Life is a Happiness


Terkadang saya berpikir, mengapa saya harus mencemaskan dunia sedang dunia hanyalah persinggahan sementara. Ibarat seorang musafir, kita adalah orang asing yang melakukan pengembaraan panjang dan mampir sejenak kerumah warga untuk melepas penat dan meminta seteguk air pelepas dahaga. Setelah itu kita harus melanjutkan perjalanan.  Karena perjalanan hidup kita tidaklah singkat, ada beberapa tempat yang harus kita singgahi. Kehidupan sebenarnya adalah setelah kematian kita didunia. Saat jasad kita mulai rapuh, tak berdaya akhirnya kita biarkan terbujur kaku di bawah tanah, maka estafet tetap akan dilanjutkan oleh ruh kita yang harus melewati berbagai zona kehidupan sampai tiba di dua pintu yang bernama surga dan neraka.

Continue reading “Life is a Happiness”

Advertisements

Menulis dengan hati


Bismillahirrohmanirrohim, akhirnya untaian kata inilah yang ingin pertama kali ku tulis, sebelum rangkaian kata lain yang akan engkau baca disini. Bukan tanpa maksud aku tuliskan basmallah di awal. Aku ingin Allah menjaga hati ini, jika sudah kotor, maka pintaku Dia kan bersihkan dari noda-noda yang telah melekat kuat di hati. Aku ingin merangkai kata dengan niat yang benar dan tulus. Berbagi cerita dengan perasaan tenang dan damai. Bukan kebencian atau bahkan kemunafikan. Aku ingin apa yang aku tuliskan, berdampak positif bagi diri dan orang lain. Bukan sebaliknya, menyesatkan dan merisaukan. Aku ingin menghiasi kebenaran dengan kata-kata indah, sehingga kebenaran pun terasa indah untuk dirasakan. Seperti kata Ust. Muhammad Fauzil Adhim, “Keindahan tanpa kebenaran ibarat makanan lezat tanpa gizi. Kebenaran tanpa keindahan, ibarat obat sakit gigi, ia dicerna hanya saat sakit; saat benar-benar membutuhkan.” Aku hanya ingin menuliskan kata secara sederhana sehingga engkau akan mudah menangkap apa yang aku maksudkan. Seperti kata orang bijak, kesederhanaan menunjukkan kebijaksanaan. Dan kesederhanaan menunjukkan kematangan ilmu. There is a worth of meaning in simple words. Then the worth of word comes from our inner world. Segala asa menjadi tidak akan bernilai tanpa tindakan dan bukti, maka yang harus ku lakukan sekarang adalah menuliskan kebenaran untuk kebaikan bersama. Semangat!!!^_^

TAK BERGERAK SAMA DENGAN MATI


TAK BERGERAK SAMA DENGAN MATI

Apa jadinya jika air dimuka bumi ini tiba-tiba terhenti begitu saja? Air-air disungai terhenti. Air hujan berhenti berkondensasi. Air terjun tertahan di puncak gunung. Air mata tak lagi menetes. Segala zat berwujud cair berhenti bergerak. Cukup berhenti bergerak tidak hilang.

Keseimbangan bumi pada akhirnya terkoyak,hilir akan kehabisan pasokan air, kemarau berkepanjangan, akhirnya makhlukpun akan binasa.  Air akan menggenang, kemudian mengeruh, sirkulasi terhenti, perlahan lenyap akhirnya tak memberi manfaat.

