Senyum Membawa Nikmat


65478707_2315264861829659_1460605681722720256_nAda satu masa dimana bibir menjadi begitu sulit untuk dikembangkan. Saat acuh lebih jumawa untuk berkuasa. Kegelisahan memenuhi ruang hati yang terluka. ‘Berarti kamu belum benar-benar ikhlas.’ Bisik sang nurani. ‘Ya, senyum yang kita berikan masih terganjal pada pamrih,’ begitu ucapnya.

Pagi itu saya kembali merenungi satu masa. Tentang suatu keadaan yang menjadikan saya bertingkah tidak biasa. Mencoba untuk acuh terhadap lingkungan dan sedikit kata untuk bicara. Kusembunyikan senyum yang biasa memancar dari wajah. Saya benar-benar enggan untuk melontarkan senyum kepada orang lain. Ada yang menggunduk keras di dalam jiwa. Rasa sakit hati yang muncul saat senyum berbalas  kesinisan. Keramahan dibalas dengan keacuhan.


‘Berarti kamu belum benar-benar ikhlas.’ Kata-kata itu pun kembali terlontar dari mulut teman saya, saat kami bercakap-cakap di serambi masjid siang itu. Teman saya kemudian melanjutkan bicaranya, ketika kita tersenyum kepada  orang lain dengan hati yang ikhlas, seberapa pahit respon mereka tidak akan mempengaruhi hati kita. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan saat senyum yang kita tebarkan tidak dibalas dengan senyum serupa. Yang penting ikhlas. Tersenyum semata-mata mengharap ridho Allah Ta’ala.

Saya pun membenarkan dalam hati. Senyum kepada orang lain memang harus benar-benar ikhlas. Seperti rumus menolong.  Jangan mengharap balas budi. Jatuhnya bisa sakit hati.  Saya jadi menyadari satu hal, bahwa senyum itu diperlukan keluasan hati. Senyum itu diperlukan kelurusan niat. Agar kita siap dan kuat saat senyum dibalas dengan sikap acuh. Tersenyumlah karena kita tahu itu adalah sunah Rasulullah. Ketika saya mengikuti sunah nabi, maka pahala akan terus mengalir.

Senyum adalah ibadah yang sangat sederhana. Ia menjadi sarana sedekah yang mudah karena tidak butuh biaya untuk mengeluarkannya. Kita hanya perlu menarik ke atas dua ujung bibir hingga terbentuk lengkungan bak bulan sabit. Kemudian tebarkan dengan tulus saat berjumpa dengan teman atau kerabat. Maka satu kebaikan kecil telah kita lakukan.  “Tabassumuka fii wajhi ahiika shodaqoh” senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Inilah salah satu ciri pribadi seorang muslim. Apabila berjumpa dengan saudaranya, ia akan tersenyum kemudian mengucap salam sambil menjabat erat tangannya.  Seketika dosa-dosa pun berguguran.

Senyum itu memiliki kekuatan ‘magis’ yang mampu mengubah suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Ia mampu menularkan virus kebahagiaan bagi mereka yang melihatnya. Orang-orang yang tersenyum lebih banyak disukai dari pada mereka yang kaku dan lebih sering menekuk mukanya.  Wajah yang tersenyum akan memancarkan aura positif untuk orang-orang disekitarnya. Seulas senyum yang tulus mampu meredam emosi seseorang. Sebab senyum itu indah dipandang, menyejukkan hati dan membuat jiwa menjadi tenang.

Ketika saya merasa tertekan dan sedih, saya berusaha untuk tetap tersenyum. Karena itu berdampak pada perubahan suasana hati saya. Meski masalah tidak seketika hilang, namun saya merasa lebih baik saat tersenyum. Perasaan dan pikiran menjadi lebih rileks. Dengan tersenyum, orang disekitar kita akan merasa nyaman. Bahkan saat saya merasa sedih dan galau, mendadak bisa melupakan sejenak kesedihan itu ketika melihat orang-orang disekeliling saya tersenyum.   Namun sekali lagi, kuncinya memang pada kata ikhlas. Setiap amalan kalau dilandasi dengan keikhlasan maka jatuhnya kebaikan. Senyum yang dipaksakan akan jelas sekali perbedaannya dengan yang keluar dari hati yang ikhlas. Dari situ saya kembali belajar makna keikhlasan dalam setiap amal perbuatan.

