(TTS:Chapter 6) Menjejak Langkah, Membangun Sportifitas

Standar

MENJEJAK LANGKAH, MEMBANGUN  SPORTIFITAS

Menanamkan-sikap-Sportifitas-pada-anakPagi itu Raffa kembali mengamuk.  Dengan keras ia menggebrak meja didepannya. Teman sebangkunya sontak kaget bukan kepalang. Ini sudah yang kesekian kalinya ia menunjukkan sikap tidak sportifnya.  Setiap kali  ada game atau lomba, jika ia atau timnya kalah, ia akan marah. Tidak menerima kekalahan. Ini sudah berlangsung sejak ia duduk dibangku kelas 1.  Akhirnya berbagai alasanpun dikeluarkannya.

Raffa adalah anak yang pandai. Bahkan bisa dibilang ia adalah anak terpandai di kelasnya. Nilai ulangan hariannya hampir semua perfect. Bahkan waktu  kelas 3 semester 1 nilai bahasa inggris dirapornya 100. Hasil akumulasi nilai harian, tugas, mid semester dan semester.  Dari kelas 1-3 ia selalu menjadi juara kelas.  Hal ini cukup untuk menyimpulkan bahwa ia adalah anak yang cerdas secara akademik.

Raffa memiliki jiwa kompetisi yang bagus. Tekad kerasnya untuk selalu menjadi nomor 1, membuatnya rajin dan semangat dalam belajar. Ia akan memantau dengan jeli kemampuan para kompetitornya di kelas. Sehingga akhinya ia bisa mengerucutkan nama-nama siswa yang akan menjadi saingan beratnya dalam hal akademik. Salah satu yang ia lakukan adalah mencatat seluruh  nilai ulangan umum yang diperoleh teman (kompetitor) nya sehingga ia bisa membandingkan antara nilai miliknya dan kompetitor kelasnya. Tak segan ia menanyakan kepada yanda bundanya berapa nilai yang diperoleh oleh para ‘kompetitor’nya.

Ya, ia adalah Raffa. Dibalik kemampuan akademiknya yang luar biasa, anak ini memiliki masalah dengan sikap sportifitas dalam berkompetisi. Ia belum mampu menerima kekalahan. Emosinya masih meledak-ledak ketika ia harus menerima kenyataan bahwa ia kalah atau tidak menjadi nomor 1.  Saya dan Bunda Rani, wali kelas Raffa, sudah berulang kali memberikan nasihat kepada anak  ini. tapi belum ada hasil yang cukup memuaskan. Raffa masih sering marah ketika harus kalah atau nilai ulangannya lebih rendah dari para ‘kompetitor’nya.

Setelah marahnya mulai reda, saya menghampirinya.  saya berusaha berbicara dari hati-ke hati dengan anak ini. mencoba menempatkan diri sebagai sahabat.

“kenapa Raffa tadi bersikap demikian (mengamuk-red)?” tanya saya memulai perbincangan. Ia hanya diam. Mukanya merah padam seolah memendam kekesalan yang teramat sangat.

 “yang harus Raffa pahami adalah dalam setiap kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Kalau hari ini Raffa kalah, Raffa harus bisa belajar menerima kekalahan. Itulah yang disebut dengan sportifitas.” imbuhku.

“Tim Raffa sebenarnya tadi bisa menang yanda, kalau tim-nya Daffa tidak curang.” Ucap Raffa dengan emosi yang masih meledak-ledak. Tangisannya akhirnya pecah.

“Curang bagaimana maksudnya?” kini giliran saya yang balik bertanya.

“Tadi Raffa lihat, si Tio mengacungkan tangan lebih dulu, sebelum yanda selesai baca pertanyaannya.” Jelas Raffa dengan suara parau karena tertahan oleh tangis dan emosi yang semakin tak terkendali.

“ya sudah, mungkin tadi yanda yang salah karena kurang teliti. Tapi Raffa juga tidak boleh emosi lagi seperti tadi. Ingat, ini hanya permainan. Jadi harus bisa menghargai dan menghormati  baik yang menang atau yang kalah. Sekarang masuk ke kelas ya.” Pintaku

Ia masih  tak bergeming. Masih betah dengan posisi duduknya dengan wajah yang tertunduk. Akhirnya saya coba tinggalkan dia barang sejenak agar emosinya meredam perlahan.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat selebaran dari salah seorang rekan kerja. Isi selebaran tersebut adalah undangan mengikuti lomba Spelling Bee di Al Azhar Solo Baru. Sesuai dengan namanya, Spelling Bee adalah lomba mengeja kata dalam bahasa Inggris.  Karena lomba ini diperuntukkan untuk siswa kelas 1-3,  akhirnya kami mengajukan tiga siswa yang kesemuanya dari kelas 3 untuk mengikuti kompetisi  tersebut. Diantara tiga siswa yang akan mengikuti kompetisi tersebut, ada nama Raffa yang akan mewakili sekolah. Sebelumnya saya mengetes kemampuannya mengeja kata dalam bahasa inggris, dan ketika hasilnya bagus, tanpa ragu saya mengajukan ia untuk mewakili sekolah dalam ajang kompetisi spelling bee tingkat regional tersebut.  Singkat cerita, akhirnya lombapun di gelar. Lomba ini terdiri dari tiga babak, yaitu babak penyisihan, semi final dan final. Disemi final diambil 10 terbaik dari 50 peserta yang berpartisipasi. Alhamdulillah ketiga siswa saya mampu menembus semi final. Namun ketika berjuang untuk memperebutkan tiket ke final (3 terbaik) hanya Raffa yang bisa lolos sampai final. Dua lainnya terhenti di babak semifinal. Singkat cerita, setelah bertanding di babak final, Raffa mampu menjadi runner up dalam kompetisi ini. terpancar raut wajah bahagia. “Ini piala pertama Raffa, yanda. Terima kasih ya yand.” Ucapnya setelah memperoleh piala.