Begitu pula pada manusia. Jika mereka tidak lagi mampu atau tidak mau untuk melakukan pergerakan, maka tidak ada manfaat yang bisa diberikan . karena berhenti sama dengan mati. Akal yang tidak mau digunakan untuk berpikir lama-lama tumpul kemudian berkarat akhirnya tak berguna. Mati. Lisan yang tidak mau digunakan untuk berkata kebaikan sama dengan mati. Hati yang tidak mau digerakkan untuk memaknai kehidupan pada akhirnya akan mati. Ingat tidak bergerak sama dengan mati. Hanya dengan bergerak, manusia bisa memberi manfaat setidaknya bagi diri sendiri. Seperti air, semakin jauh ia mengalir, semakin banyak kemungkinan manfaat yang bisa ia berikan bagi makhluk disekitarnya. Maka bergeraklah, lakukan tindakan-tindakan yang memberi kebaikan, tidak apa-apa memulai dari hal-hal kecil. selagi nafas masih terjaga dan ruh masih di dada, maka bergeraklah untuk kebaikan. Hidup sekali bermanfaat selamanya. Bravo!!!

(TTS: Chapter 1) Akhirnya aku menjadi guru!!!


“kamu mau ambil jurusan apa sin?” Tanya teman satu kelasku saat SMA.

“Yang pasti aku tidak mau jadi guru, aku mau ambil jurusan arsitek atau farmasi.”kataku penuh keyakinan ketika itu, seolah berusaha menepis keraguan yang ada dalam diri.

Saat itu kami baru saja selesai UN, seperti kebanyakan siswa lulusan SMA, kami mulai memperbincangkan jurusan yang akan kami ambil seusai lulus SMA. Teman-temanku pun mengutarakan jurusan yang akan mereka ambil. Ada yang pingin ambil jurusan managemen ekonomi, bahasa inggris, farmasi, tehnik mesin, bahkan beberapa teman kami sudah ada yang diterima di PTN lewat jalur PMDK.

Continue reading “(TTS: Chapter 1) Akhirnya aku menjadi guru!!!”

Pendekar Semut


Suatu hari, saat saya tengah asyik membaca-baca buku di perpustakaan, tiba-tiba mata kecil saya tertarik untuk mengamati aksi makhluk-makhluk kecil yang tengah khuyuk mengangkat seekor kupu-kupu yang tinggal raga. Cukup lama mata saya mengamati gerak-gerik makhluk-makhluk unik itu. Gerakan mereka tampak sangat kompak dan teratur. Seketika saya tersenyum seraya bergumam dalam hati, subhanallah. Kok bisa ya, seekor binatang yang tidak dibekali akal, dapat hidup rukun, teratur dan saling tolong menolong?? Sesaat pikiran saya dibawa pada peristiwa-peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Untuk yang kedua kalinya saya kembali tersenyum, kali ini tersenyum karena geli ketika melihat tingkah lucu makhluk bernama manusia yang tengah beraksi di TV, perseteruan panjang dua artis kondang tanah air yang berawal dari lokasi syuting, para anggota DPR yang tiba-tiba adu jotos hanya karena perbedaan pendapat, kerusuhan antar supporter sepak bola yang tiada henti dan masih banyak lagi tingkah-tingkah lucu nan menggemaskan yang mereka peragakan. Ah, negeriku…terkadang saya malu pada diri sendiri. Saya malu pada semut-semut kecil yang ternyata lebih bermartabat dibanding kita sebagai makhluk yang dibekali akal untuk berpikir.

Continue reading “Pendekar Semut”

BENING


Bening-bening itu membersamainya di senja yang memancarkan kemilau cinta. Sujud syukur ia dalam dekapan cinta yang teramat ia rindukan. “Suamiku,” ucapnya lirih dalam isak tangis yang tertumpah di dada lelaki yang teramat ia rindui,”aku sangat mencintaimu.”

          Lelaki bertubuh jakung itu semakin erat mendekapkan kedua tangannya dalam dekapan hangat penuh rindu sang istri tercinta. “Aku juga sangat mencintaimu sayang.” Airmata mulai menggenangi matanya.

Continue reading “BENING”

TAPAK TAPAK PERSAHABATAN


Terangkum indah dalam secarik coretan kisah kita kala itu. Kalian menggenggam erat tanganku yang gemetar, merangkul tubuhku yang lunglai dan meniupkan angin semangat berjuang yang menyegarkan hatiku. Kamu bisa! Itu yang sering kalian ucap ketika aku rapuh dalam setiap kegagalanku.’

