(TTS: Chapter 10) Mendesign Kelas Inspiratif


membersihkan_kelasRuangan itu terlihat begitu sederhana dan nyaman. Buku-buku tertata rapi diatas loker. Dan sebuah almari tempat menyimpan perabot kelas serta beberapa tempelan gambar media pembelajaran dan kotak berisi mainan anak-anak. Selebihnya kosong. Tidak ada tempelan kata-kata bijak, tidak ada karya-karya anak yang dipajang. Semua tertata dengan begitu sederhana dan rapi.

Continue reading “(TTS: Chapter 10) Mendesign Kelas Inspiratif”

Advertisements

(TTS:Chapter 9) Momo, I’m In Love


cropped-cropped-cropped-cropped-img_56801“Momo dimana yanda?” tanya anak-anak siang itu. Pertanyaan yang mulai akrab terdengar di telinga saya sejak beberapa hari terakhir ini. Sejak kehadirannya di hari pertama saya mengajar ketika itu, sosok Momo mendadak menjadi artis sekolah yang selalu dicari-cari oleh siswa-siswi saya. Banyak anak-anak yang antusias dan ingin berkenalan dengannya. Mereka pun saling berebut untuk bercakap-cakap, mencium,  dan berjabat tangan.

Continue reading “(TTS:Chapter 9) Momo, I’m In Love”

Saya Menulis, Maka Saya Ada


13029727_868576606603855_1709210705183733101_o

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

-Rumah Kaca, h. 352-

(Pramoedya Ananta Toer)

Berkata-katalah, lambat laun menguap jua. Namun ketika engkau menuliskanya, sejatinya engkau tengah mendokumentasikan pemikiranmu dalam sebentuk tulisan yang tidak mudah menguap sebagaimana kata. Mungkin demikian yang hendak Pak Pram sampaikan lewat kutipan kalimat beliau di atas.

Continue reading “Saya Menulis, Maka Saya Ada”

Diorama Cinta Di Istana Tuhan


cover buku

Tanggal dan bulan yang terlupakan, tahun 1992

Diawali dengan scene bocah-bocah kampung yang berjalan cepat ditengah guyuran hujan yang semakin deras. Dengan tas plastik yang dijinjing di tangan, sedang tangan lainnya memegang payung kecil yang sudah bolong. Mereka berlari menerobos hujan. Ditengah jalan yang berbatu, kaki-kaki mungil itu menapakkan langkah. Rasa lega tergurat jelas di wajah polos mereka  ketika langkah kecil itu mulai menapaki setiap tangga kecil menuju serambi. Salam tulus do’a keselamatan mereka haturkan untuk sahabat-sahabat mereka yang lebih dahulu duduk melingkar di meja bundar yang sudah usang dan berlubang. Ditengah hujan yang semakin lebat salah seorang dari kelompok kecil itupun mulai membuka salam kemudian mengajak serta bocah-bocah kecil itu membuka juz amma, sebagian membawa al-Qur’an yang telah berubah warna. Mereka tidak tahu persis sejak kapan kitab-kitab itu mulai mengisi rak-rak kecil di surau itu. yang mereka tahu, kitab itu telah begitu usang. Lembar kertasnya berwarna kuning kecoklatan, dan disatukan dengan sehelai benang. Jika ditaksir kitab itu sudah berumur puluhan tahun.

Continue reading “Diorama Cinta Di Istana Tuhan”

(TTS: Chapter 8) A Teacher With The Thousand Names


name-story“Yanda ganteng” sapa gavril pagi itu. saya hanya tersenyum mendengar sapaan bocah usia 8 tahun tersebut.  Sapaan itu menjadi semakin sering kudengar, sejak ia duduk di bangku kelas 3. Lebih tepatnya ketika saya menjadi guru bahasa inggrisnya di kelas 3. Meski Saya sudah mengenalnya sejak ia duduk di bangku kelas 1, tapi waktu itu saya tidak mengenal betul anak itu. selain saya masih berstatus sebagai guru magang, juga karena saya cuma beberapa kali masuk kelasnya sekedar mendampingi guru bahasa inggris  yang mengajar ketika itu.

