The story of Bathroom


NYANTRI ALA ANAK SOBRON ( Bagian ke dua )

Sebuah catatan kecil :

The story of Bathroom  

Sobron, hari ke dua.

 images4.jpgAlhamdulillah, hari pertama dapat saya jalani dengan lancar. Hari kedua, seperti biasa kegiatan yang saya jalani tidak jauh beda dengan hari pertama. Mungkin hanya materinya yang berbeda. Sholat lail menjadi pembuka pagi penuh aneka rasa ini, ngantuk, pusing, dingin, keringat dingin bercampur jadi satu, dengan di tambah sedikit bumbu ikhlas, kemudian di racik dalam setiap gerakan sholat. Subhanallah, it’s very delicious. He..he….( kayak panduan memasak saja )

Sholat lail selesai, sholat subuh menanti, diikuti tadarus al-Qur’an., ba’da tadarus para mahasiswa bergegas mengambil peralatan mandi. Hanya tuk mandi saja, para Mahasiswa meski berlomba-lomba tuk dapat jatah mandi duluan karena tempatnya yang memang terbatas sedang mahasiswa berjubel banyaknya. Saya pun ikut dalam perlombaan tersebut, Ada hal  lucu yang terjadi ketika itu. Jika mengingat-ingat kok jadi ingin tertawa sendiri. Ceritanya nih, usai tadarus selesai, saya langsung bergegas masuk ke asrama tuk mengambil peralatan mandi, seperti teman-teman sekelas yang lain saya pun berlari menuju kamar mandi, karena saya kira kelas yang lain belum pada selesai, saya hanya perlu berlomba dengan teman satu kelas. Tapi alangkah sialnya diri ini, karena ketika mau ke kamar mandi, duh banyak amat yang telah ngantri. Saya  langsung berlari ke lantai dua, lagi-lagi sama, banyak lagi yang antri. Dan kuteringat lantai tiga yang jarang terjadi antrian panjang. Tapi ketika kelantai atas apa yang terjadi? Huh, capek deh…dapatlah saudara tebak. Saya kembali turun kelantai bawah berharap antrian tidak lagi berjubel. Yah, tetap saja sama. Jadi mau tidak mau harus ikut antri, begitu aja kok repot. ……..Nah, ketika menunggu ini, tiba-tiba saja pikiran ku melesat dahsyat ke masjid, ya masjid. Dan, Laaariiiiii….. Alhamdulillah, ternyata tidak ada antrian yang terjadi seperti kamar mandi di asrama. Ya, paling nggak hari ini Saya telah mendapat pelajaran privat olah raga. ( cerita yang aneh he…he..)

Demikinlah saudara, cerita kamar mandi tersebut akhirnya berakhir seiring berjalannya waktu.  Selanjutnya? Saya kira tak ada yang terlalu menarik tuk diceritakan. Sama saja dengan hari pertama. Yang pasti seluruh aktivitas hari ini di akhiri dengan tidur malam. Jika ceritanya tidak menarik mohon dimaafkan ,ya!

Sobron, 10 Mei 2007

Published by

muhsinsakhi

lahir di sebuah perkampungan kecil di Boyolali tepatnya di desa Sambiroto, Sindon, Ngemplak, Boyolali. Mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan FKIP Bahasa Inggris. Saat ini berprofesi sebagai pengajar di SD Al-Azhar Syifa Budi Solo. Tergabung dalam komunitas menulis FLP Solo Raya. Beberapa karyanya dimuat dalam buku antologi bersama seperti “Kapur dan Papan: Kisah Menjadi Guru” (2015), “Dupa Mengepul Di Langit” (2015), “Kapur dan Papan: Mendidik dengan Hati” (2016), “Ensiklopedi Penulis Nusantara” (2016), “Ketika Buku Berkisah Tentang Aku” (2016), “Bayang Terang Pendidikan” (2018) dan “Kaki Api” (2018) serta buku solo yang baru terbit tahun ini berjudul “Catatan Di Balik Ruang” (2020)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s