Diorama Cinta Di Istana Tuhan

Standar

cover buku

Tanggal dan bulan yang terlupakan, tahun 1992

Diawali dengan scene bocah-bocah kampung yang berjalan cepat ditengah guyuran hujan yang semakin deras. Dengan tas plastik yang dijinjing di tangan, sedang tangan lainnya memegang payung kecil yang sudah bolong. Mereka berlari menerobos hujan. Ditengah jalan yang berbatu, kaki-kaki mungil itu menapakkan langkah. Rasa lega tergurat jelas di wajah polos mereka  ketika langkah kecil itu mulai menapaki setiap tangga kecil menuju serambi. Salam tulus do’a keselamatan mereka haturkan untuk sahabat-sahabat mereka yang lebih dahulu duduk melingkar di meja bundar yang sudah usang dan berlubang. Ditengah hujan yang semakin lebat salah seorang dari kelompok kecil itupun mulai membuka salam kemudian mengajak serta bocah-bocah kecil itu membuka juz amma, sebagian membawa al-Qur’an yang telah berubah warna. Mereka tidak tahu persis sejak kapan kitab-kitab itu mulai mengisi rak-rak kecil di surau itu. yang mereka tahu, kitab itu telah begitu usang. Lembar kertasnya berwarna kuning kecoklatan, dan disatukan dengan sehelai benang. Jika ditaksir kitab itu sudah berumur puluhan tahun.

Dengan komando sang pemuda yang umurnya lebih tua dari mereka, bocah-bocah itu mulai membaca surat-surat yang ada di kitab tersebut. Mungkin lebih tepatnya menghafal. Karena yang saya ingat waktu itu bocah-bocah itu belum bisa baca al Qur’an. Mereka menjadi hafal dengan surat-surat pendek tersebut karena kegemaran mereka sholat berjamaah di surau itu, terutama di waktu maghrib dan isya. Di surau kecil itulah bocah-bocah itu dengan tekun belajar tentang indahnya islam. Mereka dikenalkan tentang cara sholat, mengeja huruf hijaiyah, berlatih berpuasa, menghafal surat-surat pendek serta do’a sehari-hari dan mendengarkan cerita-cerita seru tentang kehidupan para nabi. Bagi mereka surau itu adalah tempat paling menyenangkan untuk bermain sambil belajar.

Surau itu adalah jantung kampung mereka. Ia adalah identitas kehidupan yang menyuguhkan sejuta impian bagi seluruh warga kampung. Tepatlah jika ada pepatah bijak yang mengatakan jika engkau ingin melihat moral sebuah desa, tengoklah surau/ masjidnya. Dan kampung tempat bocah-bocah itu mengenal islam, konon di juluki sebagai kampung santri yang terkenal hingga ke telinga warga kampung-kampung tetangga. Karena di kampung itu berkumpul para kiai atau ahli agama yang mengajarkan islam kepada para warganya.

Masih ditanggal dan bulan yang tak diingat, tahun 2000

Taman Pendidikan al Qur’an akhirnya didirikan. bocah-bocah kecil yang biasanya bermain petak umpet setiap sore hari itu berbondong-bondong menuju masjid. Ya, surau itu sudah berubah menjadi masjid. Dan berdiri kokoh dengan dinding-dinding yang dicat putih bersih. Mereka ingin belajar membaca Al Qur’an. Mendengarkan kisah-kisah teladan para nabi yang diceritakan oleh ustadz-ustadz mereka. Bocah-bocah lugu yang menggenggam cita-cita tinggi di tangan mereka. Santri angkatan pertama yang menorehkan prestasi yang cukup membanggakan buat TPQnya. Meski masih baru, bocah-bocah itu terlampau bersemangat untuk memperdalam ilmu agama. Hasilnya, berbagai tropi mereka kumpulkan dari berbagai ajang lomba antar TPQ. Kejayaan mereka terus berlanjut hingga tahun 2007. Dimana mereka memborong banyak piala dan menjadi juara umum II lomba FASI TPQ.