Continue reading “(TTS: Chapter 8) A Teacher With The Thousand Names”

Buku, Film dan Sastra


buku sastraJika pada akhirnya aku hidup diantara deretan buku, itu adalah takdirku. Jika kemudian aku hanyut ditengah layar lebar yang menyuguhkan segudang cerita, itu pilihanku. Dan ketika aku terjebak di dalam dunia yang begitu asyik memaknai, merenungi dan menguliti sajak, aku lebih senang mengatakan bahwa ada yang menuntunku kearah sana.

Buku, film dan sastra adalah tiga hal yang membentuk karakter dan cara pandangku terhadap kehidupan. Mungkin lebih tepatnya, mengajarkanku memaknai setiap scene yang diciptakan oleh Tuhan. Ada makna yang mengalun lembut dari baris kata yang tertuang. Ada ketulusan untuk berbagi kisah dan kasih lewat lembar-lembar kertas. Ada cinta yang mengiringi setiap gores sajak yang mereka ukir. aku belajar tentang keikhlasan, keindahan, kejujuran dan  kebijaksanaan. Semakin banyak ilmu yang kita dapat, akan menjadikan kita semakin bijak dalam bersikap. Pada akhirnya seonggok daging yang semakin menua ini semakin menyadari betapa ia begitu kecil dihadapan Tuhan.

Ada yang bilang, jangan engkau asyik bercengkrama dengan sastra. karena ia hanya akan membuatmu lalai dari mengingatNya. Bagiku sastra adalah cermin keindahan Tuhan. Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Lewat sastra aku belajar tentang kebermaknaan dari berbagai sudut pandang. Sastra adalah miniatur kecil sebuah pentas kehidupan yang menyuguhkan segudang pembelajaran hidup. Kita dituntut untuk mengambil pelajaran dari setiap scene yang dilakonkan.

Buku, film dan sastra. mereka sekedarlah kawan yang mengajarkanku banyak hal. Teman berbagi cerita.

NYANYIAN RINDU UNTUK SANG AYAH


father_daughterSore itu langit layuardi terlihat lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. lukisan alam terpahat indah di ufuk senja yang merekahkemerah-merahan. Sungguh pencampuran gradasi yang sempurna. cermin kesempurnaan Sang Pencipta. Pukul 04.00  waktu Indonesia bagian Barat, aku tiba di rumah. Setelah meletakkan tas kerja kemudian mengganti baju, kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Kulepas penat yang sedari tadi menggelayuti setiap sendi tubuh ini. kipas angin  yang kunyalakan, perlahan menguapkan tetes-tetes keringat yang menyumbul dari sela pori-pori.

Continue reading “NYANYIAN RINDU UNTUK SANG AYAH”

(TTS: Chapter 7) Fun Family Gathering


pantai sundakSabtu, 5 Januari 2013- Lagi-lagi mendung kembali menyelimuti kota solo yang mulai beraktivitas. Meski masih pagi, jalanan sepanjang Slamet Riyadi sudah penuh dengan kendaraan yang lalu lalang menuju tempat tujuan masing-masing. Pukul 06.30, saya dengan sepeda motor butut saya mulai melintasi jalanan kota solo dengan hati riang gembira. Alasannya sederhana, hari ini saya dan seluruh guru dan staf TA-TK-SD-SMP Al Azhar Syifa Budi Solo akan mengadakan refreshing ke Gunung Kidul. Daerah wisata yang menyuguhkan keindahan alam berupa pegunungan dan deretan pantai yang masih asri. Dan hari ini kami akan mengunjungi salah satu dari deretan pantai-pantai tersebut yaitu pantai Sundak. Acara bertajuk fun family gathering ini dimaksudkan sebagai sarana mempererat tali silaturahmi diantara keluarga besar Al-Azhar Syifa Budi Solo dan tentu saja sambil melepas penat setelah berbulan-bulan lamanya bergelut dengan pembelajaran di sekolah. Hmm…jadi gak sabar pingin segera menjamah pasir putih dan menikmati debur ombak yang menghempas pantai. He..he.. Continue reading “(TTS: Chapter 7) Fun Family Gathering”

(TTS:Chapter 6) Menjejak Langkah, Membangun Sportifitas


MENJEJAK LANGKAH, MEMBANGUN  SPORTIFITAS

Menanamkan-sikap-Sportifitas-pada-anakPagi itu Raffa kembali mengamuk.  Dengan keras ia menggebrak meja didepannya. Teman sebangkunya sontak kaget bukan kepalang. Ini sudah yang kesekian kalinya ia menunjukkan sikap tidak sportifnya.  Setiap kali  ada game atau lomba, jika ia atau timnya kalah, ia akan marah. Tidak menerima kekalahan. Ini sudah berlangsung sejak ia duduk dibangku kelas 1.  Akhirnya berbagai alasanpun dikeluarkannya.

