(TTS:Chapter 9) Momo, I’m In Love

Standar

cropped-cropped-cropped-cropped-img_56801“Momo dimana yanda?” tanya anak-anak siang itu. Pertanyaan yang mulai akrab terdengar di telinga saya sejak beberapa hari terakhir ini. Sejak kehadirannya di hari pertama saya mengajar ketika itu, sosok Momo mendadak menjadi artis sekolah yang selalu dicari-cari oleh siswa-siswi saya. Banyak anak-anak yang antusias dan ingin berkenalan dengannya. Mereka pun saling berebut untuk bercakap-cakap, mencium,  dan berjabat tangan.

Satu hari tentulah waktu yang singkat untuk melakukan perkenalan. Meski demikian, anak-anak sudah merasa begitu dekat dengan Momo. Antusiasme tergambar jelas di wajah mereka. Pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar. Sebagian besar mereka tujukan kepada Momo. Sekali dua kali saya turut menambahkan jawaban dalam bahasa Indonesia. Karena Momo tidak bisa berbahasa Indonesia.

Pertanyaannya sekarang, siapa sebenarnya sosok MOMO? Mengapa dia mendadak menjadi primadona di tengah siswa-siswa saya? Baiklah, Momo adalah karakter boneka sapi yang saya ciptakan. Dia punya gaya tertawa yang khas dengan suara cemprengnya. Wajah imut dipadu warna rambut hitam dan putih menambah kesan lucu bagi mereka yang melihatnya.

“He is Momo. His full name is Momo Cow. Comin’ from Wonderful Island. He can’t speak in Bahasa. So, please talk to him in  English” Demikian saya memperkenalkan Boneka sapi yang kini menjadi partner saya dalam mengajar bahasa  inggris di sekolah.

“Now, your turn, sir! Here you’re.”ucapku mempersilakan.

“Thank you, sir.”

“Ehm.. ehm.. Assalamu’alaikum, everyone. What a beautiful day! Nice to see you.” Ujar Momo memulai perkenalan. Suara cemprengnya sontak membuat anak-anak tertawa lepas.

“Nice to meet you too, Momo” Jawab mereka serempak.

“Okay, my dude. My name’s Momo. I’m 2 years old. And I’m the cutest cow in the world. Ha..ha..ha..” ungkap momo diiringi dengan tawa khasnya.

“Starting today, I’ll like to be his parther to teach English. Having fun, ya” imbuhnya. Tidak butuh waktu lama bagi Momo untuk menjalin keakraban dengan para siswa. Setelah berkeliling dan berkenalan satu per satu, canda tawa pun mewarnai kelas pertama kami.

Mereka semakin dibuat gemes dengan tingkah Momo yang lucu dan sedikit usil. Sontak, anak-anak itu berebut mencubit pipi momo, mengelus-elus kepala dan memegang tangan dan kaki Momo. Ya, Momo benar-benar tengah menjadi artis di sekolah tempat saya mengajar. Setiap anak-anak berjumpa dengan saya, maka yang ditanyakan pertama kali adalah, “Yanda, Momo dimana?” “Besok Momo masuk kelas lagi kan yanda?” “Aku gemes sama Momo” dan masih banyak kesan-kesan lain yang mereka ungkapkan kepada si kecil Momo.

Saya tidak menyangka, respon anak-anak akan sedemikian antusiasnya pada karakter boneka yang saya mainkan. Saya bukan pendongeng bukan pula pembicara yang baik. Menghadirkan karakter Momo adalah kenekatan yang saya buat. Bahkan saya masih bingung menentukan karakter momo akan seperti apa di depan anak-anak. Beberapa menit sebelum kelas dimulai, saya masih mencoba-coba mencari suara yang akan saya pakai untuk mengisi  karakter boneka sapi itu.

Bel tanda masuk telah berbunyi. Saya masih bingung mencari suara yang pas untuk karakter boneka yang saya bawa. Nekat adalah modal utama yang saya pegang. Berbekal keyakinan dan do’a. saya pun masuk kelas pertama saya bersama boneka sapi bernama Momo.

Akhirnya kubiarkan momo menemukan karakternya sendiri di tengah anak-anak. Ketika pertama kali saya memperkenalkan Momo kepada para siswa, respon mereka sungguh luar biasa. Meski saya menyadari, saya masih sering kali menemukan kebingungan dalam membagi peran dengan karakter Momo. Namun, melihat murid-murid saya begitu antusias dengan kehadiran Momo ditengah-tengah mereka, membuat saya semakin bersemangat untuk selalu mengajak boneka tangan ini turut serta dalam mengajar bahasa inggris.  Suasana yang demikian ini pula lah yang akhirnya membentuk karakter momo. Dan Momo pun menemukan jati dirinya. Seekor sapi yang periang, bersuara cempreng, banyak tingkah, dengan gaya tertawa yang khas dan tentu saja suka bercanda dengan anak-anak. Ini pulalah yang akhirnya menjadikan anak-anak selalu mengelu-elukan Momo dan selalu menantikan kehadirannya saat pelajaran bahasa inggris.

