Saya Menulis, Maka Saya Ada

Standar

13029727_868576606603855_1709210705183733101_o

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

-Rumah Kaca, h. 352-

(Pramoedya Ananta Toer)

Berkata-katalah, lambat laun menguap jua. Namun ketika engkau menuliskanya, sejatinya engkau tengah mendokumentasikan pemikiranmu dalam sebentuk tulisan yang tidak mudah menguap sebagaimana kata. Mungkin demikian yang hendak Pak Pram sampaikan lewat kutipan kalimat beliau di atas.

Lanjutkan membaca

Iklan

SURAT CINTA UNTUK SAHABAT

Standar

Satu tahun lebih ternyata kita telah merajut benang persaudaraan itu, diruang kecil bernama blog ini. Kau, aku dan kita semua saling berbagi kisah dan kasih. Bahagia, sedih, marah, jengkel, kecewa semua adalah rasa yang wajar dalam jalinan persahabatan. Entah mengapa semua itu terasa indah untuk dikenang. Karena persahabatan kita tulus, bukan begitu sahabat? insyaallah. Ibarat masakan dengan beraneka rasa: manis, asin, asam, bahkan yang pahit dan pedas sekalipun rasanya tetap enak dan tidak hambar, karena bumbu utamanya adalah cinta.

Sahabat, sungguh aku bersyukur atas persahabatan ini. Meski kita jauh, tidak saling bertatap muka bahkan berjabat tangan (ikhwan only), tapi lewat tulisan-tulisan ini kita akhirnya saling mengenal dan memahami. Aku bersyukur karena aku peroleh banyak manfaat di sini. Ilmu, pengalaman, motivasi, nasihat, inspirasi dan tentu saja sahabat, adalah nikmat yang lebih dari cukup sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur kepadaNya. Thank U Allah…terima kasih Kau izinkan tangan ini untuk menulis setiap kata, otak kecil ini untuk terus berpikir dan menangkap inspirasi serta hati ini untuk senantiasa menemukan jalan cintaMu.

Sahabat, bukankah kita adalah makhluk sosialis yang saling membutuhkan satu sama lain, makhluk humanis yang memiliki rasa dan hasrat untuk mencintai dan dicintai. Dan dalam persahabatan, semua itu bias kita dapatkan. Maka bersyukurlah karena kita memiliki sahabat.

Sahabat, izinkan aku mengucap maaf untuk khilaf yang terkadang tidak aku sadari. Sungguh bukan maksud hati membuat kalian marah, tersinggung dan sedih. Namun, ego dan keterbatasan ilmu itulah sehingga terkadang hati, pikiran dan lisan tidak mampu berkompromi sehingga mengeluarkan bisa beracun yang sering kali tidak mengenal mangsanya.

Baiklah, kau, aku dan kita hari ini bertekad untuk menatap masa depan dengan penuh optimis, terus belajar, berpikir positif dan tidak akan menyerah pada kemunafikan. Dan aku, kau serta kita semua akan terus berusaha melawan nafsu dan tidak akan menggadaikan harga diri dengan kemunafikan.  Kita bertekad bersama-sama menggapai kemuliaan disisi-Nya, memperoleh kebahagian yang hakiki. Semoga kita bisa. Amin