Raffa adalah anak yang pandai. Bahkan bisa dibilang ia adalah anak terpandai di kelasnya. Nilai ulangan hariannya hampir semua perfect. Bahkan waktu  kelas 3 semester 1 nilai bahasa inggris dirapornya 100. Hasil akumulasi nilai harian, tugas, mid semester dan semester.  Dari kelas 1-3 ia selalu menjadi juara kelas.  Hal ini cukup untuk menyimpulkan bahwa ia adalah anak yang cerdas secara akademik.

Continue reading “(TTS:Chapter 6) Menjejak Langkah, Membangun Sportifitas”

(TTS: Chapter 5) Gadis Kecil yang Mengeja Cinta dalam Persahabatan


friends“Yanda, aku mau curhat” kata ama pagi itu. nama lengkapnya adalah Atiqah haya Amalia Salma. Dia adalah siswa kelas 3 SD Al Azhar Syifa Budi Solo. Dengan wajah sendu, dia mulai bercerita tentang masalah yang tengah dihadapi.  Masalah umum yang sering menghinggapi dunia anak hingga remaja. Yaitu masalah pertemanan.  Ini sudah yang kesekian kalinya dia mengeluhkan masalah yang sama.  Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mulai bercerita tentang sahabatnya yang tidak mau berteman dengannya. “Yanda,  Alya bisikin tarina agar tidak mau temenan sama aku.”  Ucapnya ketika itu. matanya mulai berkaca-kaca saat ia bercerita kalau Alya dan Tarina tidak mau diajak main. Ya, anak ini memang sering menangis kalau lagi ada masalah. Saya tidak langsung percaya begitu saja pada apa yang dikatakan Ama. Maka saya pun balik tanya “Ama, tahu dari siapa kalau Alya pengaruhi tarina agar tidak temenan sama ama?”

Continue reading “(TTS: Chapter 5) Gadis Kecil yang Mengeja Cinta dalam Persahabatan”

(TTS: Chapter 4) Raihan, The Master of Shakehand


shakehandSudah cukup lama saya ingin bercerita tentang anak ini. sejak pertama saya mengenalnya satu setengah tahun yang lalu. Saat ia masih duduk dibangku kelas 4 SD. Perawakannya cukup besar untuk anak kelas 4. Cara berjalan yang khas. Berkaca mata. Gaya rambut ditata kesamping. Kancing kerah bagian atas selalu dikancingkan. Mirip tokoh kutu buku yang sering digambarkan dalam sinetron atau film indonesia. Ya, sangat mirip. Bahkan cara berbicara dan gesture begitu berbeda dengan anak-anak yang lainnya. He’s so unique i mean. Tingkahnya aneh meski ia cukup lemah dalam bidang akademik. Ya, Raihan sempat tinggal kelas. Tahun lalu adalah tahun dimana ia harus menikmati hari-harinya dengan siswa-siswa yang baru namun dengan guru-guru yang sama. Dua tahun di bangku kelas 4 menjadikan dia sekarang bisa belajar sekelas dengan adik perempuannya. Raihan memang lemah dalam akademik. Tapi dia punya kelebihan yang jarang diperhatikan orang, atau bahkan mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang. He’s the special one with his unique characters. Thinks out of the box though sometimes make the others should think deeply to understand him. Cara berpikirnya sering kali membuat teman sebayanya bahkan guru-gurunya geleng-geleng kepala, bukan karena takjub, tapi karena aneh. Sulit dipahami, bahkan akupun terkadang harus berpikir cukup lama untuk memahami pola pikirnya. Ya, lagi-lagi dialah raihan. Bocah 12 tahun yang sekarang duduk di bangku kelas 5.