Ya, Momo memang hanyalah boneka sapi. Aktivitasnya terbatas. Namun kehadirannya ditengah-tengah kami memberikan nuansa berbeda dalam pembelajaran yang berjalan selama ini. anak-anak bisa belajar berbicara bahasa inggris tanpa beban. Mereka berbicara dengan momo dengan penuh antusias. Saya tidak lagi harus sering-sering mengeluarkan nada keras saya untuk menenangkan anak-anak yang asyik dengan mainan mereka sendiri. Mereka kini punya teman baru yang lucu. Meski karena tingkah konyolnya, Momo harus mendapat berbagai julukan dari anak-anak. Momo crazy, Momo badut, Momo imut, dan julukan-julukan lain yang mendarat ditelinga saya.

****

“Moooomoooo” teriak anak-anak pagi itu. “Horee..Momo datang” seru anak-anak yang lain. Meski Momo belum mengeluarkan batang hidungnya, anak-anak sudah bisa menebak kalau saya hadir bersama Momo. Tas batik warna coklat yang saya jinjing saat masuk kelas menjadi penandanya. Tas kecil yang membawa Momo ke setiap kelas yang saya masuki.

Saya mengawali kelas dengan memberikan informasi penting berupa rule/ aturan berkaitan dengan kehadiran Momo. Berkaca pada kelas-kelas saya sebelumnya, kehadiran Momo membuat anak-anak sangat senang dan gemas. Mereka berkali-kali maju ke depan untuk memegang Momo, mencubit pipi, menarik kaki, menjabat tangan, mencium bahkan memegang kepala Momo. Hal ini tentu saja mengganggu proses pembelajaran. Saya sempat dibuat kalang kabut karena tingkah mereka. Dan kelas pun sontak berubah gaduh. Maka pagi itu saya mengeluarkan peraturan baru untuk kelas saya. “Okay, Yanda has one rule for you all. Momo will learn here among us. But, no one  permitted to make something rude to Momo.” Saya pun menjelaskan kepada mereka bahwa anak-anak tidak boleh menarik-narik kaki atau tangan Momo. Mereka tidak diijinkan untuk maju ke depan kelas ketika saya menjelaskan materi terutama tentang grammar. Alhamdulillah anak-anak mengerti. Mereka bisa lebih tertib sekarang. Sebagai gantinya Momo yang lebih banyak berkeliling, memeriksa hasil kerja mereka, membenarkan kesalahan mereka, dan bercanda ria dengan mereka. Tentu saja dengan gaya khasnya, atraktif dan lucu. Momo dengan tingkahnya yang super membuat anak-anak menjadi lebih antusias untuk belajar. Setidaknya itu yang saya rasakan semenjak keberadaan Momo di tengah-tengah kami.

Saya jadi lebih mengerti sekarang, mengajar tidak hanya berarti bisa membuat anak-anak memahami materi yang kita ajarkan. Lebih dari itu, metode dan teknik mengajar menjadi point penting bagaimana proses pembelajaran itu seharusnya berjalan. Anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka punya cara dan gaya belajar dan berinteraksi yang berbeda dengan orang dewasa. Ketika mereka mulai bosan di kelas, berarti ada yang salah dengan proses pembelajaran. Ketika mereka sulit menangkap materi yang kita ajarkan, bisa jadi kita kurang mengenal gaya belajar mereka. Sehingga kita tidak bisa menganalisis kelebihan dan kelemahan mereka dalam belajar. Setiap anak pada dasarnya terlahir dengan membawa keunikannya masing-masing. Tidak ada dari mereka yang terlahir di dunia, bersekolah kemudian tidak bisa apa-apa. Mereka semua unik dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Menjadikan suasana kelas senantiasa bersemangat, penuh keceriaan dan selalu dinanti-nantikan oleh anak-anak bukanlah tugas yang mudah. Butuh banyak proses untuk mencapai hal demikian. Maka menjadi kreatif dan inovatif, bagi seorang guru, sangat dibutuhkan guna menciptakan pembelajaran yang interaktif, komunikatif dan inspiratif. Semua mengalami proses, tidak bisa diciptakan secara instan.

Saya dan Momo pun masih harus banyak belajar bagaimana menciptakan suasana kelas yang selalu nyaman, menyenangkan, ceria tapi materi tetap dapat tersampaikan dengan baik. Kami terus berusaha menjalin hubungan yang lebih dekat agar bisa bekerja sama dengan baik. Semoga kehadiran Momo membawa dampak yang positif bagi peningkatan kemampuan siswa dalam banyak aspek khususnya berkenaan dengan bahasa inggris dan akhlak pada umumnya. Amin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s