(TTS: Chapter 2) Me and my Life: The Story of New Purple Tie

Standar

Me and my Life: The Story of New Purple Tie!

Pagi itu, senin 3 oktober 2011. Pukul 06.15 seperti biasa saya sudah siap dengan seragam mengajar saya, baju biru lengan panjang, celana panjang warna biru tua, peci hitam dan yang tak kalah penting dasi warna ungu yang baru saya beli hari jum’at sebelumnya. Setelah semuanya dirasa siap, tas, handphone dan dompet telah disaku, sayapun melajukan kendaraan dengan kecepatan rata-rata menuju kota solo yang sudah mulai ramai oleh kendaraan.

Hari senin adalah waktunya upacara bendera. Pagi itu jadwal peserta upacara adalah kelas 2,3 dan 5. Kegiatan upacara memang dibagi menjadi dua kelompok, senin pertama kelas 1, 4 dan 6 sedang senin berikutnya adalah kelas 2,3 dan 5. Hal ini dikarenakan luas lapangan sekolah yang tidak mampu menampung jumlah siswa yang begitu banyaknya.  Maka diambillah keputusan untuk membagi peserta upacara menjadi dua kelompok besar yang melaksanakan upacara secara bergiliran.

setibanya disekolah, saya menyapa beberapa siswa dan para guru yang sudah datang terlebih dahulu. Ternyata benar, sudah saya sangka sebelumnya, banyak yang akan memberi komentar dengan dasi baru saya. Kali ini dari sesame guru. Mulai dari yang komentar biasa-biasa saja, “wah, dasinya baru ya yand.” “Sin, dasinya??” kata guru senior dengan ekspresi terkejut.  Sampai yang dengan terang-terangan mengatakan, “Dasinya gak matching yand.” Ah, whatever lah. Pikirku dalam hati. Saya hanya tersenyum saja. Sedikit malu juga sich. He..he..terus terang saya memang tidak pintar memilih mode pakaian dan juga karena saya juga tidak mau ambil pusing dengan hal demikian. selama saya merasa nyaman dengan apa yang saya pakai, itu sudah cukup bagi saya. Dan saya tengah berusaha untuk menyamankan diri dengan dasi baru saya.

hari senin, jadwal ngajar saya full. Dari jam pertama sampai jam terakhir. Bisa di bayangkan, hari itu saya akan mendengarkan  puluhan komentar dari ratusan anak didik saya yang tentu punya pandangan sendiri-sendiri dengan dasi baru saya. Dan anak-anak biasanya lebih jujur, mengatakan apa adanya sesuai dengan yang ada dipikiran mereka. Dan mereka tidak akan sungkan-sungkan untuk mengatakannya secara langsung. Maka pagi itu, dengan langkah ‘pasti’ dan berusaha menutupi kegugupan, sayapun masuk ke kelas pertama saya. “Assalamu’alaikum”, sapa saya sambil tersenyum. “wa’alaikumsalam” jawab mereka serempak. Belum juga saya membuka pelajaran, anak-anak sudah mulai asyik mengomentari dasi baru yang saya kenakan. “yee…….dasinya yanda baru ya?” “Beli dimana yanda?” “Harganya berapa, yanda?” “dasinya gak cocok yand dengan bajunya.” Dan kelas-kelas berikutnya pun berkomentar yang hampir senada. Tapi untungnya ada juga yang mengatakan kalau dasi saya bagus. He..he..alhamdulillah ya.

akhirnya tiba kelas terakhir, kelas yang terkenal ‘angker’ karena siswa-siswanya terkenal susah diatur. Kali ini saya sudah mulai terbiasa dengan komentar-komentar lucu dari siswa, maka sayapun masuk seperti biasa dikelas terakhir ini. Dan komentar pun hamper sama dengan kelas-kelas sebelumnya, tapi kali ini, anak-anak ‘menyerbu’ saya. mereka memegang-megang dasi ungu saya sambil bertanya, “belinya dimana yanda? Harganya berapa yanda?” puhff…capek dech.  “Ehm..berapa ya? Rahasia.he..he..” “ah, yanda. Berapa yanda?” tiba-tiba seorang anak ikut mendekat, namanya Rafi. Dia mendekatkan mulutnya ditelinga saya sambil berbisik “yand, kasih tahu harganya yanda, nanti aku gak akan bilang-bilang.” Akupun hanya tersenyum geli melihat tingkah anak-anak lucu ini.  Maka siang itu, saya mengajar seperti biasa.  Menjelaskan materi tentang Pen Pals alias sahabat pena. Di tengah pelajaran, si Rafi kembali maju ke depan, anak ini memang sering maju kedepan kelas alasannya ia tidak bisa melihat jelas tulisan yang ada di papan tulis dari jarak jauh. Rafi kembali mendekati saya, kemudian memegang-megang dasi ungu saya, dan akhirnya tanpa saya duga sebelumnya, Rafi mendapati label harga yang masih tertera di balik dasi baruku. Seketika ia berteriak dengan girangnya, “Hore, aku tahu harga dasinya yanda!!!!” seketika yang lain pun ikut penasaran ingin tahu. “Berapa Fi?”Tanya anak-anak yang lain “Kasih tahu, Rafi.” Pinta yang lainnya. Maka seketika kelas kembali gaduh. Dengan cepat tanganku membungkam mulut Rafi yang akan membeberkan “rahasia” (gak) penting ini. Namun pada akhirnya, anak-anak yang lain pun tahu bahwa dasi ungu saya berharga 20. 000,-. Dasi warna ungu menyala yang membuat heboh kelas dan menjadi pembicaraan seantero sekolahan (lebay mode on) akhirnya tetap saya pakai sampai sekarang. Dan saya telah nyaman dengan dasi tersebut. Dasi ungu menyala itu merepresentasikan semangat muda saya untuk terus berkarya dan bekerja secara dinamis demi tercapainya cita-cita bangsa. Paling tidak itu yang saya rasakan dengan dasi ungu itu.

10 thoughts on “(TTS: Chapter 2) Me and my Life: The Story of New Purple Tie

  1. Wow, ngajar bahasa inggris, di sekolah mana? Ane pernah nglamar di Al Azhar Solo Baru, tes terakhir (tes ke-5) telat, akhirnya gak diterima…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s