Continue reading “(TTS: Chapter 4) Raihan, The Master of Shakehand”

(TTS: Chapter 3) The Teacher, I’m in Love


THE TEACHER, I’M IN LOVE

teacher[6]Jika ada satu hal yang harus saya syukuri dalam usia saya yang sudah mencapai angka 24 ini tentu adalah takdir manis menjadi seorang pendidik. Satu profesi yang sempat saya black list dalam kamus masa depan saya. Saya pernah berikrar dalam hati, bahwa saya tidak mau menjadi seorang GURU. Alasan konyol tersebut sudah pernah saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya. Sungguh ironis memang, apa yang dulu saya benar-benar hindari, tapi  kini seolah berbalik menyerang hati dan  pikiran saya. Semua berubah 360 180 derajat. Dari yang paling dihindari (bukan berarti saya membenci profesi ini) menjadi hal yang paling saya syukuri saat ini. mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa hati saya sudah terpaut 100% dengan dunia pendidikan, sedang saya baru 2 tahun menjadi seorang guru di institusi formal. Maka, saya lebih nyaman mengatakan bahwa saya bersyukur Allah pilihkan jalan ini untukku, karena saya mulai merasakan kenyamanan saat duduk  bersama bocah-bocah kecil yang diwajahnya terlukis cita-cita yang luarbiasa tentang masa depan. ada nilai-nilai pengabdian, kebersamaan dan keikhlasan dalam mendidik. Dan hati nurani saya berkata ya, pelajarilah. Masih banyak yang harus saya pelajari memang untuk menjadi pendidikan yang benar-benar mendidik. Dan saya bahagia ketika saya memperoleh banyak ilmu serta pengalaman dari orang-orang hebat di sekitar saya.

Continue reading “(TTS: Chapter 3) The Teacher, I’m in Love”

(TTS: Chapter 2) Me and my Life: The Story of New Purple Tie


Me and my Life: The Story of New Purple Tie!

Pagi itu, senin 3 oktober 2011. Pukul 06.15 seperti biasa saya sudah siap dengan seragam mengajar saya, baju biru lengan panjang, celana panjang warna biru tua, peci hitam dan yang tak kalah penting dasi warna ungu yang baru saya beli hari jum’at sebelumnya. Setelah semuanya dirasa siap, tas, handphone dan dompet telah disaku, sayapun melajukan kendaraan dengan kecepatan rata-rata menuju kota solo yang sudah mulai ramai oleh kendaraan.

Hari senin adalah waktunya upacara bendera. Pagi itu jadwal peserta upacara adalah kelas 2,3 dan 5. Kegiatan upacara memang dibagi menjadi dua kelompok, senin pertama kelas 1, 4 dan 6 sedang senin berikutnya adalah kelas 2,3 dan 5. Hal ini dikarenakan luas lapangan sekolah yang tidak mampu menampung jumlah siswa yang begitu banyaknya.  Maka diambillah keputusan untuk membagi peserta upacara menjadi dua kelompok besar yang melaksanakan upacara secara bergiliran.

Continue reading “(TTS: Chapter 2) Me and my Life: The Story of New Purple Tie”

Seuntai Kata bernama ‘Kematian’


senandung kematian

Senin, 5 September 2011

12.30. Malam ini entah kenapa aku ingin mengingat mati. Satu fase kehidupan yang pasti akan dialami setiap makhluk yang bernyawa. Aku, engkau bahkan semut kecil sekalipun. Aku membayangkan diriku terbujur kaku, hanya berbalut selembar kain kafan putih. Tidak ada kemeja kesayangan, kalung, cincin, atau sepatu keluaran terbaru yang sering kita pakai.  Hanya sendiri, gelap dan sepi. Lambat laun, rupa yang kita bangga-banggakan saat masih muda dulu, perlahan remuk, membusuk, dipenuhi belatung yang mencari santapan makan malam. Hingga tinggal tersisa tulang belulang yang menunggu giliran untuk lenyap. Kembali kebentuk asal. Tanah.

Continue reading “Seuntai Kata bernama ‘Kematian’”