu disana sayang?”tanya sang istri

          “Insya Allah, semua lancar. Lusa abang harus kembali berlayar.”

          Sang istri melepaskan pelukan sang suami. Ia menatap lekat kedua mata lelaki terkasihnya itu, “Kenapa begitu cepat? Bukankah abang baru saja berlayar dua bulan?”

          “Sayang,” sang suami menggenggam erat jemari istri tercintanya,”abang bekerja untuk masa depan keluarga kecil kita ini. Alhamdulillah, abang diberi amanah untuk menggantikan pak Mail sebagai kepala mesin di kapal yang akan berlayar besok lusa. Kapal itu adalah kapal impian abang, dan kini Allah telah mengabulkan do’a abang untuk menjadi kepala mesin kapal itu.”

          “Tapi Bang, aku membutuhkan abang. Usia kandunganku sudah hampir enam bulan. Berapa lama abang berlayar?”

          “Sekitar tiga bulan sayang.”

          “Selama itu?”

          Sang suami mengangguk. Dipandanginya lekat-lekat wajah ayu sang istri. “Aku akan cepat kembali, do’akan abang.”

          ***

          Pagi itu cerah. Kicauan burung bernyanyi penuh syukur atas indahnya nikmat sang Illahi. Dedaunan yang gugur tertiup angin menari-nari dengan anggun di udara yang bebas. Tapi keindahan pagi itu tak dirasai Ratna. Ratna duduk termenung setelah selesai mengepaki barang-barang suaminya. Pagi itu, jam tujuh, suaminya harus sampai di pelabuhan.

          Ridwan memeluk mesra istrinya dari belakang. “Mengapa murung?”

          “Tidak.”

          “Pasti sedang melamunkan aku,” goda Ridwan,”aku tidak heran jika sayangku ini melamunkan suaminya yang paling tampan ini.”

          “Iiiih…jangan genit gitu lah Bang, ingat umur!”

          “Halah…kemarin aja pas abang pulang kita bermesra, ini giliran abang mau berangkat lagi kok malah dijutekin. Lagian abang kan belum tua, belum berkepala tiga lho”

          “Salah sendiri, kenapa abang berangkat lagi. Aku kan butuh abang.”

          Ridwan terdiam. Ridwan duduk membersamai istri tercinta di kursi usang itu. Ia meraih jemari istrinya, ia peluk jemarinya didekat denyut jantungnya. “Bisa merasakan denyut jantung abang?”

          Ratna memandang lekat kedua mata suaminya. “Abang ini apa-apaan sich” Ratna menarik tangannya. Ada perasaan tersipu malu, tapi rasa kesal pun ingin menyaingi.

          “Sayang, abang pergi kan cuma sebentar, abang disana kan kerja buat keluarga kita, bukan untuk yang lain. Memang tiga bulan itu bukan waktu yang sebentar, tapi ini amanah untuk abang. Mengerti kan?” jelas Ridwan mencoba menenangkan gejolak emosi istrinya.

          Ratna memeluk erat suaminya. “Aku akan merindukanmu bang. Cepat pulang ya.”

          “Tentu. Abang juga akan merindukanmu dan buah hati kita.” Kata Ridwan sembari mengelus-elus perut Ratna, berharap buah hati mereka juga merasakan sentuhan cinta yang hangat. “Abang harus berangkat sekarang. Teman-teman sudah menunggu pasti.”

          “Baiklah, ayo!”

          “Ayo kemana?”

          “Ya ke pelabuahan lah bang,”

          “Sayang dirumah saja, banyak-banyak istirahat.”

          “Kalau cuma ke pelabuhan kan tidak membuatku capek bang.”

          “Sudah, tidak usah. Nanti pasti sayang menangis di pelabuhan, abang tidak mau melihat istri tercinta abang ini menangis.”

          “Tapi bang…”

          “Sudah. Abang bisa berangkat sendiri, biar nanti Anwar yang nganter abang, sekalian dia berangkat kuliah.” Potong Ridwan,” dedek sayang, abi nitip bunda ya, dedek jangan nakal. Nanti abi belikan mainan.” Kata Ridwan untuk buah hatinya sembari mengecup perut sang istri.

