(TTS: Chapter 3) The Teacher, I’m in Love

Standar

THE TEACHER, I’M IN LOVE

teacher[6]Jika ada satu hal yang harus saya syukuri dalam usia saya yang sudah mencapai angka 24 ini tentu adalah takdir manis menjadi seorang pendidik. Satu profesi yang sempat saya black list dalam kamus masa depan saya. Saya pernah berikrar dalam hati, bahwa saya tidak mau menjadi seorang GURU. Alasan konyol tersebut sudah pernah saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya. Sungguh ironis memang, apa yang dulu saya benar-benar hindari, tapi  kini seolah berbalik menyerang hati dan  pikiran saya. Semua berubah 360 180 derajat. Dari yang paling dihindari (bukan berarti saya membenci profesi ini) menjadi hal yang paling saya syukuri saat ini. mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa hati saya sudah terpaut 100% dengan dunia pendidikan, sedang saya baru 2 tahun menjadi seorang guru di institusi formal. Maka, saya lebih nyaman mengatakan bahwa saya bersyukur Allah pilihkan jalan ini untukku, karena saya mulai merasakan kenyamanan saat duduk  bersama bocah-bocah kecil yang diwajahnya terlukis cita-cita yang luarbiasa tentang masa depan. ada nilai-nilai pengabdian, kebersamaan dan keikhlasan dalam mendidik. Dan hati nurani saya berkata ya, pelajarilah. Masih banyak yang harus saya pelajari memang untuk menjadi pendidikan yang benar-benar mendidik. Dan saya bahagia ketika saya memperoleh banyak ilmu serta pengalaman dari orang-orang hebat di sekitar saya.

Dengan menjadi seorang pendidik alias guru, banyak hal yang saya pelajari sehingga pada akhirnya menjadikan saya pribadi yang semakin percaya diri dalam mengaktualisasikan kemampuan yang saya miliki. Saran mungkin bisa dengan mudah untuk diterima, sedang kritik? Sungguh otak pastilah sulit untuk menerima. Namun, bagi saya kritik adalah semacam jamu super pahit yang harus saya minum agar tubuh menjadi semakin kuat. saya belajar banyak dari kritikan-kritikan yang mendarat di gendang telinga saya. Pada akhirnya, kritikan-kritikan itulah yang membawa saya menjadi manusia yang bermental kuat dan  berpikir dewasa. Biarkan kritikan menempa kita menjadi manusia super yang tahan banting.

Suasana ruang kelas adalah sebuah keunikan tersendiri bagi saya. Disana terdapat sekelompok manusia yang memainkan dua peran, satu sebagai guru dan yang lain adalah murid. Mencermati interaksi-interaksi kecil dari para siswa dan mencoba menyelami dunia mereka sungguh pengalaman yang luar biasa. Melihat setiap masalah dengan sudut pandang yang berbeda pun memberi kesan yang berbeda. Setiap detik momen saya dengan anak-anak adalah pengalaman berharga yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika Allah SWT memuluskan jalan saya menjadi seorang arsitek atau pelukis.

Canda tawa, tangis, curhatan-curhatan ala anak sekolah dan wajah polos yang tergores jelas diwajah mereka adalah pelajaran lain di ruang kelas. Asyik aja menyaksikan gerak-gerik mereka saat di kelas atau di luar kelas. Lagi-lagi sebuah anugrah yang tak terkira maknanya.

Akhirnya ikrar “AKU TIDAK MAU MENJADI GURU” yang pernah kutulis diatas pasir jiwa telah tersapu oleh debur ombak yang menghantam pantai. Kini aksara “NIKMATNYA MENJADI SEORANG GURU” perlahan terangkai dalam bentuk pahatan cinta yang begitu indah.

20 thoughts on “(TTS: Chapter 3) The Teacher, I’m in Love

  1. unisyifa

    semoga dapat selalu menjadi guru yang bijak ya sahabat🙂
    saya ingin jadi guru, tapi takdir berkata lain😀
    yups minimal nanti saya akan jadi guru untuk anak-anakku 🙂 InsyaAllah🙂

  2. amin ya Robbal ‘alamin. terima kasih atas doa dan silaturahminya sahabat. semoga kita mampu menjadi teladan yang baik, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang disekitar kita. Amin

  3. Orang tua saya guru, cita-citaku dulu jadi dosen🙂 Tapi takdir membawaku ke jalan lain. Meski sekarang pun, keinginan menjadi guru “formal” itu masih tetap ada. Entah kapan bisa terwujud dan dalam bentuk apa.

  4. Saya belum ngerasain serunya ngajar anak-anak kecil. Dulu, waktu PPLdi SMA, anak-anaknya udah ABG..

    O, iya.. kritik dikit..
    kalo 360 derajat berarti kemabli ke titik semula dong..

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, AhsanMuslim…

    Demikianlah Allah merencana kehidupan manusia melaluyi qadak dan qadar-NYA. Kita hanya merancang. Tetapi perancangan kita tidak sempurna dan tidak menepati kesesuaian pilihan kita. Bertuahlah jika profesi sekarang ini sebagai guru. Tugas mulia yang punya peran penting dalam membangun kemenjadian manusia yang syumul.

    Saya doakan semoga cinta keguruan itu akan bercambah besar dan sentiasa subur untuk mengangkat martabat profesion keguruan di mata dunia. Siapapun guru kita, semuanya bermula dari ABC, alif ba ta dan segala yang mencelik mata juga minda kita.

    Salut dengan semangat yang mengalir sekarang ini di jiwa AhsanMuslim. Semoga diredhai Allah SWT. Aamiin.

    Salam ceria selalu dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Amin ya Robbal ‘alamin. Terima kasih bunda untuk do’a tulus, nasihat dan persaudaraan yang terjalin indah selama ini. semoga Bunda senantiasa diberikan keberkahan dan kesehatan. amin. salam untuk sanak kerabat di Malaysia. ^_^

  6. kalau dengar certa teman2 saya yang berprofesi sbg guru, memang benar pekerjaan guru sangat menyenangkan..
    dan pastinya tidak membosankan karena kita berinteraksi dengan mereka2 yang umurnya jauh dibawah kita, mgsk scr tidak lgsg mampu mengingtkan kita pada masa sekolah dulu
    saya ingin jadi guru,,tapi saya nggak bisa ngajar,,😛

    • bagi sebagian orang, terutama guru pemula, termasuk saya. 2 tahun pertama adalah saat-saat tersulit dalam karier profesional seorang guru. masih dalam tahap adaptasi kelas tapi kompetensi dan kepercayaan harus di uji disini. kritik dan cacian tidak jarang keluar dari sesama guru dan orang tua murid. tapi pada akhirnya kritik tersebut yang mendewasakan kita. akhirnya jika kita bisa melewati 2 tahun pertama, semua terasa menjadi lebih ringan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s