(TTS:Chapter 9) Momo, I’m In Love


cropped-cropped-cropped-cropped-img_56801“Momo dimana yanda?” tanya anak-anak siang itu. Pertanyaan yang mulai akrab terdengar di telinga saya sejak beberapa hari terakhir ini. Sejak kehadirannya di hari pertama saya mengajar ketika itu, sosok Momo mendadak menjadi artis sekolah yang selalu dicari-cari oleh siswa-siswi saya. Banyak anak-anak yang antusias dan ingin berkenalan dengannya. Mereka pun saling berebut untuk bercakap-cakap, mencium,  dan berjabat tangan.

Continue reading “(TTS:Chapter 9) Momo, I’m In Love”

Advertisements

Saya Menulis, Maka Saya Ada


13029727_868576606603855_1709210705183733101_o

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

-Rumah Kaca, h. 352-

(Pramoedya Ananta Toer)

Berkata-katalah, lambat laun menguap jua. Namun ketika engkau menuliskanya, sejatinya engkau tengah mendokumentasikan pemikiranmu dalam sebentuk tulisan yang tidak mudah menguap sebagaimana kata. Mungkin demikian yang hendak Pak Pram sampaikan lewat kutipan kalimat beliau di atas.

Continue reading “Saya Menulis, Maka Saya Ada”

Diorama Cinta Di Istana Tuhan


cover buku

Tanggal dan bulan yang terlupakan, tahun 1992

Diawali dengan scene bocah-bocah kampung yang berjalan cepat ditengah guyuran hujan yang semakin deras. Dengan tas plastik yang dijinjing di tangan, sedang tangan lainnya memegang payung kecil yang sudah bolong. Mereka berlari menerobos hujan. Ditengah jalan yang berbatu, kaki-kaki mungil itu menapakkan langkah. Rasa lega tergurat jelas di wajah polos mereka  ketika langkah kecil itu mulai menapaki setiap tangga kecil menuju serambi. Salam tulus do’a keselamatan mereka haturkan untuk sahabat-sahabat mereka yang lebih dahulu duduk melingkar di meja bundar yang sudah usang dan berlubang. Ditengah hujan yang semakin lebat salah seorang dari kelompok kecil itupun mulai membuka salam kemudian mengajak serta bocah-bocah kecil itu membuka juz amma, sebagian membawa al-Qur’an yang telah berubah warna. Mereka tidak tahu persis sejak kapan kitab-kitab itu mulai mengisi rak-rak kecil di surau itu. yang mereka tahu, kitab itu telah begitu usang. Lembar kertasnya berwarna kuning kecoklatan, dan disatukan dengan sehelai benang. Jika ditaksir kitab itu sudah berumur puluhan tahun.

Continue reading “Diorama Cinta Di Istana Tuhan”

(TTS: Chapter 8) A Teacher With The Thousand Names


name-story“Yanda ganteng” sapa gavril pagi itu. saya hanya tersenyum mendengar sapaan bocah usia 8 tahun tersebut.  Sapaan itu menjadi semakin sering kudengar, sejak ia duduk di bangku kelas 3. Lebih tepatnya ketika saya menjadi guru bahasa inggrisnya di kelas 3. Meski Saya sudah mengenalnya sejak ia duduk di bangku kelas 1, tapi waktu itu saya tidak mengenal betul anak itu. selain saya masih berstatus sebagai guru magang, juga karena saya cuma beberapa kali masuk kelasnya sekedar mendampingi guru bahasa inggris  yang mengajar ketika itu.

Continue reading “(TTS: Chapter 8) A Teacher With The Thousand Names”

Buku, Film dan Sastra


buku sastraJika pada akhirnya aku hidup diantara deretan buku, itu adalah takdirku. Jika kemudian aku hanyut ditengah layar lebar yang menyuguhkan segudang cerita, itu pilihanku. Dan ketika aku terjebak di dalam dunia yang begitu asyik memaknai, merenungi dan menguliti sajak, aku lebih senang mengatakan bahwa ada yang menuntunku kearah sana.

Buku, film dan sastra adalah tiga hal yang membentuk karakter dan cara pandangku terhadap kehidupan. Mungkin lebih tepatnya, mengajarkanku memaknai setiap scene yang diciptakan oleh Tuhan. Ada makna yang mengalun lembut dari baris kata yang tertuang. Ada ketulusan untuk berbagi kisah dan kasih lewat lembar-lembar kertas. Ada cinta yang mengiringi setiap gores sajak yang mereka ukir. aku belajar tentang keikhlasan, keindahan, kejujuran dan  kebijaksanaan. Semakin banyak ilmu yang kita dapat, akan menjadikan kita semakin bijak dalam bersikap. Pada akhirnya seonggok daging yang semakin menua ini semakin menyadari betapa ia begitu kecil dihadapan Tuhan.