Bulan-bulan berikutnya saat ada undangan atau informasi lomba bahasa inggris, khususnya spelling bee, Raffa dan kedua temannya selalu ditunjuk untuk mewakili sekolah. Seperti lomba spelling Bee yang diadakan oleh lembaga perkursusan ELTI, mereka bertiga hanya mampu menembus sampai babak semifinal. Nah, disini Raffa kembali menunjukkan sikap tidak sportifnya. Saat ia terhenti di semifinal, ia langsung lari keluar ruangan sambil membanting pintu ruang perlombaan. Mengetahui hal itu, saya pun langsung mengejarnya menuruni tangga lantai 1 bersama 2 temannya, Ziya dan Adzani. Kami mendapati ia duduk di kursi ruang tunggu, sambil membenamkan wajahnya diantara dua kakinya. Ia menangis lagi. Akhirnya saya duduk disampingnya, sambil mengelus-elus pundaknya, saya berkata “Fa, dengarkan yanda. Yanda mengikutsertakan Raffa dalam kompetisi ini agar Raffa bisa belajar menerima hasil apapun, baik menang atau kalah. Karena dalam kompetisi pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah. dan kita harus mampu menerima itu.”

“Lihat, Adzani dan Ziya, mereka bisa menerima kekalahan dengan lapang dada. Masak kamu tidak bisa?”

“Iya, fa. Gak apa-apa. Ini kan cuma perlombaan. Kita bisa coba lagi lain kali. ” ucap Adzani bijak. Anak ini memang sikapnya lebih dewasa dan tenang. Meski saya juga bisa melihat raut wajah kecewa dari wajah keduanya.

“Nah, benar kata Adzani. Kalau Raffa kayak gini sikapnya, yanda akan berpikir ulang untuk mengikutsertakan Raffa di lomba berikutnya.” Kataku membenarkan ucapan Adzani.

“Sekarang dihapus air matanya. Pada haus tidak? Kita cari minum dulu yuk!” ajakku yang diikuti anggukan ketiganya.

Perlahan, Raffa mulai menunjukkan perubahan yang positif. Ia sudah jarang terlihat ngambek atau marah-marah di dalam kelas. Yang lebih sering terlihat adalah canda tawanya bersama teman-teman kelasnya. Ia juga tidak lagi  terlalu antusias untuk mengetahui bahkan menghitung nilai-nilai yang didapat  teman (kompetitor)nya. Sikap sportifnya semakin terlihat saat ia mengikuti lomba retelling story di Taman Balekambang, Solo. Ia tampil bercerita tanpa beban. Bahkan saat mengetahui bahwa ia tidak mendapatkan juara. Tidak ada tangis atau bahkan letupan-letupan emosi yang sering terlihat sebelumnya. meski agak kecewa, tapi ia bisa menerima kekalahan dengan lapang dada dan ikut berbahagia menyaksikan  kedua teman sekelasnya, Ziya dan Anya  berhasil menjadi juara satu dan dua. Semoga ini bisa menjadi titik cerah Raffa belajar menjadi lebih dewasa dan tidak emosional lagi. Ya, semoga……

7 thoughts on “(TTS:Chapter 6) Menjejak Langkah, Membangun Sportifitas

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, AhsinMuslim

    SELAMAT HARI IBU untuk semua anak-anak, ayah dan ibu-ibu di Indonesia yang meraikan HARI IBU pada hari ini. Sebagai menghargai ibu yang dicintai, saya menghadiahkan 2 AWARD HARI IBU untuk dijadikan kenangan dari Malaysia.

    Silakan kutip award-award tersebut di sini:

    http://webctfatimah.wordpress.com/2012/12/22/ct143-22-disember-2012-selamat-hari-ibu-untuk-sahabatku-ibu-ibu-di-indonesia/

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    • wa’alaikumsalam wr. wb. terima kasih bunda untuk award indahnya. mohon maaf baru balas. karena jarang tengok gubug sendiri. he..he.. semoga kita bisa menjadi anak-anak sholih yang selalu mencintai, menghormati, dan berbakti kepada ibu tercinta. amin. salam persaudaraan dari ahsin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s