Saya Menulis, Maka Saya Ada

Standar

13029727_868576606603855_1709210705183733101_o

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

-Rumah Kaca, h. 352-

(Pramoedya Ananta Toer)

Berkata-katalah, lambat laun menguap jua. Namun ketika engkau menuliskanya, sejatinya engkau tengah mendokumentasikan pemikiranmu dalam sebentuk tulisan yang tidak mudah menguap sebagaimana kata. Mungkin demikian yang hendak Pak Pram sampaikan lewat kutipan kalimat beliau di atas.

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk mempengaruhi, menyentuh hati seseorang lewat rentetan kata yang tertuang. Menulis adalah salah satu passion yang saya miliki, yang sempat saya ikrarkan pada ruang sepi pada sebuah buku catatan harian yang saya buat sesaat setelah membaca buku Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Gie menginspirasi saya untuk turut serta mendokumentasikan setiap peristiwa yang saya alami dalam lembar-lembar kebijaksanaan. Meski tentu saja, tidak bisa seintim Gie dalam menuangkan setiap kegelisahannya ketika berhadapan dengan situasi politik kala itu.

Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Saya bukanlah Gie, dan tidak akan pernah menjadi Gie. Kita dua insan yang hidup di zaman yang berbeda. Cukuplah ia menjadi inspirasi saya untuk menuliskan perjalanan hidup saya dalam setiap lembar kertas. Karena disanalah saya mulai aktif mengasah kemampuan saya merangkai kata demi kata. Di catatan harian yang saya tulis semenjak kuliah 10 tahun silam.

Nama saya Ahmad Muhsin, lahir pada tanggal 5 April 1988 di sebuah perkampungan kecil di kabupaten Boyolali. Sebuah dusun kecil yang diapit oleh tiga gunung besar di pulau jawa, Merapi yang kian jumawa dengan status berapi aktif, berdampingan dengan Merbabu serta Lawu yang kian terlelap meski fajar menyapa. Menempuh pendidikan Sekolah Dasar di kampung Sambiroto selama 6 tahun. Kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di SMP Nurul Islam Ngemplak pada tahun 2001. SMA N Colomadu pada tahun 2003 hingga menuntaskan pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2010. Usai menyandang gelar sarjana pendidikan, saya mengabdikan diri dengan menjadi buruh pendidikan (guru-red) di SD Al-Azhar Syifa Budi Solo sejak tahun 2011 hingga sekarang.

Ketertarikan saya didunia kepenulisan tak lepas dari kegemaran saya membaca buku sejak usia kanak-kanak. Sekitar 23 tahun yang lalu, saat usia saya menginjak 4 tahun. Seorang laki-laki berperawakan sedang yang selalu kami panggil Bapak, sering membawakan majalah anak-anak yang diperolehnya dari kantor tempat beliau mengajar. Saya masih ingat betul judul majalah-majalah sekolah itu. Salah satunya yang sampai sekarang masih ada adalah majalah Ceri dan cepi. Majalah sekolah yang sarat ilmu pengetahuan yang dikemas dalam bentuk cerita ala anak-anak ketika itu.

Kegemaran saya membaca buku terus bertumbuh seiring bertambahnya usia. bukan hanya buku cerita bergambar saja, tapi juga buku-buku ilmu pengetahuan alam dan sosial serta kesenian dan keterampilan.

Tinggal dan bersekolah di sebuah perkampungan kecil dengan fasilitas yang serba terbatas tidak lantas menyurutkan semangat saya untuk terus mendapatkan buku bacaan baru. Bapak sering membawakan buku buku cerita dari perpustakaan sekolah tempat beliau mengajar.

Alhamdulillah, saat duduk dibangku sekolah menengah atas, saya bisa mendapatkan koleksi buku-buku bagus yang lumayan banyak di tempat saya bersekolah. Saya mulai mengenal karya sastra yang ditulis oleh penulis-penulis ternama negeri ini. Tercatat ada ‘Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Habis Gelap Terbitlah Terang, dan karya sastra lainnya. Dan  dari sinilah saya akhirnya mulai tertarik untuk menulis cerita ataupun puisi.

Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling berkait satu sama lain. Keduanya seolah saling bersinergi. Sebagian besar penulis terkenal adalah seorang maniak buku, mereka mampu duduk berjam-jam untuk menikmati sajian ‘makan’ yang tertuang dalam buku-buku tersebut. Membaca adalah aktivitas yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis. Penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula.

