TAKUT? ANDA TIDAK SENDIRI

Standar

TAKUT? ANDA TIDAK SENDIRI.

Satu pertanyaan, apa yang paling anda takuti dalam hidup anda? Pertanyaan yang sederhana, ringan dan menarik tapi mengundang beragam jawaban.

Baiklah, mengapa tiba-tiba saya mengajukan pertanyaan tersebut? Usut punya usut, pertanyaan tersebut ternyata juga pernah di ajukan oleh sebuah lembaga di Amerika, The people’s Almanack book of lists terhadap 3000 warga Amerika. Dari hasil survey tersebut, didapat sebuah jawaban yang cukup mengejutkan dan mungkin tidak pernah terpikir dalam benak kita sebelumnya.

Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa berbicara di depan kelompok menempati urutan pertama dalam penelitian tersebut, dengan prosentase 40 %, hal yang paling ditakuti selanjutnya adalah ketinggian, serangga dan hama, masalah keuangan dan air yang dalam. Kematian juga masuk dalam beberapa jawaban tersebut.

Perlu diketahui pula bahwa penelitian ini tidak menggunakan alat Bantu apapun, seperti misalnya multiple choice, semacam panduan untuk mengarahkan para responden dalam memilih jawaban. Dengan kata lain, para responden bisa memilih kemungkinan jawaban yang bisa dipilih, sehingga memudahkan mereka dalam menjawab pertanyaan tersebut. Para responden langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang lebih luas dan bervariasi.

Akan berbeda kiranya jika survey tersebut dilakukan dengan menyediakan sebuah pilihan jawaban akan kemungkinan rasa takut yang bisa dipilih. Maka kemungkinan besar 90% para responden akan menjawab berbicara di depan khalayak.

Sebenarnya, seberapa menakutkannya sich berbicara di muka umum itu? Saya teringat pada peristiwa beberapa bulan yang lalu, dimana saat itu saya di minta tuk memberikan sambutan dalam sebuah acara yang saya pimpin. Acaranya semacam kajian keislaman yang diselenggarakan oleh bidang 1 Himpunan Mahasiswa Jurusan.

Masih teringat jelas bagaimana perasaan saya kala itu, saat akan memberikan sambutan kepada para hadirin, perasaan gugup, takut, minder, deg-deg kan tiba-tiba saja berbondong-bondong masuk dalam jiwaku. Perasaan semakin tidak karuan saat nama ini disebut oleh pembawa acara. Rasa gugup semakin besar, detak jantung semakin tidak terkendali, keringat dingin mulai menetes dari wajah saya. Dan tiba-tiba saja kepala terasa berat dan pusing.. Tapi alhamdulillah, saya dapat segera menguasai diri ini dan menyelesaikan tugas ini sampai selesai, mesti tidak sebaik seperti yang diharapkan.

Ada satu hal yang pasti yang membuat saya selalu merasa tidak percaya diri ketika berbicara, baik itu untuk sebuah forum atau bahkan sekedar bercapak-cakap dengan teman dekat. Dan satu hal itu adalah cara bicara saya yang terlalu cepat, gak jelas pengucapannya dan menggebu-gebu, tak jarang saya jadi gagap karena gugup. Saya tidak tahu mengapa saya mengalami hal ini. Sangat berbeda dengan cara bicara kebanyakan orang. Semakin gak jelas lagi, karena volume suara saya yang tergolong rendah, sehingga orang yang saya ajak bicara sering kali gak dengar dengan apa yang saya ucapkan.

Berbagai kekurangan ini, ternyata berdampak pada kondisi psikologis saya. Saya lebih suka menyendiri dan sering kali menghindari kerumunan yang di sana banyak berkumpul orang-orang yang saya kenal. Kondisi yang demikian ini berjalan sampai saya masuk keperguruan tinggi. Tak sedikit yang menilai saya sebagai orang yang pendiam dan cenderung mengisolasi diri alias gak mau bersosialisasi.

