senandung kematian
12.30. Malam ini entah kenapa aku ingin mengingat mati. Satu fase kehidupan yang pasti akan dialami setiap makhluk yang bernyawa. Aku, engkau bahkan semut kecil sekalipun. Aku membayangkan diriku terbujur kaku, hanya berbalut selembar kain kafan putih. Tidak ada kemeja kesayangan, kalung, cincin, atau sepatu keluaran terbaru yang sering kita pakai. Hanya sendiri, gelap dan sepi. Lambat laun, rupa yang kita bangga-banggakan saat masih muda dulu, perlahan remuk, membusuk, dipenuhi belatung yang mencari santapan makan malam. Hingga tinggal tersisa tulang belulang yang menunggu giliran untuk lenyap. Kembali kebentuk asal. Tanah.
Malam ini kugerakkan jemariku diatas tombol keyboard warna putih, kubiarkan menari mengikuti irama alam pikiranku. Mengalun lembut bagai simfoni malam yang menyelimuti makhluk dalam tidur lelapnya. Aku terdiam beberapa saat, melayangkan imajinasiku terbang mencari kebijaksanaan di alam bebas. kejujuran mulai dipertanyakan, keadilan menjadi bahan permainan, sopan santun menjadi begitu asing ditengah hiruk pikuk hedonisme. Ah, kata ini juga terasa asing, tak berguna karena kami tak banyak mengerti. Sederhananya kita telah dibutakan oleh dunia. Tuhan adalah materi. Tuhan adalah yang menawarkan kenikmatan tak berbatas, dan nafsu adalah raja. Seperti itulah dunia kita sekarang. Jangan heran…..
Terkadang saya berpikir, mengapa saya harus mencemaskan dunia sedang dunia hanyalah persinggahan sementara. Ibarat seorang musafir, kita adalah orang asing yang melakukan pengembaraan panjang dan mampir sejenak kerumah warga untuk melepas penat dan meminta seteguk air pelepas dahaga. Setelah itu kita harus melanjutkan perjalanan. Karena perjalanan hidup kita tidaklah singkat, ada beberapa tempat yang harus kita singgahi. Kehidupan sebenarnya adalah setelah kematian kita didunia. Saat jasad kita mulai rapuh, tak berdaya akhirnya kita biarkan terbujur kaku di bawah tanah, maka estafet tetap akan dilanjutkan oleh ruh kita yang harus melewati berbagai zona kehidupan sampai tiba di dua pintu yang bernama surga dan neraka.
Padamu buku kecilku
Kutorehkan kisahku
Pada tiap lembar yang tergores cerita
Malam ini kembali ku baca
Dalam sujud sunyiku
Impuls-impuls syarafku berpacu
Menembus dinding-dinding waktu
Membuka catatan sejarah pilu
Tempo dulu
Lanjut membaca
TAK BERGERAK SAMA DENGAN MATI
Apa jadinya jika air dimuka bumi ini tiba-tiba terhenti begitu saja? Air-air disungai terhenti. Air hujan berhenti berkondensasi. Air terjun tertahan di puncak gunung. Air mata tak lagi menetes. Segala zat berwujud cair berhenti bergerak. Cukup berhenti bergerak tidak hilang.
Keseimbangan bumi pada akhirnya terkoyak,hilir akan kehabisan pasokan air, kemarau berkepanjangan, akhirnya makhlukpun akan binasa. Air akan menggenang, kemudian mengeruh, sirkulasi terhenti, perlahan lenyap akhirnya tak memberi manfaat.
Begitu pula pada manusia. Jika mereka tidak lagi mampu atau tidak mau untuk melakukan pergerakan, maka tidak ada manfaat yang bisa diberikan . karena berhenti sama dengan mati. Akal yang tidak mau digunakan untuk berpikir lama-lama tumpul kemudian berkarat akhirnya tak berguna. Mati. Lisan yang tidak mau digunakan untuk berkata kebaikan sama dengan mati. Hati yang tidak mau digerakkan untuk memaknai kehidupan pada akhirnya akan mati. Ingat tidak bergerak sama dengan mati. Hanya dengan bergerak, manusia bisa memberi manfaat setidaknya bagi diri sendiri. Seperti air, semakin jauh ia mengalir, semakin banyak kemungkinan manfaat yang bisa ia berikan bagi makhluk disekitarnya. Maka bergeraklah, lakukan tindakan-tindakan yang memberi kebaikan, tidak apa-apa memulai dari hal-hal kecil. selagi nafas masih terjaga dan ruh masih di dada, maka bergeraklah untuk kebaikan. Hidup sekali bermanfaat selamanya. Bravo!!!
“kamu mau ambil jurusan apa sin?” Tanya teman satu kelasku saat SMA.
“Yang pasti aku tidak mau jadi guru, aku mau ambil jurusan arsitek atau farmasi.”kataku penuh keyakinan ketika itu, seolah berusaha menepis keraguan yang ada dalam diri.
Saat itu kami baru saja selesai UN, seperti kebanyakan siswa lulusan SMA, kami mulai memperbincangkan jurusan yang akan kami ambil seusai lulus SMA. Teman-temanku pun mengutarakan jurusan yang akan mereka ambil. Ada yang pingin ambil jurusan managemen ekonomi, bahasa inggris, farmasi, tehnik mesin, bahkan beberapa teman kami sudah ada yang diterima di PTN lewat jalur PMDK.


