Tidak mudah ternyata menulis sebuah cerita, ada kebingungan saat akan memulainya. Dari mana saya hendak memulainya? Tak jarang saya sering terjebak pada kalimat-kalimat monoton yang sering saya temukan pada buku-buku cerita yang saya baca. Dan segala rintangan yang ternyata baru saya ketahui setelah beberapa tahun kemudian. Hambatan-hambatan itu buah karya yang saya cipta lewat perspektif negatif.

Berlembar-lembar cerita saya buat dalam upaya belajar menulis, namun tidak ada yang mencapai titik ending. Semua mengambang di tengah jalan dan akhirnya selalu bernasib sama, tertimbun di tong sampah. Karena kesulitan menyusun cerita, terpancang pada tehnik-tehnik menulis yang baku serta keterbatasan kosa-kata menjadi beberapa hambatan dalam proses menulis.  Akhirnya saya lebih banyak belajar menulis puisi. Puisi-puisi yang mengisahkan kegelisahan diri. Karena tidak perlu menulis berlembar-lembar untuk mengakhiri kisah.

Sekitar tahun 2005 an saya mulai mengenal novel-novel komtemporer yang ditulis oleh penulis-penulis muda tanah air seperti Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Afifah Afra dan sederet penulis beken lainnya. Membaca karya mereka mengusik batin saya untuk kembali menulis cerita. Saya ingin bisa menulis cerita seperti mereka. Maka saya kembali berusaha menulis cerita. Baik yang sifatnya true story atau sekedar fiksi. Dan saya pun mulai menggoreskan pena untuk menulis cerita. Tapi lagi-lagi mentok di tengah jalan, kehabisan ide atau seperti sebelum-sebelumnya, bingung mau dibuat bagaimana alur ceritanya. Akhirnya nasibnya pun sama dengan lembar-lembar cerita sebelumnya.

Dunia kampus menjadi batu loncatan bagi saya dalam mengasah kemampuan saya dalam merangkai kata. Di sinilah saya menemukan banyak inspirasi dan tentu saja peluang untuk belajar menulis. Berbagai pelatihan kepenulisan yang diselenggarakan oleh lembaga kepenulisan atau organisasi dakwah, saya ikuti. Setiap hari saya selalu sempatkan berkunjung ke perpustakaan untuk membaca karya-karya penulis professional, baik dalam maupun luar negeri.

Saya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di kota Solo. Di universitas tersebut terdapat perpustakan besar dengan puluhan ribu koleksi buku. Bahkan konon merupakan perpustakaan terbesar di kota Solo. Saya benar-benar dimanjakan di tempat ini. Perpustakaan ini menjadi lokasi favorit saya selama kuliah di Universitas ini. Tentang ini banyak saya tuangkan di buku catatan harian saya.

Keinginan saya untuk bisa menulis masih begitu besar. Saya mulai membaca buku-buku tentang strategi menulis. Segala macam buku tentang strategi kepenulisan saya lahap, kemudian saya tulis bagian-bagian penting untuk kemudian saya praktekkan saat belajar menulis. Baik itu dalam bentuk cerita, esai, artikel ataupun puisi.

Disamping rutin menulis di buku harian, saya pun memutuskan membuat sebuah blog sebagai sarana untuk belajar menulis. Ketika itu saya membuat blog dari multiply, namun karena sulit mengoperasikannya, saya berpindah ke blogspot. Dan sini juga sama sebatas membuat akun kemudian saya tinggalkan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan wordpress. Dan dari sinilah, kemampuan saya menulis benar-benar terasah.

Selama kurang-lebih lima tahun saya aktif menulis  di blog pribadi saya. Menjalin persahabatan dengan teman-teman sesama blogger. Bertukar pikiran, saling sapa, adu argumen dan hal-hal menarik lainnya tersaji di sini. Apresiasi luar biasa saya dapatkan dari teman-teman sesama blogger. Berbagai prestasi pun saya dapatkan dari komunitas ini. mulai dari beberapa Award yang diberikan oleh sesama blogger, predikat blog inspiratif, masuk daftar blog dengan pagerank tinggi serta menjadi referensi bagi para peselancar dunia maya dalam menemukan artikel-artikel yang menarik. Di sini persahabatan itu terasa nyata. Meski tiada tatap muka dan hanya tulisan-tulisan yang berbicara. Tapi saya merasakan mereka begitu dekat.

Selepas lulus dari universitas dan memperoleh amanah untuk mengajar di sebuah sekolah swasta di kota Solo, aktivitas nge-blog semakin jarang. Hanya sekali-dua kali update karena permintaan dari teman-teman blogger. Ada kebahagiaan tersendiri ketika tulisan kita di tunggu-tunggu. Namun, kesibukan di dunia nyata benar-benar mengalihkan diri dari aktivitas menulis. Saya pun mulai jarang menulis.