          Kalian tersenyum ramah ketika aku datang. Menebarkan bunga-bunga cinta persahabatan dari hati di atas jantung hatiku. Menjadikannya tumbuh subur mewangikan tapak-tapak langkah perjalanan sederhana kita membangun persahabatan sekokoh gunung yang tinggi menjulang.

Continue reading “TAPAK TAPAK PERSAHABATAN”

Agar mimpi tidak sekedar impian


Aku bermimpi rumah kecilku penuh dengan buku-buku tua, mereka terbang, menari dan berputar di langit-langit kamarku. Aneh, barisan kata tiba-tiba keluar dari balik buku-buku itu seperti kunci lagu yang keluar dari petikan gitar melodi. Tak terdengar suara, hanya hembusan angin yang mengalirkan kata-kata indah menembus kepala kemudian  bermuara di otak kecilku.

Aku kembali bermimpi, tiba-tiba jari-jari ini begitu lincah menggores kata. Seperti aliran air yang begitu tenang menelusuri tanah kehidupan. Ratusan ide melayang-layang di atas kepala, alhasil berlembar-lembar kertas penuh dengan goresan tinta kata.

Continue reading “Agar mimpi tidak sekedar impian”

Aku dan Realita Kehidupan


Kulangkahkan kaki setapak demi setapak, melangkah pelan dipadang gersang, didepan mata kudapati gambaran pilu sebuah kehidupan. Sesosok tua berjalan terseok-seok di pingiran kota, diantara gedung-gedung megah perkotaan, ia terus berjalan, bertumpu pada kedua tangannya, dua kakinya tak lagi berdaya menopang tubuhnya yang meski tak lagi berdaging. Laki-laki tua itu, kulihat wajahnya yang tirus dan layu, namun sinar di matanya mengatakan keikhlasan dan keberanian. Hatiku iba, inginku ulurkan tangan ini, tapi ingin itu tak jua berbuah nyata.

Mata kecilku tak sanggup menyaksikan pemandangan didepanku ini yang setiap detik meski pelan tapi kurasakan ia pun semakin jauh dari pandangan. Kulemparkan pandangan membuang arah, mencoba tangkis kesedihan, tapi malang, malah kudapati sesosok laki-laki tua kecil berseragam hijau mendorong gerobak sampah warna merah, pergi pagi sekali. Ia sibuk punguti sampah-sampah masyarakat kota. Ia, laki-laki tua kecil berseragamkan kain hijau tengah mendorong gerobak sampah merah, tubuhnya tak lebih tinggi dari gerobak sampah sehingga jikalau engkau lihat dari kejauhan, maka seakan-akan gerobak merah itu berjalan sendiri. Ah, kucoba acuh, tapi alam kecilku menolak, kudapati jiwaku tersentil oleh keegoisanku, kekanak-kanakanku, kesombonganku menelentarkan sekeping mata uang, padahal itu sangat berarti bagi mereka.

Sekali lagi, mataku ku buang arah, coba tak pedulikan, karena aku adalah manusia terhormat. Entah apa hendak Tuhan kepadaku, mataku tak pernah lepas dari pandangan-pandangan getir tersebut, kali ini sesosok anak kecil dengan kakinya yang lincah, menari-nari sambil bernyanyi riang di depan ribuan manusia lalu-lalang di tengah terik siang yang membakar. Kuamati ia beberapa menit lamanya, tak satupun kulihat manusia-manusia terhormat itu, mungkin termasuk golonganku, mengulurkan tangan dari balik kaca mobil mewah mereka. Mungkin panas memburamkan penglihatan mereka. Tapi aku salut, atau mungkin sinis, terhadap semangat dan pantang menyerahnya. Meski manusia-manusia terhormat terlihat acuh, tapi anak kecil itu tak pernah sedetikpun membuang senyum tulusnya. Anak kecil itu terus memainkan alat musik sambil bernyanyi, meski tak seorangpun yang mau memperdengarkannya. Kali ini aku tak ingin membuang arah, aku tak ingin pura-pura acuh. Aku ingin pejamkan mata sejenak, mencoba berdamai dengan mata hati, membiarkan hati kecil berbicara dan mengatakan bahwa ada kehidupan penuh pilu disekitar kemegahan. Aku terus pejamkan mata kecilku, hingga butiran bening mengalir pelan dari kedua sudut mata ini.