Saya menyadari akan kekurangan saya itu, dan saya pun sadar jika saya seperti itu terus, saya tidak akan mungkin bisa sukses dan malah akan semakin tertinggal dari yang lain. Saya akan menjadi orang yang tidak berguna dan tentu saja saya gak berbeda dengan orang yang mati.

Nah, saya mencoba melakukan perenungan dan introspeksi diri cukup lama, hingga akhirnmya tekad besar saya muncul. Bahwa saya harus berubah, saya tidak boleh seperti ini terus. Dengan berbekal tekad dan keinginan tuk berubah tersebut, saya mulai banyak membaca buku-buku tentang mengatasi rasa tidak percaya diri, bagaimana berkomunikasi yang efektif sampai tehnik-tehnik berbicara di depan umum. Tak jarang saya juga melakukan banyak sharing dengan teman-teman saya.

Alhasil, banyak info dan pengetahuan yang saya dapat dari buku-buku tersebut. Berbekal ilmu pengetahuan tersebut, saya mencoba menerapkan segala tips dan saran yang diberikan oleh buku dan hasil syaring dengan teman.

Yang pertama harus saya lakukan adalah menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri. Dan hal itu hanya bisa ditumbuhkan dengan keyakinan bahwa saya pasti bisa. Dari situlah perjalanan saya dimulai, saya mulai aktif diberbagai organisasi baik di kampus maupun di kampung. Kemudian saya juga berusaha tuk selalu aktif dalam mengikuti mata kuliah, sering bertanya atau sekedar memberi tanggapan. Dan Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, rasa takut dan minder itu perlahan mulai lepas dari jiwa saya. Saya menjadi lebih mudah tuk bergaul dengan orang lain. Dan yang pasti saya tidak mesti takut lagi tuk menyapa orang yang saya kenal.

Hasil survey tersebut juga menjadi motivasi tersendiri bagi saya, paling tidak saya tahu bahwa saya tidak sendiri menghadapi rasa takut ini. Saya bukanlah satu-satunya yang merasakan takut saat berbicara di depan umum. Saya bagian dari umat manusia yang merasakan suatu rasa yang alami, takut. Bahkan seorang Cicero, salah satu filsuf besar dunia, yang hidup pada abad pertama SM, menulis bahwa semua public speaking yang baik ditandai oleh rasa ketakutan

Ibarat sehat, kita tidak akan pernah tahu bahwa sehat itu adalah sebuah nikmat, jika kita tidak pernah merasakan rasa sakit. Jadi rasa takut itu adalah bagian dari rumusan tuk meraih sukses.
Sayapun berkeyakinan bahwa jika orang lain bisa, saya pun tentunya juga harus bisa. Bukankah kita diciptakan dari jenis yang sama, makanan kita pun tak jauh beda, bahkan ada yang sama. Jadi tidak perlu ada yang harus ditakutkan.

Dari sinilah saya memperoleh pelajaran yang sangat berharga tentang arti sebuah rasa takut. Bahwa rasa takut bagian dari sifat alami manusia dan merupakan wujud kesempurnaan seorang manusia yang diberikan nikmat berupa rasa. Kesuksesan ada pada diri saya, ketika saya ingin sukses, maka saya mesti berusaha dan yakin bahwa saya bisa. Sama halnya jika saya ingin menjadi pembicara yang handal dan baik, maka tidak ada cara lain selain berusaha dengan melatih dan membiasakan diri tuk berbicara setiap hari dan yakin akan kemampuan saya. Sukses saya, sayalah yang menentukan.

Terakhir, tak lupa tuk selalu berdo’a kepada Sang Pemberi Rasa , agar apa yang kita inginkan dan kita cita-citakan dapat dicapai dengan baik dan tentunya memperoleh ridho Allah Ta’ala. Sekali lagi, jadikan kekurangan sebagai pemompa motivasi tuk membuktikan diri bahwa kita juga bisa tuk meraih sukses seperti yang orang lain raih. Amin…

One thought on “TAKUT? ANDA TIDAK SENDIRI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s