Dibulan ramadhan, mereka berlomba-lomba untuk mengkhatamkan al Qur’an. Hari-hari mereka dihabiskan di rumah Allah itu. mereka bermain, tidur dan membaca al-qur’an sambil menunggu waktu tibanya buka puasa. Ya, mereka benar-benar menikmati setiap detik aktivitas di masjid yang memberikan banyak petunjuk kebenaran bagi para jama’ahnya. Sesuai dengan namanya, al-Ilham.

Hari ini, Jum’at, tanggal 1 bulan Februari tahun 2013

Sejak beberapa bulan terakhir, atau lebih tepatnya setelah Ramadhan tahun lalu, Taman Pendidikan Al-Qur’an itu kembali mati suri. Kembali!! Masjid itu menjadi sepi di sore hari. Tidak ada lagi senyum anak-anak yang mendengarkan kisah-kisah teladan para nabi di tempat yang penuh kenangan itu. Hafalan surat-surat pendek dan do’a yang biasanya mereka kumandangkan dengan penuh semangat tidak pula terdengar. Lari-larian kecil yang mereka lakonkan di halaman masjid pun kini tidak lagi terlihat. Sosok mereka seolah-olah lenyap ditelan bumi. Ah, bukan mereka yang ditelan bumi, tapi kakak-kakak mereka. Ustadz-ustadzah yang seharusnya mengajari mereka mengeja A-Ba-Ta, mengenalkan mereka pada ajaran Islam yang indah dan mengajak mereka bernyanyi bersama. Guru mereka yang sibuk dengan rutinitas hidup, dan bocah-bocah itupun tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu kapan sang guru memiliki waktu luang untuk kembali mengajari mereka membaca al Qur’an.

Hingga hari ini, masjid penuh sejarah yang telah mendidik banyak umat itu terlihat begitu tua. Sepertinya ia benar-benar tengah bersedih karena ditinggal oleh bocah-bocah dan para pemuda yang biasanya melakukan aktifitas di sana. Semuanya menjadi begitu berbeda. Sepi.

Seorang laki-laki setengah baya tengah berdiri mematung di halaman masjid tersebut. Matanya menatap redup masjid yang semakin tidak terawat itu. begitu lama. Ada yang tengah dipikirkannya ternyata. Keadaan bangunan besar didepannya itu membuatnya pilu. Bukan bangunannya sebenarnya, namun kondisi jamaahnya yang kian menyusut. Tidak ada lagi aktivitas-aktivitas seperti masa-masa ia masih kecil dulu. Semuanya seakan menguap begitu saja. Riak-riak kecil dari satu dua pemuda yang prihatin tidak mengubah keadaan. Merekapun turut dalam lelap. Akhirnya Ia memutuskan untuk kembali bangkit. Mengajak teman-teman seperjuangan serta adik-adiknya agar kembali menerangkan cahaya yang semakin redup di masjid tercinta. Harapnya, semoga kampung tercintanya kembali dipenuhi lantunan ayat-ayat suci yang bersahut-sahutan dari satu rumah ke rumah yang lain. amin

2 thoughts on “Diorama Cinta Di Istana Tuhan

  1. Assalaamua;alikum wr.wb. Ahsinmuslim…

    Semakin zaman berubah semakin ramai umat Islam lalai oleh teknologi yang dianggap memudahkan kehidupan. Tanpa disedari keutamaan mengunjungi rumah Allah kian dilupai. Seruan untuk meninggikan syiar Allah dan memakmurkan rumah-NYA harus dilakukan oleh mereka yang sadar kerana itu adalah fardhu kifayah. Aamiin, mudahan apa yang diingini pemuda itu dikabulkan Allah SWT.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumussalam wr.wb. amin amin ya Robbal ‘alamin. benar bunda, yuk saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan moga Allah senantiasa lapangkan hati kita untuk ringankan langkah kaki menuju Istana -Nya. Amin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s