KiSah mAsa dEpaN


…………………………..

Seratus tahun dihadapan, memulai langkahnya

manusia mulai hilang moral

kemudian pudarkan cinta, setelah itu akalpun ikut lenyap

Seratus tahun kedepan

manusia kembali purba

peradapan tak lagi mengenal mulia

angkara murka semakin mengganas

mereka kembali menjadi binatang buas

buram antara lawan atau kawan

Seratus tahun menjelang

meski terselubung dalam misteri,

Saussure ajarkan tanda-tanda

manusia binasa oleh alam

ataukah alam binasakan manusia?

tunggu suratan takdir dari-Nya

20 Januari 2010

SURAT CINTA UNTUK SAHABAT


Satu tahun lebih ternyata kita telah merajut benang persaudaraan itu, diruang kecil bernama blog ini. Kau, aku dan kita semua saling berbagi kisah dan kasih. Bahagia, sedih, marah, jengkel, kecewa semua adalah rasa yang wajar dalam jalinan persahabatan. Entah mengapa semua itu terasa indah untuk dikenang. Karena persahabatan kita tulus, bukan begitu sahabat? insyaallah. Ibarat masakan dengan beraneka rasa: manis, asin, asam, bahkan yang pahit dan pedas sekalipun rasanya tetap enak dan tidak hambar, karena bumbu utamanya adalah cinta.

Sahabat, sungguh aku bersyukur atas persahabatan ini. Meski kita jauh, tidak saling bertatap muka bahkan berjabat tangan (ikhwan only), tapi lewat tulisan-tulisan ini kita akhirnya saling mengenal dan memahami. Aku bersyukur karena aku peroleh banyak manfaat di sini. Ilmu, pengalaman, motivasi, nasihat, inspirasi dan tentu saja sahabat, adalah nikmat yang lebih dari cukup sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur kepadaNya. Thank U Allah…terima kasih Kau izinkan tangan ini untuk menulis setiap kata, otak kecil ini untuk terus berpikir dan menangkap inspirasi serta hati ini untuk senantiasa menemukan jalan cintaMu.

Sahabat, bukankah kita adalah makhluk sosialis yang saling membutuhkan satu sama lain, makhluk humanis yang memiliki rasa dan hasrat untuk mencintai dan dicintai. Dan dalam persahabatan, semua itu bias kita dapatkan. Maka bersyukurlah karena kita memiliki sahabat.

Sahabat, izinkan aku mengucap maaf untuk khilaf yang terkadang tidak aku sadari. Sungguh bukan maksud hati membuat kalian marah, tersinggung dan sedih. Namun, ego dan keterbatasan ilmu itulah sehingga terkadang hati, pikiran dan lisan tidak mampu berkompromi sehingga mengeluarkan bisa beracun yang sering kali tidak mengenal mangsanya.

Baiklah, kau, aku dan kita hari ini bertekad untuk menatap masa depan dengan penuh optimis, terus belajar, berpikir positif dan tidak akan menyerah pada kemunafikan. Dan aku, kau serta kita semua akan terus berusaha melawan nafsu dan tidak akan menggadaikan harga diri dengan kemunafikan.  Kita bertekad bersama-sama menggapai kemuliaan disisi-Nya, memperoleh kebahagian yang hakiki. Semoga kita bisa. Amin