TAPAK TAPAK PERSAHABATAN

Standar

Terangkum indah dalam secarik coretan kisah kita kala itu. Kalian menggenggam erat tanganku yang gemetar, merangkul tubuhku yang lunglai dan meniupkan angin semangat berjuang yang menyegarkan hatiku. Kamu bisa! Itu yang sering kalian ucap ketika aku rapuh dalam setiap kegagalanku.’

          Kalian tersenyum ramah ketika aku datang. Menebarkan bunga-bunga cinta persahabatan dari hati di atas jantung hatiku. Menjadikannya tumbuh subur mewangikan tapak-tapak langkah perjalanan sederhana kita membangun persahabatan sekokoh gunung yang tinggi menjulang.

          Saat itu aku menangis. Kalian meributkan pangeran yang menjadikan hati kalian tersemai bunga-bunga cinta yang mengalahkan ikatan cinta persahabatan kita. Sekali itu aku menumpahkan amarah di depan wajah ayu kalian. Kalian menangis, menitikkan bening-bening itu. Dan kini aku menyadari betapa tak mampunya aku memeluk kalian sekaligus. Aku hanya bisa memeluk satu dari kalian. Maafkan aku….

          “Aku benci banget ma dia Yun! Sumpah! Teman makan teman! Brengsek!” cercamu saat itu. Aku tersentak mendengar cerca itu keluar dari bibir tipismu.

          “Astaghfirullah…Jangan ngomong kayak gitu. Ndak baik. Dia itu kan sohib kita juga.” Sahutku.

          “Kamu bilang sohib? Seperti itu masih kamu sebut sohib?! Teman pun tak layak untuknya!”  Sentakmu,” kamu tahu, dia tahu dan kalian juga tahu, aku sangat mencintai Rendy. Tapi tega-teganya dia mengambil Rendy dariku.”

          “Rendy itu bukan milikmu, Rendy juga bukan miliknya. Kalian berdua hanya punya hak untuk mencintainya, bukan mengambil maupun memilikinya Tam.” Ujarku dengan nafas yang terengah-engah menahan emosiku,”Tam…cinta tidak bisa dipaksakan.”

          “Iya aku tahu Yun, tapi setidaknya dia harus menghargaiku yang sudah mencintai Rendy lebih dulu. Lagi pula dia masih saudara sepupu denganku, Seharusnya dia harus lebih mengerti bagaimana perasaanku.”

          “Tam…darimana kamu tahu kalau kamu lebih dulu mencintai Rendy daripada dia?darimana heh?” tanyaku padamu dengan bibir gemetar menahan emosiku akan ke_ego_anmu, ”dan kamu bilang Lina yang harus menghargaimu? Harus mengerti dirimu? Atas dasar apa kamu mnyebut tentang keharusan?apa selama ini kamu menghargainya?mengerti dia?”

          Saat itu aku melihat wajahmu memerah tapi bibirmu pucat. Mungkin kau malu. Mungkin kau semakin marah dengan semua serbuan pertanyaanku. Ahh…tapi aku tak mau menghiraukan kemarahanmu. Aku hanya ingin kau menyadari keegoisanmu. Aku melirik Hesti, Tiara dan Sari, mereka pun juga menatapmu lekat.

          “Relakan Rendy jika memang Rendy juga mencintai Lina. Bukankah hakikat mencintai itu memberi tanpa meminta? Mengasihi tanpa memaksa?” Ku berhenti sejenak untuk melihat ekspresimu selanjutnya. Dan kau pun diam tertunduk. Aku meraihmu dan mendekapmu erat, aku ingin kau merasai hangatnya cinta persahabatan kita.

          “Kemarahanmu ini tidak akan membuat semuanya berubah. Tangisanmu pun juga tidak akan bisa merubah. Cinta itu urusan hati. Kita tidak bisa memaksa. Tidak pula mengharuskan. Untuk apa kamu mencintai Rendy atau Rendy mencintaimu jika hanya akan merubah kepribadianmu dan menghancurkan persahabatan yang telah kita bina tiga tahun terakhir ini?”

          “Tapi aku mencintainya Yun. Tidak semudah itu aku menerima semua ini.”

