Buku, Film dan Sastra

Standar

buku sastraJika pada akhirnya aku hidup diantara deretan buku, itu adalah takdirku. Jika kemudian aku hanyut ditengah layar lebar yang menyuguhkan segudang cerita, itu pilihanku. Dan ketika aku terjebak di dalam dunia yang begitu asyik memaknai, merenungi dan menguliti sajak, aku lebih senang mengatakan bahwa ada yang menuntunku kearah sana.

Buku, film dan sastra adalah tiga hal yang membentuk karakter dan cara pandangku terhadap kehidupan. Mungkin lebih tepatnya, mengajarkanku memaknai setiap scene yang diciptakan oleh Tuhan. Ada makna yang mengalun lembut dari baris kata yang tertuang. Ada ketulusan untuk berbagi kisah dan kasih lewat lembar-lembar kertas. Ada cinta yang mengiringi setiap gores sajak yang mereka ukir. aku belajar tentang keikhlasan, keindahan, kejujuran dan  kebijaksanaan. Semakin banyak ilmu yang kita dapat, akan menjadikan kita semakin bijak dalam bersikap. Pada akhirnya seonggok daging yang semakin menua ini semakin menyadari betapa ia begitu kecil dihadapan Tuhan.

Ada yang bilang, jangan engkau asyik bercengkrama dengan sastra. karena ia hanya akan membuatmu lalai dari mengingatNya. Bagiku sastra adalah cermin keindahan Tuhan. Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Lewat sastra aku belajar tentang kebermaknaan dari berbagai sudut pandang. Sastra adalah miniatur kecil sebuah pentas kehidupan yang menyuguhkan segudang pembelajaran hidup. Kita dituntut untuk mengambil pelajaran dari setiap scene yang dilakonkan.

Buku, film dan sastra. mereka sekedarlah kawan yang mengajarkanku banyak hal. Teman berbagi cerita.

Kang Abik Bedah KCB di UMS

Standar

Habiburrahman El Shirazy Bedah KCB di UMS

Kang Abik, demikian ia lebih akrab disapa. Siapa sich yang gak kenal ama dai sekaligus novelis yang satu ini. Melejit lewat novel fenomenalnya, Ayat-ayat Cinta (AAC), yang kemudian semakin melambung setelah novel itu diangkat ke layar lebar. Yup, Habiburahman El Shirazy alias kang Abik, sekarang tengah sibuk melakukan perburuan manusia untuk menjadi pemeran utama dalam film terbarunya yang juga diadaptasi dari novel best sellernya, Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

Subhanallah, jika biasanya pribadi ini hanya mampu melihat keindahan tuturnya lewat rentetan kata yang begitu bermakna. Jika sebelumnya diri ini hanya mampu dibuat kagum oleh karya-karyanya yang begitu menyentuh dan menggugah jiwa. Dan jika biasanya diri ini hanya mampu menatapnya lewat layar kaca atau media massa. Tapi pagi itu Lanjutkan membaca