Ada yang bilang, jangan engkau asyik bercengkrama dengan sastra. karena ia hanya akan membuatmu lalai dari mengingatNya. Bagiku sastra adalah cermin keindahan Tuhan. Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Lewat sastra aku belajar tentang kebermaknaan dari berbagai sudut pandang. Sastra adalah miniatur kecil sebuah pentas kehidupan yang menyuguhkan segudang pembelajaran hidup. Kita dituntut untuk mengambil pelajaran dari setiap scene yang dilakonkan.

Buku, film dan sastra. mereka sekedarlah kawan yang mengajarkanku banyak hal. Teman berbagi cerita.

(TTS: Chapter 3) The Teacher, I’m in Love


THE TEACHER, I’M IN LOVE

teacher[6]Jika ada satu hal yang harus saya syukuri dalam usia saya yang sudah mencapai angka 24 ini tentu adalah takdir manis menjadi seorang pendidik. Satu profesi yang sempat saya black list dalam kamus masa depan saya. Saya pernah berikrar dalam hati, bahwa saya tidak mau menjadi seorang GURU. Alasan konyol tersebut sudah pernah saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya. Sungguh ironis memang, apa yang dulu saya benar-benar hindari, tapi  kini seolah berbalik menyerang hati dan  pikiran saya. Semua berubah 360 180 derajat. Dari yang paling dihindari (bukan berarti saya membenci profesi ini) menjadi hal yang paling saya syukuri saat ini. mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa hati saya sudah terpaut 100% dengan dunia pendidikan, sedang saya baru 2 tahun menjadi seorang guru di institusi formal. Maka, saya lebih nyaman mengatakan bahwa saya bersyukur Allah pilihkan jalan ini untukku, karena saya mulai merasakan kenyamanan saat duduk  bersama bocah-bocah kecil yang diwajahnya terlukis cita-cita yang luarbiasa tentang masa depan. ada nilai-nilai pengabdian, kebersamaan dan keikhlasan dalam mendidik. Dan hati nurani saya berkata ya, pelajarilah. Masih banyak yang harus saya pelajari memang untuk menjadi pendidikan yang benar-benar mendidik. Dan saya bahagia ketika saya memperoleh banyak ilmu serta pengalaman dari orang-orang hebat di sekitar saya.

Continue reading “(TTS: Chapter 3) The Teacher, I’m in Love”

TAK BERGERAK SAMA DENGAN MATI


TAK BERGERAK SAMA DENGAN MATI

Apa jadinya jika air dimuka bumi ini tiba-tiba terhenti begitu saja? Air-air disungai terhenti. Air hujan berhenti berkondensasi. Air terjun tertahan di puncak gunung. Air mata tak lagi menetes. Segala zat berwujud cair berhenti bergerak. Cukup berhenti bergerak tidak hilang.

Keseimbangan bumi pada akhirnya terkoyak,hilir akan kehabisan pasokan air, kemarau berkepanjangan, akhirnya makhlukpun akan binasa.  Air akan menggenang, kemudian mengeruh, sirkulasi terhenti, perlahan lenyap akhirnya tak memberi manfaat.

Begitu pula pada manusia. Jika mereka tidak lagi mampu atau tidak mau untuk melakukan pergerakan, maka tidak ada manfaat yang bisa diberikan . karena berhenti sama dengan mati. Akal yang tidak mau digunakan untuk berpikir lama-lama tumpul kemudian berkarat akhirnya tak berguna. Mati. Lisan yang tidak mau digunakan untuk berkata kebaikan sama dengan mati. Hati yang tidak mau digerakkan untuk memaknai kehidupan pada akhirnya akan mati. Ingat tidak bergerak sama dengan mati. Hanya dengan bergerak, manusia bisa memberi manfaat setidaknya bagi diri sendiri. Seperti air, semakin jauh ia mengalir, semakin banyak kemungkinan manfaat yang bisa ia berikan bagi makhluk disekitarnya. Maka bergeraklah, lakukan tindakan-tindakan yang memberi kebaikan, tidak apa-apa memulai dari hal-hal kecil. selagi nafas masih terjaga dan ruh masih di dada, maka bergeraklah untuk kebaikan. Hidup sekali bermanfaat selamanya. Bravo!!!

