catatan kecil, inspirasi

(TTS: Chapter 5) Gadis Kecil yang Mengeja Cinta dalam Persahabatan


friends“Yanda, aku mau curhat” kata ama pagi itu. nama lengkapnya adalah Atiqah haya Amalia Salma. Dia adalah siswa kelas 3 SD Al Azhar Syifa Budi Solo. Dengan wajah sendu, dia mulai bercerita tentang masalah yang tengah dihadapi.  Masalah umum yang sering menghinggapi dunia anak hingga remaja. Yaitu masalah pertemanan.  Ini sudah yang kesekian kalinya dia mengeluhkan masalah yang sama.  Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mulai bercerita tentang sahabatnya yang tidak mau berteman dengannya. “Yanda,  Alya bisikin tarina agar tidak mau temenan sama aku.”  Ucapnya ketika itu. matanya mulai berkaca-kaca saat ia bercerita kalau Alya dan Tarina tidak mau diajak main. Ya, anak ini memang sering menangis kalau lagi ada masalah. Saya tidak langsung percaya begitu saja pada apa yang dikatakan Ama. Maka saya pun balik tanya “Ama, tahu dari siapa kalau Alya pengaruhi tarina agar tidak temenan sama ama?”

“tadi aku lihat ia bisik-bisik ke Tarina.”

“lho, kan belum tentu yang mereka bisikan tentang kamu.”

“iya, soalnya sekarang Tarina tidak mau aku ajak main.”

“baiklah, sekarang tidak usah menangis. Sudah kelas 3 tidak boleh cengeng.” Kataku.

“ Sekarang kamu kembali duduk, persiapkan buku pelajarannya. nanti yanda bicara sama Alya dan Tarina agar mau temenan lagi sama kamu.” imbuhku mencoba menenangkan.

Akhirnya ketika jam istirahat, saya memanggil Alya dan Tarina untuk menanyakan perihal masalah yang dialaminya.

“Alya, yanda mau tanya, apa benar Alya bisik-bisikin Tarina agar tidak mau berteman dengan Ama?” tanya ku dengan nada rendah, memulai perbincangan.

“ soalnya Ama juga bisik-bisik ke Anggi.”kata Alya.

“Tapi aku tidak ngomongin kamu, Alya.” Jelas ama berusaha membela diri.

“Jadi benar, Alya membujuk Tarina agar tidak temenan sama Ama?” tanyaku lagi.

“Iya yanda.” Akhirnya Alya mengakui kalau ia bisik-bisik dengan tarina.

“Baiklah, Yanda dan bunda sudah sering kali memberi nasihat kepada kalian bukan, bahwa tidak boleh bisik-bisik di depan temannya. Nanti bisa menimbulkan prasangka.”kali ini saya pertegas kalimat saya, agar mereka memperhatikan dengan serius.

“Besok lagi, yanda tidak ingin melihat kelas Abdullah terjadi permusuhan seperti ini lagi. Ingat, kalian semua adalah sahabat. Dan sahabat harus menghargai dan menyayangi satu sama lain. kalian paham?”

“iya, yanda.” Jawab mereka serempak.

Keesokan harinya, Ama kembali menghampiriku, mengeluhkan masalah yang sama.

“yanda, a..a..aku sudah tidak kuat. Alya dan tarina tidak mau temenan sama aku lagi.” Sambil sesenggukkan ia bicara.  Air matanya kembali pecah.

“Ama, ini nasihat yanda yang terakhir untuk masalah ini. Teman Ama bukan hanya Tarina dan Alya. Semua anak dikelas ini adalah teman Ama. Ama harus berteman dengan yang lainnya juga. Kalau Ama hanya temenan sama tarina, nanti  kalau akhirnya Tarina tidak mau berteman dengan Ama gimana? Ama jadi tidak punya teman lagi.” Jelasku panjang lebar. Ia terlihat memerhatikan dengan seksama.

“Tugas utama Ama di sekolah adalah belajar yang rajin. Jangan sampai hanya karena masalah seperti ini membuat ama jadi tidak konsentrasi dalam belajar. Nanti ama sendiri yang rugi, mengerti?”

Kali ini ia hanya mengangguk pelan.

“sekarang dihapus air matanya. Mulai hari ini, Ama tidak boleh pilih-pilih teman dan harus bisa bergaul dan berteman dengan teman yang lainnya. ” Ia pun menghapus air matanya.  Kemudian berlalu dari hadapanku.

Setelah hari itu, aku tidak mendengar lagi keluhan yang sama dari Ama. Ia mulai  bermain dengan teman yang lainnya. Ia bisa kembali ceria bermain dengan Helsa, Zurfa, Omi, Fayya dan teman kelas lainnya.  Hari harinya menjadi lebih ceria.

Suatu hari, Ia kembali menghampiriku. Ttapi kali ini bukan untuk berkeluh kesah, melainkan ingin mengabarkan bahwa ia sekarang berteman dengan Helsa, Zurfa dan teman lainnya. Dengan wajah penuh semangat ia bercerita,

“Yanda, sekarang aku tidak sedih lagi. Aku berteman dengan Helsa, Zurfa dan teman lainnya. Kemarin aku bermain ke rumahnya Helsa lho yanda. Kamarnya helsa begus. Disana asyik, kami bermain dan bercanda.”

Advertisements

9 thoughts on “(TTS: Chapter 5) Gadis Kecil yang Mengeja Cinta dalam Persahabatan”

    1. iya setuju kawan. itulah salah satu yang menjadikan saya nyaman berinteraksi dengan mereka. karena jiwa mereka masih murni dan tingkah lucu dan polos mereka sering mengundang tawa.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s