Awal tahun 2015 menjadi titik awal bagi diri ini untuk kembali mengasah kemampuan di dunia kepenulisan. Setelah mengenal komunitas menulis yang bertebaran di dunia maya khususnya facebook. Saya kembali tertantang untuk menulis. Membuat karya yang dapat dibaca oleh orang lain bahkan dinilai serta di apresiasi keberadaannya. Berbagai ajang lomba seputar kepenulisan saya ikuti. Alhamdulillah setiap prosesnya dimudahkan. Dua event kepenulisan saya ikuti dalam waktu bersamaan. Alhamdulillah, event pertama langsung berhasil lolos untuk di bukukan. Event pertama adalah lomba menulis guru yang diadakan oleh komunitas guru menulis dan Alhamdulillah lolos menjadi contributor dan dibukukan. Yang kedua adalah lomba menulis yang diadakan oleh Forum  Aishiteru Menulis (FAM) yang ketika itu mengadakan event lomba menulis bertema “Kenangan Masa kecil Yang Membekas di Hati” dan Alhamdulillah lolos seleksi pula. Tercatat ada 7 karya saya yang lolos seleksi untuk dibukukan bersama penulis-penulis hebat di negeri ini dalam kurun waktu satu tahun. Dan berarti sudah ada 7 buku antologi yang memuat karya saya. Baik berupa kisah inspirasi, puisi maupun esai. Beberapa di antaranya adalah “Kisah Menjadi Guru” diterbitkan oleh penerbit Lingkar Nusantara, “Kenangan Masa Kecil yang Membekas di Hati” Penerbit FAM Publisher, “Dupa Mengepul di Langit” Antologi Puisi Terbaik oleh Oase Pustaka, “Kado Cinta” Uwais Indie Publisher dan beberapa karya lainnya.

Setelah itu tidak banyak event lomba yang saya ikuti. Saya lebih selektif dalam memilih event kepenulisan, yang menurut saya berbobot dan mampu memberikan feedback bagi diri ini untuk menulis lebih baik. Bagi saya event-event ini saya jadikan sebagai batu loncatan untuk merengkuh impian lebih besar. Memiliki buku sendiri dan bisa mensejajarkannya dengan buku-buku para penulis yang lebih dulu memajang karya mereka di toko-toko buku besar. Semoga segera tercapai.

Menulis sekali lagi bukan sekedar menuangkan ide atau gagasan pada lembar kisah. Lebih dari itu, menulis adalah kepuasan batin dan proses menajamkan pikiran. Stephen King berujar “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”

Untuk menjadi seorang penulis, tidak ada cara yang lebih ampuh selain menulis. Untuk menjadi penulis dibutuhkan kemauan keras yang dibarengi dengan kerja keras pula untuk terus mengasah kemampuan dalam meramu setiap kata yang kita tuangkan. Orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil,  namun tidak ada upaya dan kerja keras untuk memilikinya. Hal senada juga diucapkan oleh penyair negeri ini, Kuntowijoyo. Syarat untuk menjadi penulis ada 3 yaitu menulis, menulis dan menulis. Tidak akan ada karya tanpa aktifitas menulis. Semua berawal dari satu goresan kata yang kita tuangkan dalam kertas kosong.

6 thoughts on “Saya Menulis, Maka Saya Ada

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb AhsinMuslim… salut ya atas usaha keras dan semangat bersungguh-sungguh dalam penulisan sehingga bisa mencapai 7 kumpulan buku penulisan yang menggabungkan ramai penulis terkenal Indonesia. Jika ada usaha pasti bisa dicapai dan meraih kejayaan. Mudahan terus menulis dan memberi manfaat kepada masyarakat umum. Salam sejahtera dari sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Aamiin ya Robb. Alhamdulillah bunda. Masih harus terus belajar memanage waktu untuk mengajar, menulis dan berdagang. terima kasih untuk nasihat dan semangat selama ini. mohon do’anya moga bisa tetap istiqomah untuk menjalankan ketiga aktifitas ini.

    • Assalamu’alaikum, Pak Narno.. lama tidak bersua di laman wordpress… lama juga tidak menjamah blog sederhana ini. banyak kenangan luar biasa dengan sahabat blogger yang tersimpan indah di ruang kecil itu. hehe.. bagaimana kabarnya? semoga penuh barakah di tanah rantau.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s