          Aku melihat bulir-bulir itu mengalir lagi, membasahi parasmu yang ayu. Ku seka airmatamu. Aku ingin kau merasakan hangatnya sentuhan cinta persahabatan yang mampu menegarkanmu meski badai telah meluluhlantakkan rasa cinta yang kau sebut agung dalam hatimu.

          “Aku tidak menyuruhmu untuk menerimanya saat ini. Aku juga tahu itu bukan hal yang mudah. Tapi setidaknya, mengertilah bahwa bahagianya orang yang mencintai adalah ketika orang yang dicintai itu bahagia. Kamu tulus mencintai Rendy bukan?”

          Saat itu kau mengangguk penuh kesungguhan. Aku salut padamu, karena kau bisa seyakin itu di usia kita yang masih terbilang belia. Jika banyak orang yang mengatakan bahwa cinta diusia belia hanyalah cinta monyet, tapi aku tidak sependapat dengan mereka. Bagiku, cintamu pada Rendy bukanlah cinta monyet seperti apa yang mereka bilang. Tapi cintamu padanya adalah cintamu. Dan hanya kau yang punya hak untuk memaknai rasa cinta itu.

          “Jika memang tulus, maka ikhlaskanlah dia bahagia dengan cintanya. Dan bahagialah dengan rasa cinta yang ada dihatimu. Jika kamu telah memilih untuk bahagia, maka kamu akan bahagia, karena kamu telah memilih untuk hidup bahagia, bukan sengsara, bukan pula sakit hati.”

          Seketika itu kau memelukku. Menumpahkan airmata yang terbendung dari peluluk matamu. “Menangislah Tam, tak apa. Menangislah jika dengan tangisanmu ini menjadi penyudah kesedihan dan sakit hatimu dan menjadi awal hidup bahagiamu. Kita semua sohibmu. Aku, Tiara, Hesti, Sari dan juga Lina adalah sohib yang mencintaimu.”

          Saat itu tangismu kian memburu. Membasahi bahuku. Tak apa, ‘mari saling berdekap dalam hangatnya cinta persahabatan kita’, batinku. Kita berlima pun berpeluk hangat, kecuali Lina yang saat itu ada dalam pelukan Rendy, entah dimana mereka saat itu.

          Tapak-tapak langkah persahabatan itu masih nampak jelas. Semua kisah-kisah kita itu masih ada disini, didalam hati yang dipenuhi kerinduan akan hadirnya kalian disisi. Sekarang kita sudah tumbuh menjadi perempuan-perempuan yang berjalan anggun mengejar matahari kita di jalan setapak yang berbeda. Sesekali aku menengok kisah manis persahabatan kita dan getirnya perjuangan kita untuk selalu ada dalam wadah kesatuan hati sebagai semangatku untuk mengejar matahari itu. Terkadang langkah yang mulai lelah menapaki jalan setapak yang begitu tinggi menjulang menghentikan langkahku, menyita waktuku untuk segera meraih matahari itu. Di saat-saat getir itu aku teramat membutuhkan kalian disisiku, aku merindukan kalian sahabat-sahabatku. Tapi yang aku bisa hanya membayangkan kalian sudah menungguku di atas sana untuk bersama menggapai matahari itu. Itulah penyemangatku dikala tiada kalian.

          Dalam tiap derai airmataku, peluh keringatku, aku merindukan kalian. Jalan yang berbeda menjadikan kita terpisah, tapi dalam sujudku aku selalu berdo’a semoga perpisahan ini sekedar tapak-tapak kita di dunia. Aku berharap dan berdo’a, kelak kita akan berkumpul dalam keagungan cinta persahabatan kita. Tersenyum ramah, tertawa renyah dan canda penuh gairah kesucian cinta yang menjadikan hati kita selalu dipenuhi bunga di surga-Nya kelak. Harapan itu selalu ada selama jiwa ini ada dalam raga yang merindu pelukan hangat kalian. Harapan itu selalu ada selama aku masih bisa menatap dan merasai hangatnya matahari kita. Disini kita membangun, dan diatas sana kita akan merayakan perjuangan cinta persahabatan kita yang agung. Setulus hati membangun persahabatan dan menapaki liku- likunya hanya karena cinta-Nya.

Ya Rabb…jagalah mereka untukku, dan jagalah tapak-tapak langkah kami agar tak menyimpang dari jalan cinta-Mu. Amiin.

by. Yun_De’Yun

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s