          Ratna memeluk erat suaminya. Ridwan pun mengecup mesra kening istri tercintanya. Tangis keduanya pecah dalam hati masing-masing.

          ***

          Ratna merawat kandungannya dengan telaten. Gelora cinta seorang ibu memenuhinya kini, semakin kuat. Tak pernah ia lewatkan hari tanpa berbicara dengan buah hati yang masih berkembang dalam hangatnya kandungan.

          “Sayang,” lirih Ratna sembari mengelus-elus perutnya yang sudah teramat buncit,”sebentar lagi abi pulang.” Nanti kita jemput abi sama-sama ya! Abi pasti sangat merindukan kita. Bunda juga yakin dedek sangat rindu dengan Abi, iya kan?”

          Buah hati itu pun menendang keras, Ratna mengaduh kesakitan.”Dedek sayang semangat banget mau ketemu Abi, jangan tendang-tendang perut bunda, bunda janji, nanti dedek yang pertama kali dikecup abi.”

          Untuk yang kesekian kali Ratna yang sedari tadi duduk di kursi yang sudah usang melihat jam tangannya, ia gelisah menunggu Anwar. Rencananya dia dan adik iparnya itu akan menjemput Ridwan langsung ke pelabuhan.

“Teh…Teh Ratna…” teriak Anwar memanggil,”teteh dimana?”

          “Teteh di sini War,” sahut Ratna yang beranjak menghampiri Anwar,” kamu lama sekali.”

          “Maaf Teh, tadi ada keperluan sebentar.”

          “Berangkat sekarang yuk!” ajak Ratna semangat

          “Aduh Teh, ini baru jam berapa?baru juga jam sembilan teh”

          “Hlo…kan makin cepat makin baik”

          “Iya, tapi paling kapalnya terlambat melabuhnya, tadi anwar sempet lihat berita di TV, cuacanya buruk teh.”

          “Masya Allah…semoga abang baik-baik saja. Ayo cepat ke pelabuhan”

          “Tapi teh, lihat kondisilah, teteh hamil besar gitu apa tidak sebaiknya dirumah saja?biar anwar dan bapak yang jemput abang.”

          “Huss…kamu ini ngomong apa, malah ini dedek pengen cepet-cepet ketemu abinya.”

          “Tapi teh,”

          “Tidak ada tapi-tapi,” potong Ratna,”ayo berangkat, sekarang!

          ***

          Sepanjang perjalanan lantunan dzikir melantun khusyuk dari bibir merahnya. Dalam khusyuk dzikirnya ia berdo’a semoga suaminya bisa melabuh dengan selamat. Belum sampai di pelabuhan, Ratna merasakan perutnya sakit luar biasa, pinggangnya terasa nyeri. Ratna mengaduh kesakitan.

          “kita ke rumah sakit ya teh.”

          “tapi teteh pengen jemput abang War,”

          “udah teh, yang penting teteh ke rumah sakit dulu, jangan-jangan teteh mau nglahirin. Nanti biar anwar yang jemput abang. “

          Ratna semakin mengaduh kesakitan. Anwar langsung berbalik arah ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Ratna langsung dibawa ke ruang bersalin. Segera anwar menghubungi kedua orang tuanya agar segera ke rumah sakit.

Perjuangan berat, pertaruhan nyawa ia hadapi sendiri tanpa genggaman erat suami. Setelah proses bersalin yang lama, akhirnya seorang bayi nan tampan membekukan rasa sakit. Sirna sudah semua sakit itu ketika Ratna memeluk buah hatinya penuh cinta. Dia kecup buah hati yang masih berwarna merah itu. Tahmid pun terlantun merdu mengiringi jerit tangis sang buah hati. Ratna yang sedari tadi terlena dengan nuansa cinta dari buah hatinya teringat akan suami tercintanya yang belum menemuinya. “Ibu, dimana bang Ridwan? Abang sudah pulang kan?dimana Bu?pasti abang sangat bahagia melihat buah hatinya yang setampan bulan purnama ini.” Tanya Ratna pada ibunya.

Dari sudut mata wanita yang mulai renta itu mengalir bulir-bulir airmata yang agaknya ia tahan.