Saya jadi teringat pada satu kisah ketika baginda Rasul Muhammad SAW ditegur secara langsung oleh Allah SWT karena pernah bermuka masam kepada  sahabat yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum ra. Padahal dikalangan para sahabat, Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang sangat murah senyum. Ketika itu Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Rasulullah untuk masuk islam dan minta diajarkan hal-hal terkait dengan agama, namun sang Nabi menampakkan wajah masamnya karena tengah disibukkan dengan urusan kaum Quraisy. Maka Allah SWT pun langsung menegur beliau.  Kisah ini kemudian diabadikan dalam surat Abasa ayat 1-11.

Saya pernah membaca satu artikel di media masa yang mengulas manfaat tersenyum. Terdapat sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa untuk tersenyum dibutuhkan 17 otot untuk bekerja, sedangkan ketika cemberut, kita hanya memerlukan kerja 62 otot. Itulah kenapa lebih ringan untuk menarik kedua ujung bibir ke atas dari pada menariknya ke bawah. Jika dikaji dari sisi medis, tersenyum juga berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Ketika kita tersenyum, sistem imun dalam tubuh akan meningkat, tekanan darah yang awalnya tinggi bisa kembali normal. Selain itu, masih menurut artikel tersebut, tersenyum juga bisa membuat kita menjadi lebih awet muda.  Karena ketika kita tersenyum, sedikit banyak dapat mengurangi beban pikiran yang bisa menyebabkan penuaan dini.

Percaya atau tidak, tersenyum juga mampu membuat seseorang terlihat lebih menarik. Ketika kita tersenyum, akan terpancar keindahan hati (inner beauty). Wajah tampak lebih berseri, ramah dan berkharisma. Sangat beda dengan mereka yang lebih sering cemberut atau cuek. Jangankan mendekat, melihat saja pasti orang enggan. Namun yang perlu diingat, untuk seorang wanita, sebaiknya tidak mengumbar senyuman kepada laki-laki yang bukan mahram karena bisa mendatangkan fitnah dan syahwat.

Itu hanya sekelumit manfaat yang bisa kita dapatkan dari aktivitas sederhana ini. Masih banyak  kebaikan-kebaikan yang bisa kita peroleh dari aktifitas tersenyum. Kini saya merasa menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mampu mengontrol emosi. Selain itu saya bisa belajar lebih ikhlas ketika melemparkan senyum ke orang-orang disekitar saya, tanpa perlu merasa risau ketika mereka bersikap acuh atau cuek.

Saat engkau merasa bahwa dunia begitu membencimu, menjadikanmu rapuh dan seakan tak berdaya, TERSENYUMLAH. Saat engkau merasa masalah tidak jua beranjak dari dunia kecilmu, TERSENYUMLAH. Bahkan saat engkau menyadari hidupmu begitu memprihatinkan, berusahalah untuk tetap TERSENYUM. Senyum memang tidak serta merta menghilangkan segala masalah yang kita hadapi, senyum juga tidak langsung menjadikan kita seorang milyarder. Tapi senyum akan menjadikan kita semakin rileks dan tenang, wajah tampak awet muda dan badan jadi sehat.

Published by

muhsinsakhi

lahir di sebuah perkampungan kecil di Boyolali tepatnya di desa Sambiroto, Sindon, Ngemplak, Boyolali. Mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan FKIP Bahasa Inggris. Saat ini berprofesi sebagai pengajar di SD Al-Azhar Syifa Budi Solo. Tergabung dalam komunitas menulis FLP Solo Raya. Beberapa karyanya dimuat dalam buku antologi bersama seperti “Kapur dan Papan: Kisah Menjadi Guru” (2015), “Dupa Mengepul Di Langit” (2015), “Kapur dan Papan: Mendidik dengan Hati” (2016), “Ensiklopedi Penulis Nusantara” (2016), “Ketika Buku Berkisah Tentang Aku” (2016), “Bayang Terang Pendidikan” (2018) dan “Kaki Api” (2018) serta buku solo yang baru terbit tahun ini berjudul “Catatan Di Balik Ruang” (2020)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s