Agar mimpi tidak sekedar impian


Aku bermimpi rumah kecilku penuh dengan buku-buku tua, mereka terbang, menari dan berputar di langit-langit kamarku. Aneh, barisan kata tiba-tiba keluar dari balik buku-buku itu seperti kunci lagu yang keluar dari petikan gitar melodi. Tak terdengar suara, hanya hembusan angin yang mengalirkan kata-kata indah menembus kepala kemudian  bermuara di otak kecilku.

Aku kembali bermimpi, tiba-tiba jari-jari ini begitu lincah menggores kata. Seperti aliran air yang begitu tenang menelusuri tanah kehidupan. Ratusan ide melayang-layang di atas kepala, alhasil berlembar-lembar kertas penuh dengan goresan tinta kata.

Continue reading “Agar mimpi tidak sekedar impian”

MY BEST FRIENDS


MY BEST FRIENDS

xbonnell6_1152

Tidak terasa, sudah 16 tahun lebih saya menjalin persahabatan dengannya. 16 tahun tentu bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah persahabatan. Lebih-lebih selama itu pula saya tinggal satu rumah dengannya, satu kamar malah. Seikat kisah yang tak bisa dianggap remeh, bahkan dipandang sebelah mata.

Saya tidak tahu persis, kapan perkenalan itu dimulai. Hanya seingatku, waktu itu saya berumur 4 tahun. Belum masuk bangku sekolah. Bapaklah yang memperkenalkan saya dengannya. Waktu pertama perkenalan, ia masih begitu sederhana, tampilannya biasa-biasa saja. Tapi sesuai juga sih untuk seumuran saya ketika itu. Meski demikian, ia selalu mampu menarik perhatian saya dengan cerita-ceritanya yang menarik dan baru. Itulah mengapa saya semakin jatuh hati kepadanya.

Continue reading “MY BEST FRIENDS”

TEKADKU HARI INI!!!!


MENDAHSYATKAN DIRI DENGAN TEKAD YANG DAHSYAT

maen-layangan3

Lembaran hitam masa lalu atau yang kini masih tertuang dalam perjalanan hidup Anda, sejatinya adalah sepenggal kisah hidup yang akan terus mencengkram jika ia di biarkan begitu saja. Seberapa kelam kisah hidup anda, dan seberapa jauh Anda telah terjatuh dalam lubang penuh nista, yang pasti itu semua hanyalah sebuah cerita yang tak mungkin bisa di ubah. Sehingga satu-satunya cara mengakhiri kisah kelam tersebut (agar tidak berlanjut) adalah dengan menutup rapat-rapat setiap lembar kisah yang terkoyak dan memulai kembali dengan lembaran baru, dengan semangat baru, dan tekad yang kuat untuk mewujudkan setiap mimpi indah Anda.

Continue reading “TEKADKU HARI INI!!!!”

PANDANGLAH LAUT, TEMUKAN MUTIARA DI SANA


PANDANGLAH LAUT, TEMUKAN MUTIARA DI SANA

pic046Siang itu langit tampak begitu bersahaja. Awan putih melayang mengikuti aliran udara. Sesaat mata ini menatap hamparan biru nan indah dengan ombak yang bergelombang. Meski matahari bersinar garang, namun tak membuat suhu udara siang itu terasa panas. Sebaliknya, angin bertiup sepoi-sepoi, seolah hendak melebur kegarangan sang mentari. Nun jauh disana, sekerumunan angsa putih terbang rendah hampir menyentuh permukaan laut. Entah apa yang dilakukan, tapi semakin lama, mereka semakin jauh dari pandangan mata. Makhluk-makhluk putih itu kian mencipta keindahan panorama laut.

Continue reading “PANDANGLAH LAUT, TEMUKAN MUTIARA DI SANA”

Hal Terpenting Dalam Menulis


Hal Terpenting Dalam Menulis

Muhammad Faudzil Adhim adalah salah satu penulis yang tulisannya banyak memberikan inspirasi bagi hidup saya, termasuk inspirasi tuk menjadi seorang penulis. Tulisannya yang inspiratif dan menggugah serta pilihan kata yang menyentuh jiwa membuat setiap orang yang membaca tulisannya akan berpikir dan merenung menyelami keindahan isinya. Sehingga tak jarang, buku-buku yang telah ia telurkan laris manis dipasaran alias menjadi best seller.
Continue reading “Hal Terpenting Dalam Menulis”