FLP Challenge: Malam Kelabu di Sudut Kota


images

Tiba tiba orang itu menghentikan langkahku. Tangan kekarnya begitu cepat menyergap tubuh kecil ini. “Jangan berteriak!”gertaknya.
“Lepaskan.” Nyaliku mendadak runtuh saat kudapati sebilah pisau sudah hampir menyentuh kulit leherku. Mulutku seakan tersumbat oleh kapas. Untuk sekedar mengerangpun tak mampu. Lidah mendadak kelu.
Jalan sepanjang Adi Sucipto begitu lengang. Lalu lalang kendaraan yang biasa memenuhi jalanan tak lagi nampak. Lampu lampu pertokoan pun sudah meredup beberapa jam yang lalu. Hanya gerobak kecil yang terlihat melintas dari kejauhan. Meski agak samar aku tahu itu adalah gerobak pedagang kaki lima yang biasa berjualan di sekitar kampus IHS.

 

 

Ingin sekali mulut ini berteriak untuk meminta tolong. Namun sepertinya laki laki itu bisa menerka apa yang ada dipikiranku.
“Jangan sekali kali kau berani berteriak atau kubunuh kau” gertaknya lagi. Kali ini terdengar lebih garang.
“Serahkan dompet kau!” cengkramannya semakin erat. Membuat sekujur tubuhku terasa kaku.
Kurogoh dompet yang ada disaku belakang celanaku. Dengan cepat dompet itu beralih ke tangan lelaki berjaket hitam itu.
“HP dan jam tangan juga.” pintanya.
Kali ini tanganku bergerak lebih cepat. Kuhantamkan sikuku hingga mengenai bagian perutnya.
Laki laki itupun sontak mengaduh. Kulayangkan tanganku sekuat tenaga ke arah wajahnya. Namun belum sampai kepalan tangan ini menghantam, tenagaku seolah runtuh perlahan. Terasa ada yang aneh di perutku. Rasa perih kemudian menyeruak. Kulihat jari-jemariku telah berlumur darah.
Pisau yang dipegangnya tiba-tiba terlepas begitu saja. Posisi tubuhku makin membungkuk, menahan rasa perih yang makin terasa.
Masih kulihat tubuh kekarnya berdiri mematung di depanku. Wajahnya berubah pucat pasi. Kakiku tak kuat lagi menopang beban tubuh ini. Malam terasa semakin dingin. Lebih dingin dari malam malam sebelumnya. Laki laki itu berjalan mundur secara perlahan, kemudian lenyap dari pandangan. Tubuhku tergeletak layu di bawah remang remang lampu kota. Entah kenapa langit terlihat lebih syahdu malam itu. Meski perlahan berubah samar.
“Laa…ila..ha…illallah.” ucapku lirih dengan nafas tersengal. Kalimat terakhir yang mampu kuucap sebelum semua benar benar menjadi gelap.

Published by

muhsinsakhi

lahir di sebuah perkampungan kecil di Boyolali tepatnya di desa Sambiroto, Sindon, Ngemplak, Boyolali. Mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan FKIP Bahasa Inggris. Saat ini berprofesi sebagai pengajar di SD Al-Azhar Syifa Budi Solo. Tergabung dalam komunitas menulis FLP Solo Raya. Beberapa karyanya dimuat dalam buku antologi bersama seperti “Kapur dan Papan: Kisah Menjadi Guru” (2015), “Dupa Mengepul Di Langit” (2015), “Kapur dan Papan: Mendidik dengan Hati” (2016), “Ensiklopedi Penulis Nusantara” (2016), “Ketika Buku Berkisah Tentang Aku” (2016), “Bayang Terang Pendidikan” (2018) dan “Kaki Api” (2018) serta buku solo yang baru terbit tahun ini berjudul “Catatan Di Balik Ruang” (2020)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s