“Kenapa ibu menangis?” tanya Ratna heran ”bang Ridwan mana Bu? Bang Ridwan sudah pulang kan?tolong panggilkan Bu.”

Wanita tua itu tetap terdiam. Tak ada sepatah katapun yang terucap melewati bibirnya yang gemetar, ia terlalu sibuk membendung airmatanya. Tak berapa lama Anwar masuk ke ruang yang seluruhnya berwarna putih itu.

“Anwar, mana abang? Eh kamu sudah liat babyku kan?tampan bukan, sangat mirip dengan abinya. Abang pasti bahagia”

Anwar berusaha mengembangkan senyumnya. Susah payah pula ia membendung airmatanya, tapi bening-bening itu jatuh juga.

“Anwar, kenapa kamu menangis?mana abang?abang sudah pulang kan?” tanya Ratna lagi.

“Anwar menangis karna terharu kok teh. Aku salut dengan perjuangan teteh.” Anwar menghela nafas panjang sembari berfikir bagaimana ia harus mengatakan pada iparnya itu tentang suaminya yang telah berpulang untuk selamanya. “Abang udah pulang kok teh.”

“Lalu abang mana? Apa dia tidak ingin bertemu dengan istri dan buah hati tercinta?”

“Sebenarnya abang sangat ingin bertemu teteh dan dedek, tapi tadi abang harus ke rumah dulu, abang kecapekan, jadi abang istirahat.”

“Oh begitu, kalau begitu teteh mau telpon rumah, teteh udah kangen pengen denger suara abang.” Kata Ratna sembari meraih hape di atas meja.

“jangan teh” cegah anwar merebut hape Ratna

“Kamu ini apa-apaan sich War, teteh kan pengen ngomong sama abang. Teteh pengen bilang kalau dedek mirip sekali dengannya. Pasti abang bahagia.”

“Iya teteh, Anwar tahu. Tapi abang kan capek, abang lagi istirahat. Tau sendiri kan kalau abang paling ndak suka diganggu kalau lagi istirahat?

“Oh iya, teteh lupa. Tapi nanti kamu langsung jemput abang ya, cepet ajak kemari. Bilang kalau istri dan si kecil sudah kangen”

“Iya teh, sekarang teteh istirahat ya!”

Ratna mengangguk. Dengan senyum yang penuh kerinduan, ia pejamkan matanya.

Sedang Anwar dan seluruh keluarga menahan tangis dan kesedihan di hadapan Ratna. Ridwan tewas dalam kecelakaan kapal itu ketika hendak berlabuh. Ombak yang tak bersahabat kala itu menghempaskan badan kapal sampai pada akhirnya tabrakan dengan kapal yang sama-sama hendak berlabuh pun tak dapat di hindari. Ridwan yang saat itu berada di tepi kapal terlempar ke laut. Teman-temannya berusaha menolong, tapi Allah berkehendak lain.

***

Ratna dirundung gelisah. Sekelumit prasangka menelusup ke celah-celah ribuan tanya tentang suaminya. Kondisi Ratna yang sudah membaik menjadi alasannya untuk segera pulang. Ia ingin segera menemui suaminya, ada secercah amarah membersamai kerinduannya. Dua hari berlalu sejak kepulangan suaminya dari berlayar, tapi ia tak menemuinya yang telah berjuang melahirkan buah hati dengan taruhan nyawa.

Senja itu Ratna memaksa ingin pulang menemui suaminya. “teteh mau pulang sekarang War, teteh kangen sama abang.”

“Tapi teh”

“teteh ingin ketemu abang,” potong Ratna,” Sekarang!”

Anwar tak bisa menolak ataupun mencari-cari alasan lagi. Anwar bisa merasakan kerinduan yang teramat dalam iparnya itu. Anwar pun mengangguk, meng-iyakan pintanya. “Cepat atau lambat, teh Ratna pasti juga akan tahu Bi” bisik anwar pada ayahnya.

