Sedekah Paling Mudah


54447394_128703478271383_4555708994702433400_nDari sekian banyak kebaikan, ada satu kebaikan yang bisa mengubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Kebaikan yang sederhana namun berdampak luar biasa. Kebaikan yang tidak membutuhkan biaya sedikitpun untuk melakukannya. Kita hanya perlu menarik kedua ujung bibir hingga membentuk lengkungan bak bulan sabit. Kemudian tebarkan dengan tulus ke arah orang-orang terdekat, sahabat, dan mereka yang ada di sekitar kita. Maka satu kebaikan kecil telah kita lakukan. Tersenyum.

Rasulullah adalah pribadi yang senantiasa menebar senyum. Beliau selalu menampakkan wajah teduhnya setiap kali berjumpa dengan para sahabat. Bahkan ketika beliau menahan amarah, senyumlah yang beliau tampakkan. Itulah mengapa tiada kebosanan bagi para sahabat untuk memandang wajah beliau. Bahkan sebaliknya, kerinduan yang mendalam. Seperti yang dirasakan oleh Ja’far bin Abi Tholib dan juga para sahabat yang harus hijrah ke negeri Habasyah dalam waktu yang lama. Kerinduaan mereka untuk berjumpa dan memandang wajah beliau begitu mendalam.

Senyum merupakan sunah nabi yang paling mudah dilakukan. Namun sayangnya hal kecil ini sering kali kita remehkan. Sehingga amalan yang sejatinya sangat mudah dilakukan menjadi begitu sulit dan berat untuk dilakukan. Ada yang karena dihinggapi rasa gengsi dan perasaan bahwa dirinya lebih hebat sehingga enggan untuk bertegur sapa dengan saudaranya sendiri. Atasan enggan tersenyum ketika bertemu dengan bawahan. Guru merasa tidak perlu tersenyum ketika berjumpa dengan murid-muridnya. Bahkan ada seorang ustadz yang karena ingin tampak berwibawa di hadapan jamaahnya, bibirnya tertutup rapat dan susah untuk sekedar bertegur sapa.

“Tabassumuka fii wajhi ahiika shodaqoh” senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Inilah salah satu ciri pribadi seorang muslim. Apabila berjumpa dengan saudaranya, ia selalu menjabat tangannya kemudian mengucapkan salam dengan wajah yang menyenangkan dan senyum yang ikhlas. Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menebar senyum, sebelum otot dan syaraf di wajah menjadi semakin sulit untuk menebar senyum, sebelum otot dan syaraf di wajah menjadi semakin sulit untuk digerakkan. Aamiin

 

Published by

muhsinsakhi

lahir di sebuah perkampungan kecil di Boyolali tepatnya di desa Sambiroto, Sindon, Ngemplak, Boyolali. Mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan FKIP Bahasa Inggris. Saat ini berprofesi sebagai pengajar di SD Al-Azhar Syifa Budi Solo. Tergabung dalam komunitas menulis FLP Solo Raya. Beberapa karyanya dimuat dalam buku antologi bersama seperti “Kapur dan Papan: Kisah Menjadi Guru” (2015), “Dupa Mengepul Di Langit” (2015), “Kapur dan Papan: Mendidik dengan Hati” (2016), “Ensiklopedi Penulis Nusantara” (2016), “Ketika Buku Berkisah Tentang Aku” (2016), “Bayang Terang Pendidikan” (2018) dan “Kaki Api” (2018) serta buku solo yang baru terbit tahun ini berjudul “Catatan Di Balik Ruang” (2020)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s