Fadhil Liwaul Islam, si kecil yang tertidur pulas dalam dekapan sang bunda. Senyum kebahagiaan penuh rindu bermekar di bibir merah Ratna. Ratna mengecup si kecil fadhil di sela-sela dzikirnya dalam hati. “Kita akan menemui abi sayang, dedek fadhil pengen digendong abi kan?” ucap Ratna pada buah hatinya.

Anwar yang melihat binar-binar bahagia sang ipar dari kaca sepion setirnya merasa tak tega membayangkan binar-binar itu berubah menjadi kelabu yang suram. Mertua yang duduk di samping kanan kiri Ratna pun berusaha melukis senyum di bibir mereka. Tak kalah ibu Ratna, wanita yang mulai renta itu, berusaha keras menahan bendungan airmatanya.

“Kok lewat sini War? Tanya Ratna yang mulai merasa asing dengan jalan yang dilalui mobil yang dikendarai adik iparnya itu.

“Iya teh, lewat sini lebih dekat.” Keheningan menyelimuti perjalanan menuju pemakaman, hanya Ratna yang berceloteh ceria.

“Lho War, kok masuk area pemakaman?” tanya Ratna penasaran,” kita mampir ke pemakaman siapa?”

“Ke pamakaman saudara teh,” jawab Anwar bergetar

“Kok ndak ke rumah dulu?teteh kan sudah kangen sama abang. Kalau emang mau ke pemakaman, kita kan bisa ke rumah dulu. Kita jemput abang sekalian, nanti bareng-bareng ke sini.”

Anwar menghentikan laju mobilnya di pelataran tanah makam. “ Iya teh, tapi abang ingin kita ke sini dulu.” Jelas Anwar singkat,”ayo turun teh.”

Anwar berjalan paling depan, ia tertunduk penuh kesedihan. Sedang ibu mertua Ratna berjalan dibelakang menggandeng erat menantunya. Sedang si kecil Fadhil tertidur pulas dalam dekapan neneknya. Mereka berhenti di sebuah makam yang masih nampak baru. Anwar duduk disamping makam itu, dia mengelus-elus nisan hitam itu. “Bang, teh Ratna dan si kecil datang mengunjungi abang.” Ucap anwar pada nisan hitam yang bisu itu.

Ratna masih bingung dengan semua itu. Pandangannya tertarik pada batu nisan hitam yang dielus adik iparnya. Ridwan Liwaul Islam. Nama suami tercintanya terukir di nisan hitam itu. “Apa maksudnya semua ini? Anwar ayo pulang! teteh mau ketemu abang!” seru Ratna.

Airmata menuruni pipi Anwar,“teh, ini abang. Abang istirahat di sini.” Jelas Anwar singkat.

Pedang tajam terasa menusuk jantung Ratna. Paru-parunya seakan terhenti memompa udara, ia sulit bernafas. “tidak, tidak mungkin! Lelucon macam apa ini War?!”

“Teh, abang sudah berpulang ke rahmatullah.”

Bening-bening itu berjatuhan. Ratna mendekati nisan hitam itu. Tangisnya pecah mendekap erat batu nisan itu. “Abang!”,seru Ratna dalam isak tangisnya,”kenapa abang begitu tega padaku? Kenapa abang pulang ke sana?!”.

Senja yang memancar kan kemilaunya terlihat suram di pemakaman itu. Bening-bening yang dulu jatuh dalam dekapan hangat sang suami, kini harus jatuh membasahi nisan hitam yang dingin. Nisan yang membisu. Tiada kata, tiada pula kehangatan darinya. Dingin dan hening. Namun hati yang telah terpaut erat dengan kekasih yang telah berpulang lebih dulu merasai di balik nisan itu ada cinta yang tak pernah mati. Dan bening-bening itu menjadi benih-benih bunga kerinduan yang ingin terus bermekaran.

By. Yun_De’Yun

3 thoughts on “BENING

  1. bagus, tapi di pertengahan sudah bisa ditebak endingnya, hehe.
    cerpen buatan sendiri?

    eh, ngasih komen ya, seharusnya tu si teteh dikasih tau dulu sebelum pulang, jgn diajak langsung ke makam, kan kalau shock, takutnya meraung2 di kuburan. kan dilarang tuh, hehe

    #apaan si ni, pake saran pula ke cerpen:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s